Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Alfiyyah Saaddi

Hakikat Syukur dalam Islam: Lebih dari Sekadar 'Alhamdulillah'

Agama | 2026-05-21 12:20:53
https://pin.it/7ybPzdibY


Dalam Islam, syukur adalah fondasi utama keimanan. Secara syariat, bersyukur berarti mengakui nikmat Allah melalui tiga hal: lisan (mengucapkan kalimatAlhamdulillah), hati (meyakini sumber nikmat), dan perbuatan (menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan). Janji Allah sangat jelas dalam Surah Ibrahim ayat 7: "Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."

Namun, jika kita menyelami kacamata Tasawuf, syukur memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih dalam. Para sufi memandang syukur bukan sekadar reaksi atas datangnya kesenangan. Hakikat syukur dalam tasawuf adalah beralihnya pandangan batin kita dari nikmat (pemberian itu sendiri) menuju kepada Al-Mun'im (Sang Pemberi Nikmat).

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puncak kesyukuran adalah ketika seseorang menyadari sepenuhnya bahwa tak ada satu pun yang ia miliki murni karena usahanya, melainkan kemutlakan kasih sayang Allah. Lebih jauh lagi, para ahli tasawuf mengajarkan untuk tetap memanjatkan syukur bahkan di saat ditimpa musibah. Bagi seorang sufi, ujian adalah bentuk "sapaan cinta" Allah untuk membersihkan ego dan mengangkat derajat ruhani hamba-Nya. Mereka tidak lagi disibukkan oleh rasa kehilangan, melainkan terpesona oleh kehendak Dzat yang menakdirkannya.

Pada akhirnya, bersyukur dalam konsep Islam dan tasawuf mengajarkan kita satu hal esensial: ketenangan jiwa tidak didapat dari seberapa banyak materi yang kita genggam, melainkan dari seberapa tajam mata hati kita mampu melihat kehadiran Allah dalam setiap keadaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image