Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Desa yang Menyimpan Suara

Ngariung | 2026-05-22 09:09:51
Ilustrasi

Kabut tipis masih menggantung di atas sawah ketika suara cangkul berhenti lebih cepat dari biasanya. Tanah basah itu tetap diam. Angin hanya membawa bau lumpur yang dingin. Di pematang, seorang lelaki menatap jauh ke arah jalan desa.

“Asep, kamu tidak jadi berangkat ke kota?” tanya Pak Rahmat pelan.

Asep menghela napas. “Berangkat ke mana, Pak? Di sana juga belum tentu ada kerja.”

Pak Rahmat mengangguk pelan. Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap sawah yang tak lagi seramai dulu. Dulu, pagi seperti ini penuh suara. Kini, yang terdengar hanya percakapan pendek yang menyimpan banyak makna.

“Kalau di desa?” lanjut Pak Rahmat.

Asep tersenyum tipis. “Di desa, ya begini. Ada, tapi tidak cukup.”

Percakapan itu terasa sederhana. Namun, di baliknya, tersimpan kenyataan yang luas. Data menunjukkan sekitar 1,79 juta warga Jawa Barat masih belum bekerja. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia hidup dalam wajah-wajah seperti Asep. Ia terasa dalam diamnya pagi di desa. Bahkan, tingkat pengangguran di perdesaan meningkat dari 4,40 persen menjadi 5,12 persen per Februari 2026. Sebagian warga memilih tetap tinggal karena peluang di kota tidak lagi menjanjikan.

Siang hari, Asep duduk di warung kecil dekat balai desa. Radio tua memutar berita tentang pertumbuhan ekonomi. Suaranya optimistis. Angkanya meningkat. Grafiknya naik.

Pak Rahmat kembali membuka percakapan. “Kalau ekonomi tumbuh, harusnya kerja juga banyak, ya, Sep?”

Asep menatap gelas tehnya. “Harusnya begitu, Pak. Tapi kenyataannya tidak selalu sama.”

Seorang ibu yang duduk di sebelah mereka ikut menimpali. “Jalan memang sudah bagus. Pabrik juga ada. Tapi tidak semua orang bisa masuk ke sana.”

Pak Rahmat mengangguk. “Berarti ada yang belum nyambung.”

Asep menatap lurus ke depan. “Mungkin bukan salah niatnya, Pak. Tapi caranya perlu diperhalus.”

Kalimat itu menggantung di udara. Tidak keras. Tidak menuduh. Namun terasa dalam.

Sore datang perlahan. Langit berubah keemasan. Asep berjalan pulang sambil melewati lahan kosong di ujung desa. Ia berhenti sejenak.

“Sayang kalau tanah ini dibiarkan,” gumamnya.

Pak Rahmat yang menyusul dari belakang menjawab, “Dulu, orang-orang bisa hidup dari tanah seperti ini.”

Asep menoleh. “Sekarang?”

“Sekarang, kita butuh lebih dari sekadar tanah. Kita butuh arah.”

Percakapan itu seperti membuka ruang refleksi. Pembangunan memang berjalan. Jalan dibangun. Akses dibuka. Namun, tidak semua orang masuk ke dalam arusnya. Sebagian tetap berdiri di pinggir. Mereka melihat perubahan, tetapi belum sepenuhnya merasakan manfaatnya.

Di titik ini, pertanyaan muncul dengan sendirinya. Bagaimana agar pembangunan tidak hanya terlihat, tetapi juga terasa? Bagaimana agar desa tidak hanya menjadi lokasi, tetapi juga menjadi pelaku?

Islam memandang persoalan ini dengan cara yang utuh. Rasulullah saw. bersabda, “Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR. Bukhari no. 7138 dan Muslim no. 1829). Hadis ini menegaskan bahwa kesejahteraan bukan sekadar hasil, tetapi amanah.

Asep pernah mendengar hal itu dari pengajian di masjid.

“Kalau begitu,” katanya suatu malam kepada Pak Rahmat, “pemimpin memang harus memastikan semua orang punya jalan untuk hidup.”

Pak Rahmat tersenyum. “Bukan hanya jalan, tapi juga kesempatan.”

Al-Qur’an pun memberi arah yang jelas: “Agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (QS. Al-Hasyr: 7). Ayat ini mengajarkan pentingnya pemerataan. Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan perlu diiringi dengan distribusi yang adil.

Asep kembali menatap lahan kosong tadi. “Kalau tanah ini bisa dikelola, mungkin bisa jadi kerja untuk banyak orang.”

Pak Rahmat menjawab pelan, “Rasulullah saw. pernah bersabda, ‘Siapa yang menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya’ (HR. Tirmidzi no. 1378). Itu tanda bahwa peluang harus dibuka, bukan ditutup.”

Malam turun. Lampu-lampu rumah mulai menyala. Desa kembali tenang. Namun kali ini, keheningan terasa berbeda. Ia tidak hanya menyimpan kegelisahan, tetapi juga harapan.

Asep duduk di teras rumahnya. Ia memandang jalan yang kini sudah beraspal halus.

“Jalan ini bagus, Pak,” katanya ketika Pak Rahmat lewat.

“Bagus,” jawab Pak Rahmat.

“Sekarang tinggal memastikan ke mana jalan ini membawa kita.”

Pak Rahmat berhenti sejenak. Ia tersenyum. “Ke arah yang lebih baik, kalau kita mau memperbaiki cara kita berjalan.”

Kalimat itu sederhana. Namun ia mengandung makna yang dalam. Refleksi ini tidak bertujuan menyalahkan. Ia lahir dari kepedulian untuk melihat kembali arah, bukan untuk menolak, tetapi untuk menyempurnakan.

Desa tidak kekurangan potensi. Desa hanya menunggu sentuhan yang tepat. Ketika kesempatan terbuka merata, ketika kebijakan menyentuh hingga ke akar, maka desa tidak lagi menjadi tempat bertahan. Ia akan kembali menjadi tempat tumbuh.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image