Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rama Kurnia Santosa

Ketika Feminisme Kehilangan Kompas

Politik | 2026-04-30 01:44:53

Di sebuah zaman yang gemar mengoreksi dirinya sendiri, lahirlah keyakinan bahwa sejarah bisa ditebus hanya dengan mengganti siapa yang berbicara paling keras. Feminisme, yang dahulu berdiri sebagai koreksi atas ketidakadilan nyata, perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih menyerupai aparat moral—mengatur bukan hanya tindakan, tetapi juga cara berpikir.

Tidak ada yang salah dengan perjuangan. Yang bermasalah adalah ketika perjuangan berhenti mencari kebenaran, dan mulai mencari siapa yang boleh berbicara. Di ruang-ruang diskusi modern, kebenaran sering kali ditentukan oleh posisi korban. Semakin besar luka yang diklaim, semakin tinggi otoritasnya. Maka perlombaan pun dimulai—siapa yang paling tersakiti, siapa yang paling berhak menghakimi. Dalam sistem seperti ini, fakta menjadi opsional, sementara perasaan diangkat menjadi hukum.

Laki-laki, dalam narasi ini, sering kali hadir sebagai terdakwa abadi. Ia tidak perlu melakukan kesalahan; keberadaannya saja cukup untuk dicurigai. Ia diajarkan untuk diam, karena setiap pembelaan bisa ditafsirkan sebagai bentuk penindasan baru. Ia belajar bahwa menjadi benar tidaklah penting—yang penting adalah tidak terlihat salah.

Ironisnya, sejarah yang sama yang menuduhnya, juga pernah memanfaatkannya. Ketika perang datang, tidak ada manifesto kesetaraan yang melindunginya dari peluru. Ia dikirim ke garis depan, bukan sebagai individu, tetapi sebagai kewajiban. Tidak ada ruang untuk memilih, tidak ada panggung untuk mengeluh. Ia mati sebagai angka, bukan cerita.

Namun kematian itu tidak cukup relevan untuk dimasukkan ke dalam diskursus modern.Sementara itu, di sisi lain, muncul fenomena yang lebih halus: manipulasi atas nama moral. Kritik dilabeli sebagai serangan. Ketidaksepakatan disebut kekerasan simbolik. Dan jika semua itu tidak cukup, realitas bisa dengan mudah diputarbalikkan. Gaslighting menjadi alat yang efektif—bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk memastikan bahwa hanya satu versi kebenaran yang boleh ada.
Dalam kondisi seperti ini, tidak ada pelaku—yang ada hanya korban yang salah dipahami.

Padahal kenyataan jauh lebih tidak nyaman: perempuan, seperti halnya laki-laki, juga mampu menjadi pelaku. Mereka bisa melukai, mengontrol, bahkan menindas. Mengabaikan hal ini bukanlah bentuk keberpihakan, melainkan bentuk kemalasan intelektual.

Sebab mengakui kompleksitas berarti kehilangan kemewahan untuk selalu benar.Feminisme, dalam bentuknya yang paling bising saat ini, sering kali tidak lagi berbicara tentang kesetaraan. Ia berbicara tentang otoritas moral. Tentang siapa yang boleh mendefinisikan realitas, dan siapa yang harus menerimanya tanpa pertanyaan.

Ini bukan lagi gerakan pembebasan. Ini adalah sistem keyakinan.Dan seperti semua sistem keyakinan yang tidak mau dikritik, ia mulai menunjukkan gejala yang sama: intoleransi terhadap perbedaan, alergi terhadap nuansa, dan obsesi untuk selalu menjadi pihak yang paling benar.

Mungkin masalahnya bukan pada feminisme itu sendiri, melainkan pada cara ia digunakan—sebagai alat, bukan sebagai prinsip. Sebagai senjata, bukan sebagai jembatan, ketika sebuah ide mulai lebih sibuk mempertahankan dirinya daripada memperbaiki dunia, kita patut curiga: apakah ia masih memperjuangkan keadilan, atau hanya memperjuangkan kekuasaan dengan nama yang lebih bisa diterima?Pada titik itu, kesetaraan tidak lagi menjadi tujuan. Ia hanya menjadi slogan—yang diulang cukup sering hingga terdengar seperti kebenaran.


Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image