Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M.Rifaldy

Di Antara Sekolah Desa dan Kebijakan Pendidikan: Catatan Mahasiswa KKN dari Lampung

Eduaksi | 2026-05-21 09:59:25

Pengalaman mengikuti Kuliah Khidmah Mahasiswa (KKM) Universitas PTIQ Jakarta di salah satu daerah di Lampung selatan memberikan saya banyak pelajaran yang sebelumnya tidak benar-benar saya rasakan di bangku perkuliahan. Selama ini, pendidikan sering dibahas melalui teori, seminar, maupun diskusi akademik. Namun ketika turun langsung ke sekolah-sekolah di desa, saya menyadari bahwa realitas pendidikan Indonesia jauh lebih kompleks dibanding apa yang terlihat di atas kertas.

Setiap pagi saya melihat anak-anak datang ke sekolah dengan penuh semangat. Ada yang berjalan kaki cukup jauh, ada yang membawa tas lama yang sudah mulai rusak, bahkan ada yang tetap berangkat meski fasilitas belajar mereka sangat terbatas. Di tengah segala kekurangan itu, mereka tetap memiliki keinginan besar untuk belajar.

Hal sederhana seperti ini justru membuat saya memahami bahwa pendidikan di Indonesia masih menyimpan banyak persoalan mendasar yang perlu diperhatikan secara serius.Beberapa tahun terakhir, pemerintah terus melakukan berbagai perubahan kebijakan pendidikan. Mulai dari penerapan Kurikulum Merdeka, digitalisasi pembelajaran, penggunaan platform belajar daring, hingga sistem asesmen baru.

Tujuannya tentu baik, yaitu menciptakan pendidikan yang lebih fleksibel, kreatif, dan mengikuti perkembangan zaman. Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua sekolah memiliki kesiapan yang sama untuk menjalankan perubahan tersebut.Saat mengajar di sekolah desa selama KKM, saya melihat sendiri bagaimana keterbatasan fasilitas masih menjadi hambatan utama. Akses internet sering tidak stabil, media pembelajaran sangat terbatas, dan sebagian sekolah belum memiliki sarana teknologi yang memadai.

Dalam kondisi seperti ini, pembelajaran berbasis digital sering kali sulit diterapkan secara maksimal.Di kota besar, pembahasan pendidikan sudah mulai mengarah pada penggunaan teknologi canggih, kecerdasan buatan, dan metode pembelajaran modern. Sementara itu, di beberapa daerah, masih ada sekolah yang harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar seperti buku bacaan, ruang belajar yang layak, dan fasilitas pendukung lainnya.

Perbedaan kondisi ini menunjukkan bahwa pemerataan pendidikan di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.Menurut saya, kebijakan pendidikan seharusnya tidak hanya dibuat berdasarkan kondisi sekolah-sekolah di perkotaan. Pemerintah perlu melihat langsung bagaimana keadaan pendidikan di desa dan daerah terpencil. Sebab Indonesia bukan hanya wilayah yang memiliki akses lengkap dan fasilitas modern, tetapi juga terdiri dari banyak daerah yang masih menghadapi keterbatasan.Selain persoalan fasilitas, saya juga melihat bagaimana guru-guru di daerah memiliki perjuangan yang luar biasa. Mereka tetap mengajar dengan penuh kesabaran meskipun sarana belajar tidak selalu mendukung.

Bahkan tidak sedikit guru yang harus menjalankan banyak peran sekaligus, mulai dari mengajar, mengurus administrasi sekolah, hingga mendampingi siswa secara personal.Sayangnya, dedikasi besar tersebut terkadang belum diimbangi dengan perhatian yang cukup. Masih banyak guru honorer yang menerima penghasilan minim, pelatihan yang belum merata, serta beban administrasi yang cukup berat. Padahal guru memiliki peran utama dalam menentukan kualitas pendidikan. Sebagus apa pun kurikulum yang dibuat, hasilnya tidak akan maksimal jika tenaga pendidiknya tidak mendapatkan dukungan yang layak.Di sisi lain, perkembangan teknologi dan media sosial juga membawa tantangan baru dalam dunia pendidikan. Anak-anak saat ini tumbuh di tengah arus informasi yang sangat cepat.

