Cahaya yang Menuntun Pulang: Sebuah Tafsir Sufistik
Agama | 2026-04-28 11:44:41Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana dan Direktur PUNCAK IAIN Kendari)
Di zaman ketika manusia tersesat bukan karena gelap, tetapi karena terlalu banyak cahaya buatan, kita dihadapkan pada satu ironi: semakin terang dunia di luar, semakin redup dunia di dalam. Informasi berlimpah, koneksi tanpa batas, namun arah hidup kian kabur. Di titik inilah, firman Allah dalam surah Al-Isra ayat 9 kembali menggema sebagai panggilan pulang: bahwa Al-Qur’an memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus (aqwam).Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.(Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana dan Direktur PUNCAK IAIN Kendari)
Tetapi apa arti “jalan paling lurus” dalam perspektif sufistik?
Ia bukan sekadar garis hukum antara halal dan haram. Ia adalah jalan batin—jalan pulang menuju Tuhan. Jalan yang meluruskan bukan hanya langkah kaki, tetapi juga arah hati. Sebab dalam tradisi tasawuf, kesesatan paling berbahaya bukanlah tidak tahu jalan, melainkan kehilangan tujuan.
Kata aqwam mengandung kedalaman makna: paling lurus, paling seimbang, paling adil. Dalam dimensi batin, ia adalah kondisi ketika jiwa tidak lagi condong kepada selain Allah. Tidak terbelah antara dunia dan akhirat, tidak terombang-ambing antara ego dan nurani. Ia adalah titik keseimbangan eksistensial—di mana manusia menjadi utuh.
Namun, manusia modern hidup dalam ketidakseimbangan yang halus. Kita tampak bergerak, tetapi tidak selalu menuju. Kita tampak tahu, tetapi tidak selalu sadar. Kita tampak terhubung, tetapi tidak selalu hadir. Di balik semua itu, ada satu kekuatan yang diam-diam membentuk arah hidup kita: algoritma.
Algoritma tidak pernah bertanya apakah sesuatu itu benar—ia hanya tahu apakah sesuatu itu menarik. Ia tidak peduli apakah jiwa kita tercerahkan atau justru terpecah. Maka tanpa sadar, kita mengikuti arus yang tidak kita pilih, menuju arah yang tidak kita sadari.
Di sinilah Al-Qur’an berdiri sebagai tandingan: bukan sekadar memberi informasi, tetapi memberi orientasi. Ia tidak sekadar menjawab pertanyaan, tetapi membentuk kesadaran.
Dalam bahasa sufistik, Al-Qur’an bukan hanya petunjuk jalan, tetapi cahaya yang menyingkap hijab antara manusia dan Tuhannya.
Ayat ini juga membawa kabar gembira: bahwa mereka yang beriman dan beramal saleh akan memperoleh pahala besar.
Namun dalam lensa tasawuf, pahala bukan hanya tentang ganjaran di akhirat, melainkan keadaan batin di dunia. Ketika hati menjadi tenang, ketika jiwa tidak lagi gelisah oleh dunia, ketika makna hadir dalam setiap langkah—itulah “pahala” yang mulai dirasakan sejak sekarang.
Maka, menjadi manusia “aqwam” hari ini bukan berarti keluar dari dunia digital, tetapi menaklukkannya dengan kesadaran. Menjadikan teknologi sebagai alat, bukan tuan. Mengisi ruang-ruang digital dengan nilai, bukan sekadar sensasi. Sebab setiap kata yang kita tulis, setiap konten yang kita bagikan, adalah cerminan dari arah batin kita.
Dalam keheningan yang jarang kita temui, Al-Qur’an terus berbisik: bahwa jalan itu tidak pernah hilang—hanya kita yang terlalu jauh melangkah tanpa arah. Dan bahwa pulang bukanlah soal jarak, tetapi soal kesadaran.
Mungkin, kita tidak perlu mencari cahaya baru. Kita hanya perlu kembali melihat cahaya yang telah lama ada.
Cahaya yang tidak pernah padam.
Cahaya yang tidak pernah menyesatkan.
Cahaya yang menuntun pulang.
Wallahu A'lam bi al-Shawwab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
