Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Idmar wijaya

Nabi Ibrahim Seorang Ayah yang Demokratis

Agama | 2026-04-29 07:49:27

By. Dr. Idmar Wijaya,S.Ag.,M.Hum

Dosen Prodi KPI FAI UM Palembang dan Wk PDM Palembang

Nabi Ibrahim merupakan Nabi yang digelari dengan abul ambiya’ (bapaknya para Nabi) karena dia mempunyai dua orang anak laki-laki, semuanya menjadi Nabi dan Rasul. Kedua putranya adalah Nabi Ismail dengan ibunya adalah Siti Hajar, sedangkan Nabi Ishaq ibunya Siti Sarah. Pada kesempatan kali ini, marilah kita merenungi salah satu keteladanan dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau bukan hanya seorang Nabi dan Rasul, tetapi juga seorang ayah yang luar biasa—penuh kasih sayang, pengertian, dan demokratis dalam mendidik anaknya.

1. Dialog Nabi Ibrahim dan Ismail: Bukti Kepemimpinan Demokratis

Setelah sekian tahun berumah tangga Nabi Ibrahim belum dikarunia anak sampai usia yang cukup lanjut. Akhirnya istri pertamanya Siti Sarah Meminta Nabi Ibrahim menikahi Siti Hajar, dari Hajar Nabi Ibarim dikarunia anak Ismal. Anak semagta wayang yang sedang sangat lucu-lucunya Nabi Ibrahim mendapat wahyu melalui mimpi agar Ismail disembelih. Namun, yang luar biasa, beliau tidak langsung melaksanakan perintah tersebut begitu saja, melainkan berdialog terlebih dahulu dengan anaknya, seperti diabadikan dalam surat Surah As-Saffat: 102.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!' Ia (Ismail) menjawab: 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'”

Dari ayat ini, kita dapat melihat bahwa Nabi Ibrahim tidak memaksakan kehendak, meskipun itu adalah perintah langsung dari Allah. Beliau memberi ruang kepada anaknya untuk merespon. Inilah ciri khas seorang ayah yang demokratis: melibatkan anak dalam percakapan penting, memberi ruang berpendapat, dan mendidik dengan akhlak.

2. Kelembutan dan Keteladanan dalam Pendidikan

Nabi Ibarhim juga dikenal dengan orang yang Hanif (Jujur dan cerdas). Dalam banyak riwayat, Nabi Ibrahim dikenal sebagai pribadi yang lemah lembut. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ

Artinya: "Sesungguhnya Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya, penyayang, dan selalu kembali (kepada Allah)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Inilah sifat yang harus kita contoh sebagai orang tua: halīm (penyabar dan lembut), awwāh (penyayang), dan munīb (taat kembali kepada Allah).

3. Pelajaran Bagi Orang Tua Masa Kini

Dalam dunia yang serba cepat ini, banyak orang tua cenderung otoriter atau bahkan abai. Nabi Ibrahim memberikan teladan bahwa mendidik anak bukan hanya soal memberi perintah, tetapi juga membangun komunikasi, kepercayaan, dan keteladanan. Seorang ayah hendaknya menjadi teman diskusi, bukan hanya pemberi instruksi.

4. Penutup

Tulisan yang sangat sederhana ini semoga akan menjadikan kita sebagai seoarang ayah yang demokratis, penyayang, penyantun, penyabar serta sanggup menerima masukan dari anak-anak kita.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image