Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nazila Lailatul Fitria

Gen Z Boros atau Memang Dipaksa Konsumtif oleh Ekonomi Digital?

Ekonomi Syariah | 2026-05-24 14:40:29

 

Belanja hari ini, bayar bulan depan. Satu klik checkout, barang langsung dikirim. Diskon muncul hampir setiap jam, notifikasi promo terus berdatangan, sementara media sosial dipenuhi gaya hidup yang terlihat “normal” untuk diikuti. Di tengah situasi seperti itu, muncul satu tuduhan yang semakin sering diarahkan kepada generasi muda: Gen Z dianggap semakin boros dan sulit mengelola keuangan.
Namun benarkah persoalannya sesederhana itu?

Banyak orang melihat kebiasaan membeli kopi mahal, mengikuti tren fesyen, hingga penggunaan paylater sebagai bukti bahwa generasi muda terlalu konsumtif. Di media sosial, tidak sedikit komentar yang menyebut Gen Z lebih suka mengejar gaya hidup dibanding memikirkan masa depan finansial. Akan tetapi, apakah perilaku tersebut murni lahir dari pilihan pribadi? Atau justru ada sistem ekonomi digital yang secara aktif mendorong masyarakat untuk terus membeli?

Pertanyaan ini penting karena pola konsumsi hari ini tidak lagi bekerja seperti satu dekade lalu. Dulu, seseorang harus datang ke toko, membawa uang tunai, lalu mempertimbangkan pembelian secara lebih sadar. Kini, proses itu dipangkas menjadi sangat singkat. Platform digital dirancang agar keputusan membeli terjadi secepat mungkin, bahkan sebelum seseorang sempat berpikir panjang.
Fenomena ini terlihat jelas dari berkembangnya layanan paylater dan pinjaman online. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, jumlah pengguna layanan pembiayaan digital terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan usia muda. Di sisi lain, platform e-commerce dan media sosial juga semakin agresif menawarkan personalisasi iklan berdasarkan kebiasaan pengguna. Artinya, seseorang tidak hanya melihat barang yang ia butuhkan, tetapi juga barang yang “mungkin ingin” ia beli.

Di titik inilah ekonomi digital bekerja bukan sekadar sebagai sarana transaksi, melainkan sebagai mesin pembentuk perilaku konsumsi. Ironisnya, masyarakat sering kali hanya menyalahkan individu tanpa melihat bagaimana sistem tersebut dirancang. Ketika anak muda terlilit utang konsumtif, respons yang muncul biasanya sebatas, “Kurang bijak mengatur uang.” Padahal, aplikasi digital modern memang dibangun untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin dan mendorong aktivitas belanja berulang. Flash sale, gratis ongkir, cashback, hingga notifikasi psikologis bukan sekadar fitur biasa, melainkan strategi ekonomi berbasis perilaku.

Lalu, apakah ini berarti Gen Z tidak memiliki tanggung jawab atas keputusan finansialnya? Tentu tidak sesederhana itu pula.
Tanggung jawab pribadi tetap penting. Literasi keuangan tetap dibutuhkan. Namun menyederhanakan persoalan hanya menjadi soal “mental boros” juga merupakan cara pandang yang kurang adil. Sebab, generasi muda hari ini hidup dalam tekanan ekonomi dan sosial yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Harga kebutuhan hidup meningkat, lapangan kerja semakin kompetitif, sementara media sosial menciptakan standar gaya hidup yang terus bergerak. Anak muda tidak hanya menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga tekanan sosial untuk terlihat sukses, produktif, dan mengikuti tren. Dalam situasi seperti itu, konsumsi sering kali berubah menjadi alat untuk mendapatkan pengakuan sosial.

Tidak mengherankan jika budaya “flexing” tumbuh begitu cepat di era digital. Barang tidak lagi dibeli semata karena fungsi, tetapi juga simbol identitas. Sepatu, gawai, kopi, hingga tempat nongkrong menjadi bagian dari citra diri yang dipamerkan di ruang digital. Akibatnya, konsumsi tidak lagi bersifat kebutuhan, melainkan bagian dari kompetisi sosial yang berlangsung setiap hari.

Masalahnya, ekonomi digital justru memperoleh keuntungan besar dari kondisi tersebut. Semakin lama seseorang berada di aplikasi, semakin besar kemungkinan ia membeli sesuatu. Semakin sering seseorang merasa tertinggal secara sosial, semakin mudah ia terdorong untuk konsumtif. Dalam konteks ini, perilaku boros bukan hanya persoalan moral individu, tetapi juga konsekuensi dari ekosistem digital yang terus memonetisasi perhatian dan emosi manusia.

Dari sudut pandang ekonomi pembangunan, situasi ini layak menjadi perhatian serius. Pembangunan ekonomi seharusnya tidak hanya diukur dari meningkatnya transaksi digital atau pertumbuhan industri teknologi, tetapi juga dari kualitas perilaku ekonomi masyarakatnya. Jika pertumbuhan ekonomi digital justru menghasilkan generasi muda yang semakin rentan terhadap utang konsumtif, maka ada pertanyaan besar yang perlu diajukan: pembangunan ini sebenarnya sedang membawa masyarakat ke arah mana?

Di sisi lain, tidak semua layanan digital harus dipandang negatif. Pinjaman online dan paylater juga dapat membantu akses pembiayaan, terutama bagi masyarakat yang sebelumnya sulit menjangkau layanan keuangan formal. Persoalannya bukan pada teknologinya semata, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut digunakan dan diatur.

Karena itu, solusi terhadap masalah ini tidak cukup hanya berupa imbauan untuk “hidup hemat.” Literasi finansial memang penting, tetapi regulasi terhadap praktik ekonomi digital juga sama pentingnya. Pemerintah, platform digital, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu sama-sama memikirkan bagaimana menciptakan ekosistem digital yang lebih sehat, bukan sekadar lebih menguntungkan secara bisnis.

Pada akhirnya, menyebut Gen Z sebagai generasi boros mungkin terdengar mudah. Namun realitasnya jauh lebih kompleks. Generasi muda hari ini hidup dalam sistem ekonomi yang secara aktif mendorong konsumsi cepat, impulsif, dan berulang. Maka sebelum sepenuhnya menyalahkan individu, mungkin kita perlu bertanya lebih jauh: apakah masyarakat benar-benar bebas memilih, atau justru sedang diarahkan untuk terus membeli tanpa henti?

By: Nazila Lailatul Fitria Mahasiswa Ekonomi Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image