Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Indah Kartika Sari

Quo Vadis Sistem Pendidikan Hari Ini?

Agama | 2026-05-01 05:46:38

Setiap tahun, tanggal 2 Mei dirayakan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Seremoni digelar, pidato tentang kemajuan teknologi dan kurikulum baru dipaparkan dengan penuh optimisme. Namun, jika kita menanggalkan kacamata formalitas tersebut dan melihat realitas di lapangan, wajah pendidikan kita sesungguhnya kian buram dan memprihatinkan. Alih-alih melahirkan generasi rabbani yang beradab, institusi pendidikan saat ini justru bertransformasi menjadi saksi bisu dari berbagai dekadensi moral yang mengerikan.

Fakta berbicara lebih keras daripada retorika pejabat. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual kini bukan lagi berita langka di lingkungan sekolah dan kampus. Ruang yang seharusnya menjadi "safe zone" bagi pencari ilmu, justru menjadi sarang predator. Tak kalah miris, kecurangan akademik telah menjadi budaya yang mendarah daging. Maraknya joki UTBK dengan tarif fantastis hingga praktik plagiarisme massal menunjukkan bahwa nilai kejujuran telah digadaikan demi selembar ijazah atau gengsi universitas ternama.

Dunia remaja kita pun kian kelam dengan cengkeraman narkoba. Pelajar dan mahasiswa bukan lagi sekadar korban, melainkan sudah merambah menjadi pengedar. Lebih jauh lagi, wibawa guru sebagai pewaris nabi telah runtuh. Kita menyaksikan fenomena pelajar yang tanpa ragu menghina gurunya, bahkan ada orang tua yang memenjarakan guru hanya karena memberikan sanksi kedisiplinan yang wajar. Kasus tewasnya pelajar akibat pengeroyokan di Bantul atau penyiraman air keras di Bogor hanyalah puncak gunung es dari darurat kekerasan yang melanda dunia pendidikan kita hari ini.

Kondisi generasi sebagai hasil pendidikan hari ini menjadi tamparan keras bagi kita semua. Mengapa peta jalan pendidikan kita gagal total dalam membentuk karakter? Jawabannya terletak pada asas yang mendasarinya: Sekularisme-Kapitalistik. Pendidikan sekuler telah memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya diletakkan sebagai mata pelajaran pelengkap dengan porsi jam yang sangat minim. Akibatnya, terjadi krisis kepribadian yang akut. Pelajar tumbuh menjadi sosok yang liberal (bebas tanpa batas), sekuler (mengabaikan aturan Tuhan), dan pragmatis (menghalalkan segala cara). Mereka mengejar sukses instan karena standar kebahagiaan yang diajarkan adalah materi dan nilai angka, bukan ridha Allah.

Dalam sistem kapitalistik, pendidikan dipandang sebagai investasi ekonomi semata. Output yang dihasilkan adalah "sekrup-sekrup" industri, bukan manusia seutuhnya. Hal ini memicu budaya curang; jika tujuan akhirnya adalah uang dan posisi, maka proses jujur dianggap beban. Ditambah lagi dengan lemahnya penegakan hukum. Sanksi negara terhadap pelaku kriminal usia sekolah sangat longgar dengan dalih "hak asasi anak" atau "kenakalan remaja", sehingga tidak ada efek jera. Negara seolah menoleransi kriminalitas sistemik yang lahir dari rahim pendidikan yang salah arah.

Islam memandang pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan (tashdiq), melainkan sebuah kewajiban mendasar yang harus dijamin sepenuhnya oleh negara (Khilafah). Berbeda dengan sistem hari ini, pendidikan Islam tegak di atas akidah Islam sebagai asas tunggal.

  1. Membentuk Syakhsiyah Islamiyah: Fokus utama pendidikan Islam adalah pembentukan kepribadian Islam, yaitu menyelaraskan pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) berdasarkan syariat. Pelajar dididik untuk merasa selalu diawasi oleh Allah (muraqabatullah). Dengan kesadaran ini, seorang mahasiswa tidak akan melirik jasa joki UTBK, karena ia tahu bahwa kesuksesan yang diraih dengan kecurangan adalah kemurkaan Allah.
  2. Kurikulum Berbasis Akidah: Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dikuasai dengan tujuan untuk kemaslahatan umat dan dakwah, sementara ilmu-ilmu syar’i menjadi fondasi moralitas. Hal ini menghasilkan insan kamil yang cerdas secara intelektual namun tetap rendah hati dan bertakwa.
  3. Sistem Sanksi yang Tegas: Dalam Islam, sanksi (uqubat) berfungsi sebagai pencegah (zajir) dan penebus dosa (jawabir). Pelajar yang melakukan tindak kriminal berat seperti penganiayaan, narkoba, atau pelecehan seksual akan dijatuhi sanksi syariat yang tegas sesuai tingkat pelanggarannya, tanpa memandang label "siswa" jika ia sudah balig.
  4. Sinergi Tiga Pilar: Pendidikan dalam Islam tidak hanya bertumpu pada sekolah. Ia melibatkan sinergi antara ketakwaan individu di dalam keluarga, kontrol sosial masyarakat yang aktif melakukan amar ma'ruf nahi munkar, serta peran negara yang menerapkan sistem kehidupan yang bersih dari kemaksiatan. Negara akan menutup rapat segala celah yang merusak moral, seperti konten pornografi, pergaulan bebas, dan peredaran zat adiktif.

Quo vadis pendidikan kita? Jika tetap bertahan pada jalur sekuler-kapitalis, maka kita hanya sedang menunggu waktu hingga generasi ini hancur sepenuhnya. Sudah saatnya kita kembali pada sistem pendidikan Islam yang terbukti selama berabad-abad mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar yang sekaligus mujahid dan mujtahid. Hanya dengan kembali pada aturan Sang Pencipta, institusi pendidikan akan benar-benar menjadi tempat yang aman, mulia, dan mampu melahirkan pemimpin peradaban masa depan.

Bahan Bacaan:

Viral dugaan pelecehan seksual di FH UI – Mengapa kekerasan 'tumbuh subur' di lembaga pendidikan? - BBC News Indonesia

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image