Kemenangan Dakwah
Sinau | 2026-04-19 22:32:57
KEMENANGAN DAKWAH
Oleh : Hadir
Dakwah merupakan pekerjan besar yang didalamnya diperlukan perbekalan. Disana ada bekal jasadiyah, fikriyah dan juga ruhiyah. Kenapa? Karena sifat dakwah yang sha’bun tsaabit (sulit tapi kokoh), thawiil ashil (panjang tapi asli) dan bathiiun ma’muun (pelan tapi pasti). Ada dua bekal yang menjadi syarat kemenangan dakwah yaitu bekal maaliyah (materi) dan bekal ma’nawiyah (imateri).
Bekal yang pertama adalah bekal maaliyah meliputi :
Satu, bekal yang memadai. Siapa yang memiliki ia akan bisa memberi. Bagaimana mungkin akan memberi jika tidak memiliki? Ungkapan ini bisa menjadi pelecut buat kita semua, bahwa ketika dakwah menginginkan sebuah kemenangan (baca : kmenangan adalah diterimanya dakwah ditengah masyarakat dan tersebarnya nilai kebaikan) mestilah diperlukan bekal untuk dapat menggapainya. Bekal itu bisa berupa manusia yang memperjuangkan dakwah, dana, ilmu, media dan apapun yang bisa mengantarkan pada kemenangan. Allah Swt memerintahkan kepada kita untuk mempersiapkan segala apapun yang bisa mengantarkan kepada kemenangan.
Dua, kerja yang profesional. Jika ada orang yang bekerja sesuai dengan bidangnya itu biasa, tapi jika ada orang yang bekerja diluar bidangnya itu baru luar biasa. Kata ini bisa menjadi motivasi buat kita semua, bahwa ketika ada keinginan untuk memenangkan dakwah, maka kerja-kerja atau amal-amal yang menjadi sebab kemenangan itu akan diberikan oleh Allah Swt, direncanakan dengan penuh keseriusan, dikerjakan dengan penuh kesungguhan. Inilah kerja dakwah profesional.
Tiga, jaringan yang rapi. Likulli marhalatin ahdafuhaa, likulli marhalatin rijaluhaa. Setiap tahapan ada tujuannya, dan setiap tahapan ada pedukungnya. Dakwah akan memperoleh kemenangan disebabkan dintaranya adalah jaringan atau kader yang rapi. Yang memiliki militansi. Tidak menyerah kepada keadaan. Kader sebagai pangkal jaringan disinergikan agar kerjanya tertata. Laporan dan evaluasi berkala menjadi bagian yang penting agar jaringan semakin kuat dan sehat.
Empat, penguasan media. Hati-hati dengan media yang semiotik! Semiotik, kata Umberto Eco penulis il namo de la rossa adalah seni berbohong. Ustadz Rahmat Abdullah mengistilahkan dengan istilah zu-qha-ghu. Zukhrufal qauli ghuruura. Perkataan bias yang menipu. Media memiliki peran yang tak kalah pentingnya untuk menentukan sebuah kemenangan. Fungsi media diantaranya adalah mengkampanyekan atau menyampaikan sebuah nilai. Dan nilai yang ingin kita sampaikan adalan nilai Islam. Agar terbangun sebuah pemahaman yang benar ditengah umat atau masyarakat. Maka penting bagi dakwah untuk memiliki media.
Lima, prajurit yang banyak. Jalan dakwah mengajarkan bahwa kami memang membutuhkan dakwah. Kebersamaan dengan saudara-saudara di jalan ini semakin menegaskan bahwa kami harus hidup bersama mereka di jalan ini agar berhasil dalam hidup dunia dan akhirat kami. Inilah pesan ustadz Rahmat Abdullah (rahimakumullah) yang bisa kita ambil hikmahnya bahwa untuk mendapat kemenangan, diperlukan prajurit atau kader yang siap menjadi pemikul dakwah. Harapannya tentu, semakin banyak kader semakin bisa mendistribusi beban dakwah dengan baik dan merata. Bukan sebaliknya, dengan bertambahnya kader malah menjadi beban dakwah.
Bekal yang kedua adalah bekal ma’nawiyah, meliputi :
Pertama , tidak putus asa. Lebih baik melangkah walau salah, dari pada tidak pernah melangkah barang sejengkah. Ungkapan ini menjadi energi buat kita, bahwa kemenangan haruslah diperjuangkan, diupayakan, dengan semaksimal kemampuan. Allah Swt memerintahkan untuk berusaha, adapun hasilnya diserahkan kepada Allah Swt. Kita akan melangkah, (tentu dengan langkah kebenaran) untuk mendapat pertolongan Allah Swt. Walau langkah baru sedikit. Islam tidak mengajarkan kata keputusasaan. Islam mengajarkan untuk senantiasa optimis dalam hal apapun. Kita tidak akan berdiam diri, tanpa berbuat, tanpa berusaha.
Kedua, tidak takut terhadap musuh. Kuasailah keadaan dirimu sendiri, niscaya musuhmu kan kau kuasai. Ketakutan bukan berasal dari luar tetapi dari dalam diri kita sendiri. Diantara musabab kekalahan adalah ketakutan. Inilah yang menyebabkan 700 orang disersi atau mundur dari perjalanan menuju perang Badar, setelah keraguan yang dihembuskan oleh kaum munafikin berhasil mempengaruhi akal dan hati. Timbul keraguan dan rasa takut menghadapi musuh.Karena musuh sebenarnya adalah keraguan yang ada dalam diri kita sendiri. Islam mengajarkan agar kita tidak takut, tidak lari ketika berjumpa dengan musuh, hadapi. Karena akan mendapatkan satu diantara dua hal, hidup mulia atau mati syahid.
Ketiga, menebar kebaikan dibumi. Bunga yang takkan layu di muka bumi adalah kebajikan (Covernikus). Kebaikan adalah kata dan perilaku yang harus dimiliki agar dicintai. Baik oleh penduduk bumi maupun penduduk langit. Menebar kebaikan adalah upaya agar beroleh kemenangan. Allah Swt akan memberikannya kepada orang yang melaukan kebaikan.
Keempat, mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ada orang yang mengatakan, jika takut terhadap binatang buas, maka menjauhlah. Agar tidak dimangsa. Namun jika takut kepada Allah Swt, yang perlu dilakukan adalah mendekat. Agar semakin dicintai Allah Swt. Agar mendapat karuniaNya, keberkahanNya. Demikian juga agar kemenangan diperoleh, mendekatkan diri kepada Allah Swt adalah sebuah keniscayaan. Kita menginginkan kemenangan dengan cara Allah Swt. Karena hakikatnya Allah Swt yang memberikan kemenangan.
Ikhwatii fiillah.....
Untuk merealisasikan syarat kemenangan dakwah tersebut, maka diperlukan kesabaran. Karena sabar adalah puncak kemenangan. Perhatikan dan renungi pesan Ibnu ‘Athaillah, “ Bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kemulian Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidak berdayaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kekuasaan Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan kelemahanmu niscaya Ia menolongmu dengan kekuatan Nya “. (Kitab Al Hikam)
Terakhir adalah komitmen dalam perjuangan. “ Di dhuha ini, cahaya mulai terang dan kabut-kabut beringsut menjauhi objek pandang. Perjalanan belum sampai digaris finish. Bila dakwah makin merebak dan komitmen utuh, insya Allah tak ada masalah yang tak selesai “. Nasehat KH Rahmat Abdullah buat kita semua. Semoga Allah memberikan pertolongan dan kemenangan, bersebab giat kita dalam dakwah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