Mereka lebih akrab dengan telepon genggam dibandingkan buku bacaan. Hal ini tentu tidak sepenuhnya salah, karena teknologi memang bagian dari perkembangan zaman. Namun tanpa pengawasan dan pendampingan yang baik, teknologi juga dapat memengaruhi minat belajar dan pola pikir siswa.Karena itu, sekolah saat ini tidak cukup hanya menjadi tempat menyampaikan materi pelajaran. Sekolah juga harus menjadi ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemampuan berpikir kritis. Pendidikan tidak hanya soal nilai akademik, tetapi juga bagaimana membentuk generasi yang memiliki empati, etika, dan kepedulian sosial.

Selama KKM, saya belajar bahwa pendekatan yang paling dibutuhkan anak-anak sebenarnya adalah perhatian dan kedekatan emosional. Banyak siswa terlihat lebih percaya diri ketika diberikan apresiasi sederhana. Mereka senang ketika diajak belajar dengan cara yang menyenangkan dan merasa dihargai ketika pendapatnya didengarkan.Hal-hal kecil seperti itulah yang terkadang terlupakan dalam sistem pendidikan kita. Pendidikan terlalu sering fokus pada target nilai, angka, dan capaian administratif, tetapi kurang memperhatikan kondisi psikologis dan kebutuhan siswa. Padahal kenyamanan belajar memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak.

Pengalaman mengajar di desa juga membuat saya sadar bahwa potensi anak-anak Indonesia sebenarnya sangat besar. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan semangat belajar yang luar biasa. Namun sayangnya, tidak semua mendapatkan kesempatan dan fasilitas yang sama untuk berkembang.Karena itu, pemerataan kualitas pendidikan harus menjadi prioritas utama.

Pemerintah tidak cukup hanya membuat kebijakan baru, tetapi juga harus memastikan bahwa seluruh sekolah memiliki kemampuan untuk menjalankan kebijakan tersebut. Jangan sampai perubahan pendidikan hanya terasa di kota besar sementara sekolah-sekolah di desa masih tertinggal jauh.Selain itu, menurut saya pendidikan juga perlu lebih dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Banyak siswa di daerah yang memiliki keterbatasan ekonomi sehingga akses terhadap pendidikan berkualitas menjadi tidak mudah.

Dalam kondisi seperti ini, negara harus benar-benar hadir untuk memastikan bahwa pendidikan dapat diakses oleh semua anak tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun tempat tinggal. KKM memberikan saya pemahaman bahwa pendidikan bukan sekadar urusan sekolah dan pemerintah. Lingkungan, keluarga, masyarakat, hingga mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk ikut terlibat dalam membangun pendidikan yang lebih baik.

Kehadiran mahasiswa KKM memang hanya sementara, tetapi pengalaman bersama masyarakat dan siswa di desa memberikan pelajaran yang sangat berharga.Saya menyadari bahwa pendidikan yang baik tidak selalu bergantung pada fasilitas mewah atau teknologi canggih. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu membuat anak merasa didukung untuk terus belajar dan berani memiliki cita-cita.Foto bersama anak-anak sekolah selama KKM di Lampung menjadi pengingat bagi saya bahwa di balik setiap kebijakan pendidikan, ada banyak anak yang sedang menaruh harapan terhadap masa depan mereka.

Mereka mungkin tidak memahami istilah kebijakan pendidikan atau transformasi kurikulum, tetapi mereka tahu bahwa sekolah adalah jalan untuk mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik.Karena itu, kebijakan pendidikan seharusnya tidak hanya berorientasi pada perubahan sistem, tetapi juga benar-benar menyentuh kebutuhan nyata di lapangan. Pemerintah perlu lebih banyak mendengar suara guru, siswa, dan masyarakat di daerah agar kebijakan yang dibuat tidak hanya terlihat baik secara konsep, tetapi juga bisa diterapkan secara nyata.

Pada akhirnya, pengalaman KKM di Lampung mengajarkan saya bahwa masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh keputusan di pusat pemerintahan, tetapi juga oleh bagaimana negara memperhatikan sekolah-sekolah kecil di pelosok daerah. Sebab di ruang-ruang kelas sederhana itulah harapan banyak anak Indonesia sedang tumbuh dan menunggu untuk diperjuangkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image