Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rifka Silmi Mufliha

Kota Besar: Tempat di Mana Tradisi Makan Sehat Mati Pelan-Pelan

Gaya Hidup | 2026-04-23 23:28:43

Semakin hari, urbanisasi semakin menjamur di berbagai tempat. Bahkan, saat ini, urbanisasi tidak lagi menjadi sebuah keinginan semata demi meningkatkan status sosial dan ekonomi, melainkan sudah menjadi kebutuhan yang mendorong seseorang untuk bertahan hidup. Para migran berbondong-bondong meninggalkan desa tempat mereka dibesarkan menuju kota besar demi mengejar janji kehidupan yang lebih baik. Namun, pada praktiknya, tidak hanya ketidakidealan hidup di desa yang ditinggalkan, melainkan juga perilaku baik lainnya yang tidak lagi menjadi hal yang mudah untuk dilakukan di lingkungan perkotaan, termasuk tradisi makan sehat. Tanpa sadar, urbanisasi seringkali turut membuat tradisi makan sehat dari daerah asal ikut terbunuh perlahan-lahan apabila tanpa diikuti kontrol diri yang kuat dan keadaan sekitar yang mendukung.

Perangkap "Asal Kenyang" di Balik Efisiensi

Penduduk perkotaan dihadapkan pada gaya hidup yang serba cepat. Berbagai rutinitas khas perkotaan, seperti tuntutan pekerjaan, studi, hingga kemacetan di jalan raya, menuntut seseorang untuk melakukan segala sesuatunya secara cepat dan praktis, terlebih pada hal-hal mendasar dalam hidup asal keuntungan atau manfaatnya dapat diperoleh secara instan, misalnya penggunaan lift untuk bisa sampai lebih cepat di lantai tempat rapat kantor diadakan dibanding penggunaan tangga biasa, penggunaan kendaraan pribadi yang menawarkan kenyamanan ekstra dan durasi perjalanan lebih singkat dibanding kendaraan umum, hingga tradisi konsumsi makanan cepat saji untuk menghalau rasa lapar lebih cepat di tengah kesibukan dan jadwal padat yang tiada hentinya. Bagi para migran yang masih beradaptasi dengan rutinitas urban yang padat, fasilitas yang menawarkan efisiensi waktu tidak membutuhkan waktu lama untuk digunakan tanpa dipikirkan secara matang-matang. Waktu yang terus mendesak akan membuat para migran dengan cepat beralih dari tradisi menyiapkan sayur lodeh ke menggunakan layanan pesan antar makanan dengan metode santap yang praktis dan waktu penyiapan yang cepat pula, misalnya burger atau ayam goreng tepung.

Fenomena demikian yang terus berlanjut perlahan-lahan akan mengubah tradisi makan sehat dengan gizi seimbang yang biasa dilakukan di desa sebagai daerah asal menjadi tradisi diet tinggi kalori rendah gizi. Para migran terjebak dalam pola diet "asal kenyang" yang lebih menawarkan manfaat instan yang bisa dirasakan, yaitu rasa kenyang, tanpa mempertimbangkan manfaat jangka panjang yang berisiko terabaikan, yaitu kesehatan metabolisme tubuh jangka panjang dan terhindar dari risiko berbagai masalah kesehatan di masa depan. Pada hakikatnya, hal tersebut justru membuat para migran terjebak dalam kondisi hidden hunger, yaitu kondisi ketika sel-sel tubuh mengalami kelaparan atau kekurangan zat gizi esensial, seperti vitamin dan mineral, yang tersembunyi di balik rasa kenyang yang diciptakan dari diet tinggi kalori.

Hutan Beton dan Gurun Pangan (Food Deserts)

Selain karena masalah waktu, perubahan pola diet tersebut juga disebabkan karena kondisi struktural yang mendukung. Lingkungan urban, terlebih dengan populasi padat migran dengan kondisi ekonomi yang belum stabil, menawarkan pangan Ultra-Processed Foods (UPF) yang lebih tinggi kalori namun rendah gizi lebih murah dan mudah diakses daripada pangan segar (real foods), seperti sayur dan buah, yang sudah jelas gizinya. Tak jarang ditemui kedai atau warung yang menawarkan berbagai makanan dan minuman olahan yang tinggi kalori dan rendah gizi, seperti gorengan atau minuman berpemanis, di setiap sudut jalan di perkotaan. Sebaliknya, penjual yang menawarkan pangan segar dengan harga terjangkau hanya ditemui di segelintir tempat, atau pangan segar tersebut dijual di tempat yang terjangkau namun dengan harga yang mahal yang tidak mampu dijangkau oleh para migran dengan anggaran terbatas.

