Self-Love : Butuh Banget, Tapi Sering Disalahpahami
Eduaksi | 2026-04-12 10:00:10Oleh : Mustika Triwahyuni
Di era digital saat ini, remaja hidup sangat dekat dengan teknologi, terutama smartphone dan media sosial. Kehadiran teknologi memang membawa banyak manfaat, seperti kemudahan akses informasi, komunikasi yang lebih cepat, serta peluang untuk belajar dan berkembang. Namun, di balik semua kemudahan tersebut, terdapat dampak yang tidak selalu disadari dan sering kali luput dari perhatian.
Hampir semua aktivitas remaja sekarang terhubung dengan layar—mulai dari belajar, berkomunikasi, hingga mencari hiburan. Tidak sedikit yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling media sosial, mengikuti tren, atau sekadar melihat kehidupan orang lain. Sekilas terlihat biasa saja, bahkan dianggap sebagai bagian dari gaya hidup modern. Akan tetapi, tanpa disadari, kebiasaan ini perlahan memengaruhi cara remaja memandang dirinya sendiri, termasuk bagaimana mereka menilai harga diri dan kebahagiaan.
Banyak remaja mulai menunjukkan perubahan perilaku. Ada yang menjadi sulit lepas dari gadget, merasa kurang percaya diri, hingga terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Tidak sedikit juga yang terjebak dalam hubungan sosial yang tidak sehat atau mencoba hal-hal berisiko seperti merokok dan konsumsi alkohol sebagai bentuk pelarian. Di saat yang sama, masalah kesehatan mental seperti stres, kecemasan, overthinking, bahkan depresi semakin sering dialami. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan yang dihadapi remaja tidak hanya berasal dari dunia nyata, tetapi juga dari dunia digital yang mereka konsumsi setiap hari.
Fenomena ini sering dianggap wajar. “Namanya juga remaja, lagi fase cari jati diri,” begitu kata banyak orang. Memang benar, masa remaja adalah fase pencarian identitas, fase di mana seseorang mencoba memahami siapa dirinya dan ke mana arah hidupnya. Namun, jika tidak diarahkan dengan baik, pencarian ini bisa berubah menjadi kebingungan yang berkepanjangan, bahkan membuat remaja kehilangan arah dan tujuan hidup.
Di tengah kondisi ini, muncul satu istilah yang semakin populer, yaitu self-love. Banyak konten di media sosial yang mengajak kita untuk mencintai diri sendiri, menerima diri apa adanya, dan tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain. Secara konsep, hal ini tentu positif dan penting, terutama bagi remaja yang sedang membangun identitas diri dan membutuhkan rasa percaya diri yang kuat.
Namun, di sinilah letak masalahnya.
Self-love sering kali dipahami secara keliru. Tidak sedikit remaja yang mengartikannya sebagai kebebasan untuk melakukan apa saja demi merasa nyaman. Healing diartikan sebagai jalan-jalan tanpa batas, self-reward menjadi alasan untuk belanja berlebihan, dan “mencintai diri” dijadikan alasan untuk menolak kritik atau menghindari tanggung jawab. Bahkan, ada kecenderungan menjadikan self-love sebagai pembenaran atas perilaku yang sebenarnya merugikan diri sendiri.
Tanpa disadari, self-love yang seharusnya menjadi sarana pertumbuhan diri justru berubah menjadi sikap permisif, egois, dan berorientasi pada kesenangan sesaat. Akibatnya, muncul pola hidup yang konsumtif, mudah merasa kurang, dan sangat bergantung pada validasi orang lain. Ironisnya, semakin sering mencari kebahagiaan instan, justru semakin mudah merasa kosong dan tidak puas dengan diri sendiri.
Jika dilihat dari perspektif psikologi Islam, fenomena ini sebenarnya bisa dipahami. Dalam Islam, manusia bukan hanya makhluk fisik dan akal, tetapi juga memiliki dimensi ruhani yang sangat penting. Ketika aspek spiritual ini diabaikan, akan muncul kekosongan dalam diri yang sulit dijelaskan secara logika.
Kekosongan ini sering kali diisi dengan hal-hal instan—hiburan, media sosial, atau kesenangan sesaat. Padahal, yang dibutuhkan bukan sekadar distraksi, melainkan ketenangan yang lebih dalam dan bersifat menyeluruh. Ketenangan ini hanya dapat diperoleh ketika seseorang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhannya.
