Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nayla Latifah

Sandiwara Kehidupan di Media Sosial Menurut Goffman

Gaya Hidup | 2026-04-28 10:07:27

Di era digital ini, media sosial telah bertransformasi dari sekadar platform komunikasi menjadi sebuah panggung raksasa. Jutaan orang setiap hari naik ke panggung ini, menampilkan diri, berinteraksi, dan mencoba meninggalkan kesan yang diinginkan. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan merenungkan, "Mengapa kita begitu gigih menampilkan versi terbaik diri kita di dunia maya?" Atau, "Apakah ada 'diri sejati' di balik semua unggahan yang terlihat rapi?"

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita bisa meminjam lensa tajam seorang sosiolog bernama Erving Goffman dan teori revolusionernya yaitu Dramaturgi. Dalam bukunya yang berpengaruh, The Presentation of Self in Everyday Life (1959), Goffman menganalisis hidup sosial kita sebagai sebuah pertunjukan teater. Setiap individu adalah aktor yang berusaha menampilkan peran sosial dan mengelola kesan di hadapan audiens. Konsep ini ternyata sangat relevan, bahkan mungkin semakin relevan, di tengah hiruk-pikuk media sosial saat ini.

Panggung Depan (Front Stage) Kita di Dunia Maya. Bayangkan profil media sosial Anda seperti Instagram, TikTok, atau Facebook. Ini adalah panggung depan Anda atau biasa disebut ftont stage. Di sinilah kita secara sadar menampilkan peran sosial kita dan mengelola kesan sesuai dengan harapan audiens. Setiap foto yang diunggah, setiap keterangan yang ditulis, setiap filter yang dipilih, adalah bagian dari pertunjukan ini.

Goffman menjelaskan bahwa di panggung depan, kita melakukan manajemen kesan (impression management). Ini adalah upaya sadar kita untuk mengontrol informasi agar image atau kesan di mata audiens tetap terjaga. Di media sosial, manajemen kesan ini sangat kentara seperti halnya kita memilih foto terbaik yang menampilkan sisi menarik atau sukses dari diri kita. Kita menulis caption yang cerdas, inspiratif, atau lucu untuk menarik perhatian dan membangun citra tertentu.

Hingga kita menyaring informasi, hanya membagikan momen-momen yang ideal atau "layak tayang" (konsep idealisasi). Kita ingin audiens percaya pada peran yang kita mainkan misalnya, sebagai seorang petualang, ahli, atau figur yang selalu bahagia.Panggung depan di media sosial tidak hanya tentang penampilan pribadi, tetapi juga tentang "setting" atau latar belakang yang kita pilih. Foto liburan di tempat eksotis, flat lay makanan estetik, atau latar belakang kantor yang profesional, semuanya adalah bagian dari setting yang mendukung peran yang ingin kita tampilkan.

Jika media sosial adalah panggung depan, lalu di mana panggung belakang atau backstage kita? Panggung belakang adalah ruang privat di mana aktor bisa "menanggalkan peran," beristirahat, dan mempersiapkan pertunjukan selanjutnya tanpa pengawasan audiens.Di dunia digital, panggung belakang bisa berupa obrolan pribadi dengan teman dekat di aplikasi pesan (WhatsApp, Telegram) di mana kita bisa berbicara tanpa filter atau kekhawatiran tentang penilaian publik.

Akun finsta (akun Instagram palsu) atau grup close friend yang memungkinkan kita berbagi momen yang lebih mentah, jujur, atau bahkan "aib" tanpa harus mempertahankan citra ideal.Atau bahkan sesederhana saat kita meletakkan ponsel, jauh dari sorotan notifikasi dan tuntutan untuk terus-menerus menampilkan diri. Di panggung belakang ini, kita bisa menjadi diri kita yang lebih nyata dan lebih bebas untuk mengeluh, tertawa lepas tanpa memikirkan angle terbaik, atau bahkan merencanakan strategi untuk pertunjukan di panggung depan berikutnya.

Manajemen Kesan dan Tim Pertunjukan Virtual, Goffman menekankan bahwa manajemen kesan bukanlah sekadar kepalsuan, tetapi upaya sadar atau tidak sadar individu untuk mengontrol gambaran diri agar diterima positif oleh audiens. Di media sosial, ini berarti upaya kita mengelola kesan membantu menciptakan lingkungan di mana interaksi dapat terjadi dengan relatif teratur. Kita tahu apa yang diharapkan dari kita, dan kita berusaha memenuhi ekspektasi tersebut agar "pertunjukan" kita berjalan lancar.Tidak jarang, kita juga memiliki tim pertunjukan atau performance team. Ini adalah sekelompok individu yang bekerja sama untuk mempertahankan satu definisi situasi di hadapan audiens. Di media sosial, tim ini bisa berupa teman-teman yang aktif memberi "like," komentar positif, atau bahkan berkolaborasi dalam unggahan untuk memperkuat citra satu sama lain. Misalnya, seorang influencer mungkin memiliki tim yang membantu mengelola citra mereka, atau sekelompok teman saling mendukung narasi tertentu di media sosial.

Di media sosial, ini berarti kita kadang tulus berbagi kebahagiaan atau kesedihan, tetapi di lain waktu, kita mungkin sadar mengunggah sesuatu untuk tujuan tertentu—misalnya, untuk mendapatkan perhatian, promosi, atau sekadar menjaga image kita di mata publik. Batasan antara tulus dan sinis ini seringkali kabur, dan terkadang kita bahkan meyakinkan diri kita sendiri akan keaslian peran yang kita mainkan.

Tantangan di Panggung yang Tak BerujungPenerapan dramaturgi Goffman pada media sosial juga memunculkan beberapa pertanyaan kritis seperti, Apakah Ada "Diri Sejati"? Jika hidup kita adalah serangkaian pertunjukan, dan media sosial memaksa kita untuk terus-menerus tampil, apakah ada "diri sejati" yang stabil di balik semua performance tersebut? Goffman sendiri berpendapat bahwa impression management adalah bagian dari pembentukan karakter moral kita, menyiratkan bahwa diri kita adalah kumpulan dari berbagai pertunjukan tersebut.

Tantangan yang diciptakan dari panggung yang tak berujung ini yaitu kelelahan peran dan batasan yang kabur. Tuntutan untuk menjaga panggung depan agar terus menerus sempurna dapat menimbulkan tekanan dan kelelahan mental. Ketakutan untuk dinilai buruk dan mendapatkan reaksi yang negatif akan memaksa kita untuk selalu berhati hati. Di era always-on ini, batasan antara panggung depan dan panggung belakangan menjadi semakin kabur. Konten pribadi bisa saja tiba-tiba menjadi viral dan ruang privat menjadi target pengawasan publik.


Erving Goffman dan teori dramaturginya menawarkan kerangka kerja yang luar biasa untuk memahami kompleksitas interaksi kita di media sosial. Setiap unggahan adalah adegan, setiap profil adalah naskah, dan setiap interaksi adalah bagian dari sandiwara diri yang terus-menerus kita perankan.
Memahami bahwa kita semua adalah aktor di panggung kehidupan virtual ini dapat memberdayakan kita untuk menjadi partisipan yang lebih sadar. Kita bisa lebih kritis terhadap pertunjukan orang lain, dan lebih bijak dalam mengelola "manajemen kesan" diri kita sendiri. Pada akhirnya, media sosial hanyalah sebuah panggung, dan kitalah yang memegang kendali atas cerita yang ingin kita sajikan kepada dunia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image