Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tonny Rivani

Ketika Manusia Bersaksi

Edukasi | 2026-04-21 17:52:44
gambar Ilustrasi Bersaksi_1

Opini - Sejak sebelum jejak pertama manusia terukir di bumi, sebuah kesaksian telah lebih dulu lahir. Dalam sunyi yang tak terjangkau ingatan, Allah menghadirkan ruh-ruh manusia dan bertanya: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Maka serempak mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi (Engkau Tuhan kami).”

Ketika manusia kemudian menjalani hidupnya, ia seakan bebas menentukan arah. Namun kebebasan itu tidak pernah lepas dari pengawasan. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa setiap amal manusia melekat padanya: “Dan setiap manusia telah Kami kalungkan catatan amalnya di lehernya...” (QS. Al-Isra: 13). Catatan itu bukan sekadar simbol, melainkan rekam jejak utuh—pikiran yang tersembunyi, kata yang terucap, hingga langkah yang diambil.

Tidak ada yang luput. Bahkan yang paling kecil sekalipun akan menemukan jalannya untuk tampak: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya; dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–9). Di titik ini, hidup bukan lagi sekadar rangkaian peristiwa, melainkan proses penulisan kesaksian yang tak bisa dihapus atau diubah.

Namun puncak dari semuanya bukanlah saat catatan itu ditulis, melainkan saat ia dibuka. Pada hari ketika kebenaran tak lagi bisa disangkal, manusia berdiri berhadapan dengan dirinya sendiri. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” (QS. Al-Isra: 14). Tidak ada pembelaan yang lebih jujur selain pengakuan diri.

Lebih dari itu, tubuh yang selama ini tunduk pada kehendak manusia justru akan mengambil alih peran sebagai saksi. “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka berkata kepada Kami dan kaki mereka memberi kesaksian...” (QS. Yasin: 65). Tangan yang pernah berbuat, kaki yang pernah melangkah, bahkan indera yang digunakan tanpa kehati-hatian—semuanya berbicara. Sebagaimana diingatkan: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36).

Di hadapan kesaksian itu, tak ada lagi ruang untuk berpaling. Pilihan-pilihan yang dahulu tampak sepele menjelma menjadi penentu nasib. Mereka yang hanya mengejar dunia akan menuai akibatnya, sebagaimana peringatan dalam QS. Al-Isra: 18–21. Sementara mereka yang menjaga janji awalnya akan menemukan cahaya dari setiap amal yang pernah ditanam.

Gambar Ilustrasi Kesaksian_2

Pada akhirnya, manusia menyadari satu hal yang tak terbantahkan: ia tidak pernah benar-benar sendirian dalam hidupnya. Ia berjalan bersama catatannya, membawa saksi dalam dirinya, dan menuju hari ketika semuanya akan dibuktikan.

Maka hidup bukan sekadar perjalanan dari lahir menuju mati. Ia adalah perjalanan dari janji menuju pembuktian—di mana manusia, dengan segala yang ia lakukan, akan berdiri sebagai saksi paling jujur atas dirinya sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image