Islam juga mengenal konsep nafs, yaitu dorongan dalam diri manusia. Salah satunya adalah nafs al-ammarah, yaitu dorongan yang cenderung mengarah pada kesenangan tanpa batas dan tanpa mempertimbangkan nilai moral serta spiritual. Ketika dorongan ini tidak dikendalikan, seseorang akan mudah mengikuti keinginan sesaat tanpa memikirkan dampak jangka panjang.
Inilah yang sering terjadi pada remaja saat ini. Mereka mencari rasa “cukup” dari luar—dari like, komentar, tren, atau pengakuan orang lain—padahal rasa cukup itu seharusnya dibangun dari dalam diri. Ketika standar kebahagiaan ditentukan oleh orang lain, maka seseorang akan terus merasa kurang.
Dalam Islam, mencintai diri sendiri bukan berarti memanjakan diri. Justru sebaliknya, mencintai diri berarti menjaga diri. Menjaga dari hal-hal yang merusak, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Karena pada dasarnya, tubuh dan jiwa adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Artinya, kita tidak bebas memperlakukan diri sendiri sesuka hati, melainkan harus mempertimbangkan nilai-nilai kebaikan dalam setiap tindakan.
Islam menawarkan konsep self-love yang lebih dalam melalui tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Ini bukan proses instan, tetapi perjalanan panjang yang membutuhkan kesadaran, kesabaran, dan usaha yang terus-menerus. Seseorang diajak untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk, menghias diri dengan akhlak yang baik, serta mendekatkan diri kepada Allah sebagai sumber ketenangan.
Selain itu, ada konsep muhasabah atau introspeksi diri. Kita diajak untuk jujur pada diri sendiri—apa yang sudah baik dan apa yang masih perlu diperbaiki. Bukan untuk menyalahkan diri, tetapi untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Ada juga muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap tindakan kita. Kesadaran ini membuat seseorang lebih berhati-hati dalam bertindak, termasuk dalam memperlakukan dirinya sendiri.
Islam juga menekankan bahwa manusia memiliki kemuliaan (karāmah) dan harga diri (‘izzah) yang harus dijaga. Artinya, seseorang tidak seharusnya merendahkan dirinya dengan perilaku yang merusak, baik secara fisik maupun mental.
Di sisi lain, self-love dalam Islam tidak membuat seseorang menjadi egois. Justru sebaliknya, seseorang tetap memiliki tanggung jawab sosial. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga berkontribusi bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Di sinilah letak keseimbangannya.
Self-love bukan tentang “aku dulu, yang lain nanti”, tetapi tentang bagaimana kita menjaga diri sambil tetap peduli pada lingkungan sekitar dan menjalankan peran sosial dengan baik.
Sebagai refleksi, remaja perlu mulai memahami self-love secara lebih utuh. Bukan sekadar mengikuti tren, tetapi memahami maknanya secara mendalam. Tidak harus langsung berubah besar, cukup mulai dari hal-hal kecil yang konsisten.
Misalnya, mengatur penggunaan gadget agar tidak berlebihan, memberi waktu untuk diri sendiri tanpa distraksi, serta mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Selain itu, penting juga untuk mulai membangun hubungan dengan Allah melalui ibadah.
Shalat yang lebih khusyuk, dzikir, atau sekadar meluangkan waktu untuk tenang bisa menjadi langkah sederhana yang berdampak besar. Banyak orang mencari ketenangan ke mana-mana, padahal sumbernya sering kali sudah dekat.
Lingkungan juga sangat berpengaruh. Berteman dengan orang yang positif dapat membantu seseorang melihat dirinya dengan lebih sehat. Sebaliknya, lingkungan yang negatif justru bisa memperburuk kondisi mental.
Selain itu, memiliki tujuan hidup yang jelas juga sangat penting. Ketika seseorang tahu untuk apa ia hidup, maka ia tidak mudah terbawa arus tren atau tekanan sosial. Nilai tauhid membantu seseorang menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidup.
Pada akhirnya, self-love bukan tentang mengikuti apa yang sedang viral, tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan diri sendiri dengan benar.
Mencintai diri berarti menjaga diri, memperbaiki diri, dan mengarahkan diri ke jalan yang lebih baik.
Kesimpulannya, fenomena self-love di kalangan remaja merupakan hal yang penting, tetapi harus dipahami dengan benar. Jika dimaknai secara tepat, self-love dapat membantu remaja mencapai keseimbangan hidup, kesehatan mental yang baik, serta kebahagiaan yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
