Krisis Keimanan di Era Akhir Zaman
Agama | 2026-05-12 06:57:46Abdul Hadi tamba.
Krisis keimanan di era akhir zaman.
Dalam pandangan kami krisis keimanan di era akhir zaman merupakan dampak langsung dari materialisme yang akut, dangkalnya pemahaman agama, dan hilangnya penghayatan batiniah (spiritual).
Pandangan kami menawarkan solusi berupa penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan mujahadah (pengendalian diri) untuk membentengi keimanan dari fitnah yang merajalela.
Berikut adalah uraian pandangan kami mengenai krisis iman di akhir zaman:.
Pandangan kami terhadap Krisis Akhir Zaman Krisis Materialisme & Kekosongan Jiwa:
Kami melihat manusia modern terjebak dalam kejar-kejaran materi yang menghilangkan kebutuhan spiritual, sehingga menimbulkan keputusasaan eksistensial.
Pergeseran Ilmu ke Kebodohan:
Akhir zaman ditandai dengan diangkatnya ilmu agama dan maraknya kebodohan moral.
Keterasingan Ajaran Islam:
Islam kembali asing, di mana praktik tasawuf yang benar (taqarrub kepada Allah) menjadi langka.
Sumber Dalil dalam Al-Qur'an.
Pandangan kami berlandaskan pada upaya penyucian jiwa (Tazkiyatun Nafs) yang disebutkan dalam Al-Qur'an:
Pentingnya Penyucian Hati:
Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman).
(QS. Al-A'la: 14).
Bahaya Fitnah Akhir Zaman:
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu...
(QS. Al-Anfal: 25).
Kesadaran Ketuhanan:
"Allah telah menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan.
(QS. As-Saffat: 96).3.
Hadis PendukungKrisis Iman Pagi-Sore:
"Sesungguhnya menjelang datangnya hari kiamat akan banyak fitnah... seseorang beriman pada pagi hari dan menjadi kafir pada sore hari..."
(HR. Muslim/Musnad Ahmad).
Terasingnya Ajaran Benar:
"Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing.
Sungguh beruntunglah orang yang asing." (HR. Muslim).
Krisis Ulama & Ilmu:
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mengambilnya dari dada manusia, melainkan dengan mewafatkan para ulama...
(HR. Bukhari).
Pandangan Ulama Muktabar (Otoritatif)Imam Al-Ghazali:
Tasawuf adalah kejujuran dalam bergaul dengan Allah dan manusia (shadaqah ma'allah), serta membersihkan hati dari selain Allah.
Seyyed Hossein Nasr :
Menekankan pentingnya tasawuf sebagai penyeimbang spiritualitas manusia modern yang tergerus teknologi dan filsafat materialis.
Syekh Yusuf al-Makassari:
Menekankan mujahadah (perjuangan batin) yang mendalam sebagai jalan keselamatan.
Solusi pandangan kami dan Ulama muktabar menyarankan untuk menghidupkan kembali tradisi dzikir (mengingat Allah) yang sistematis dan meningkatkan war'a (berhati-hati dari perkara syubhat/haram) sebagai perisai dari krisis iman.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