Lambat laun kita sadari, pola hidup di lingkungan perkotaan menjual kalori dengan harga murah, namun menjual gizi dengan harga mewah. Urbanisasi, selain mengubah gaya hidup yang dekat dengan lahan terbuka hijau menjadi dekat dengan hutan beton pemukiman, juga mengubah pola makan gizi seimbang yang berlimpah di pedesaan menjadi gurun pangan dengan pangan kaya gizi yang langka ditemukan. Diet gizi seimbang bukan lagi menjadi hal yang bisa diperoleh seluruh kalangan, melainkan pola hidup yang hanya bisa dinikmati kalangan tertentu dengan kondisi ekonomi stabil. Bagi migran, terutama dengan kondisi ekonomi belum stabil, memperoleh diet gizi seimbang merupakan suatu perjuangan ekonomi yang berat di tengah kebutuhan hidup lainnya yang dirasa lebih mendesak.

Stigma "Ndeso" dan Gengsi Kuliner Urban

Fenomena lain yang mendasari perubahan pola diet urban adalah sisi psikologis dan persepsi mengenai gaya hidup urban. Tren konsumsi makanan cepat saji menjadi hal yang sudah sangat melekat dengan gaya hidup urban yang juga serba cepat dan modern. Sebaliknya, konsumsi makanan sehat atau alami (real foods) dengan prinsip gizi seimbang, misalnya tahu, tempe, umbi-umbian, hingga rebusan sayur, justru lebih sering dikaitkan dengan pola makan yang terlalu "kampung" atau "ndeso" dan dianggap tidak sesuai dengan gaya hidup urban.

Para migran yang merupakan warga pendatang dari pedesaan ke lingkungan perkotaan, tanpa sadar berusaha untuk melakukan sesuatu agar merasa diterima di lingkungan barunya, termasuk dalam hal gaya hidup dan pola makan. Alih-alih mempertahankan tradisi makan sehat dengan prinsip gizi seimbang yang sudah turun temurun dilestarikan di daerah asal, para migran berjuang untuk mengikuti gaya hidup urban dengan pola makan fast food yang justru tinggi kalori dan natrium serta rendah gizi. Migran yang mengadopsi pola diet tersebut dianggap sudah berhasil beradaptasi dan hidup di lingkungan urban sehingga lebih diterima oleh masyarakat setempat. Kondisi tersebut sangat ironis dan disayangkan mengingat harga mahal yang harus dibayar—kesehatan jangka panjang—demi gengsi gaya hidup semata.

Menuju Krisis Gizi Urban

Apabila tren ini terus dibiarkan, beban ganda malnutrisi (Double Burden of Malnutrition) akan terus menjadi masalah serius di kota besar yang tidak kunjung tertangani. Di satu sisi, kota besar dihadapkan pada masalah gizi lebih atau obesitas yang semakin hari semakin bertambah prevalensinya. Namun, di sisi lain, prevalensi defisiensi zat gizi mikro, termasuk anemia, juga semakin meningkat pada populasi yang sama, terlebih pada para migran, termasuk pekerja dan mahasiswa.

Ironisnya, urbanisasi yang memiliki tujuan awal untuk meningkatkan kualitas hidup, justru menjadi langkah awal untuk menjemput krisis kesehatan yang serius di masa depan. Kota besar yang seharusnya menjadi tempat di mana kualitas hidup meningkat, dengan berbagai sistem dan teknologinya yang semakin maju dan berkembang, justru menuntut biaya mahal dengan menukarkan tradisi makan sehat yang turun temurun dari nenek moyang kita sehingga tanpa sadar justru menurunkan kualitas hidup di masa depan. Padahal, menjadi migran yang sukses di lingkungan urban tidaklah harus turut mengorbankan kebiasaan sehat yang sangat penting untuk diterapkan, termasuk dalam hal memilih makanan yang masuk ke tubuh kita sendiri.

Melihat kondisi tersebut, sudah saatnya kebijakan pangan di lingkungan urban tidak hanya berfokus pada ketersediaan stok beras maupun pemenuhan pangan yang sekadar dianggap praktis tanpa mempertimbangkan aspek gizi, melainkan juga memastikan ketersediaan akses serta kemampuan pemanfaatan pangan segar yang memadai dan berkualitas, seperti sayuran, buah, dan sumber protein, terutama bagi masyarakat migran dan penduduk dengan kondisi ekonomi yang kurang stabil. Karena pada hakikatnya, kesejahteraan hidup yang dicari oleh para migran dalam urbanisasi akan berakhir sia-sia apabila harus membayarnya dengan kesehatan jangka panjang yang terancam sirna serta kerusakan fisik yang permanen.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image