Sastra sebagai Ruang Produksi Makna
Info Terkini | 2026-04-30 11:05:07
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali mengukuhkan salah satu pakar terbaiknya, Prof. Wajiran, S.S., M.A., Ph.D., sebagai guru besar dalam Ranting Ilmu/ Kepakaran Kritik Sastra. Acara pengukuhan tersebut berlangsung khidmat di Ruang Amphitarium, Gedung Utama, Kampus IV UAD yang dilaksanakan pada Sabtu, 25 April 2026.
Dalam orasi ilmiahnya, ia mengangkat judul "Sastra dan Perjuangan Makna: Refleksi atas Ideologi, Kekuasaan, dan Kemanusiaan". Ia menekankan bahwa sastra bukan sekadar karya estetika, melainkan ruang produksi makna, tempat realitas sosial ditafsirkan dan dibentuk kembali.
Prof. Wajiran memandang sastra sebagai arena pertarungan kepentingan dan nilai yang mampu membongkar relasi kekuasaan dalam masyarakat.
“Sastra tidak hanya menghadirkan cerita, akan tetapi juga membuka ruang refleksi kritis tentang bagaimana makna diproduksi dalam kehidupan manusia,” tegasnya dalam pidato tersebut.
Ia juga menjelaskan peran vital politik representatif dalam sastra yang berkaitan erat dengan isu gender, kelas sosial, ras, hingga agama. Sastra berfungsi memperjuangkan martabat manusia dengan menolak dehumanisasi serta membela kelompok-kelompok yang selama ini terpinggirkan.
Sebagai seorang kritikus sastra, ia memfokuskan penelitiannya pada kaitan antara karya sastra, ideologi, dan politik, termasuk perjuangan warga kulit hitam di Amerika Serikat. Ia percaya bahwa analisis kritis terhadap teks mampu menjaga nalar kritis masyarakat dan mengungkap ideologi tersembunyi di balik sebuah karya.
Selain meneliti karya internasional, ia juga menaruh perhatian besar pada rendahnya budaya baca dan memudarnya pendidikan moral di kalangan siswa Indonesia.
“Kondisi ini tentunya memerlukan perjuangan yang lebih kuat agar budaya masyarakat Indonesia ini meningkat,” ucapnya saat merujuk pada rendahnya minat baca nasional.
Melalui buku-bukunya, ia berupaya menjadikan sastra sebagai fondasi literasi dan pembentukan karakter untuk merespons meningkatnya budaya kekerasan di sekolah. Ia menegaskan bahwa membaca adalah kunci peradaban suatu bangsa. (anw)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
