Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Marisa Cantik

Shalat: Ruang Jeda di Era Serba Cepat

Agama | 2026-04-30 10:37:26

Dijaman sekarang kita hidup di era ketika “sibuk” bukan lagi sekadar kondisi, melainkan identitas. Bangun tidur, hal pertama yang kita ingat bukanlah rasa syukur, tetapi notifikasi ponsel yang menumpuk. Dunia menuntut kita untuk selalu online, responsif, dan bergerak cepat. Sebagai mahasiswa, kita kerap terjebak dalam tumpukan tugas, tekanan deadline, hingga ambisi membangun karier sejak usia muda. Otak dipaksa bekerja tanpa henti, layaknya prosesor yang terus menjalankan beban berat. Akibatnya, kelelahan mental (burnout), kecemasan (anxiety), serta perasaan hampa menjadi hal yang semakin akrab.

Masalah utama manusia modern bukanlah kekurangan waktu, tetapi ketidakmampuan untuk berhenti. Dalam perspektif psikologi, kondisi keterhubungan tanpa henti (hyper-connectivity) dapat memicu kelelahan mental kronis. Kita terus berlari mengejar angka IPK, produktivitas, hingga pengakuan di media sosial. Dalam situasi seperti ini, ritual keagamaan kerap dipandang sebagai beban tambahan atau sekadar rutinitas untuk menggugurkan kewajiban.

Akibatnya, shalat seringkali dilakukan dengan tergesa-gesa. Tubuh memang berdiri di atas sajadah, tetapi pikiran masih tertinggal pada tugas, kode program, atau masalah yang belum selesai. Shalat pun berubah menjadi gerakan mekanis tanpa makna, padahal di dalamnya tersimpan potensi besar untuk memulihkan kondisi mental yang lelah.

Secara esensial, shalat adalah momen “berhenti” yang sah sekaligus wajib. Ketika dunia memaksa kita terus bergerak, Islam justru mengajarkan untuk melambat melalui konsep thuma’ninah atau ketenangan dalam setiap gerakan. Dalam sudut pandang ilmiah, peralihan dari aktivitas yang padat menuju gerakan yang tenang dapat membantu menurunkan kadar hormon stres dalam tubuh. Bahkan, posisi sujud yang dilakukan dengan khusyuk dipercaya dapat membantu melancarkan aliran darah ke otak, khususnya pada bagian yang berperan dalam pengaturan emosi, fokus, dan pengambilan keputusan.

Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Al-Ankabut ayat 45

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”

yang menegaskan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dalam konteks modern, hal tersebut dapat dimaknai sebagai kemampuan shalat dalam membantu manusia untuk menjaga kestabilan emosi, dan berpikir lebih jernih. Dengan demikian, shalat tidak hanya bernilai teologis, tetapi juga memiliki dimensi psikologis yang penting bagi keseimbangan hidup.

Sebagai mahasiswa Informatika yang terbiasa bergelut dengan logika dan baris kode, saya merasakan langsung tekanan tersebut. Ada kalanya ketika debugging berjam-jam atau menyusun algoritma yang tidak kunjung berjalan, pikiran terasa buntu seperti sistem yang mengalami not responding. Kepala terasa panas, layaknya laptop yang bekerja terlalu keras tanpa jeda.

Dulu, saya sering menganggap azan sebagai interupsi yang mengganggu alur saya mengerjakan tugas. Saya merasa harus menyelesaikan satu bagian lagi sebelum berhenti. Namun, memaksakan diri dalam kondisi mental yang sudah jenuh justru memperbesar kemungkinan kesalahan. Logika menjadi tidak jernih, dan pekerjaan semakin tidak efisien.

Seiring waktu, saya mulai menyadari bahwa jeda bukanlah gangguan, melainkan kebutuhan. Meninggalkan pekerjaan sejenak untuk shalat justru membantu “mereset” pikiran. Setelahnya, saya sering kembali dengan fokus yang lebih baik dan solusi yang sebelumnya terasa buntu menjadi lebih mudah ditemukan.

Pada akhirnya, dunia tidak akan berhenti hanya karena kita mengambil waktu beberapa menit untuk shalat. Namun, tanpa jeda tersebut, kitalah yang berisiko kehilangan kendali atas diri kita sendiri. Shalat bukanlah sekadar kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi ruang jeda yang memungkinkan kita menata ulang pikiran, menenangkan emosi, dan kembali melangkah dengan lebih stabil.Di tengah dunia yang bergerak tanpa henti, shalat adalah cara kita untuk tetap waras. Ia bukan beban tambahan, melainkan kebutuhan mendasar—sebuah ruang jeda yang menjaga kita tetap utuh di tengah derasnya arus kehidupan modern.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image