Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image pdpm kabupaten pekalongan

Jika Kader tak Dibina, Siapa Menjaga Muhammadiyah?

Khazanah | 2026-04-12 06:56:19

Pernahkah kita bertanya dalam diam: jika hari ini kita lengah membina kader, siapa yang akan menjaga Muhammadiyah di masa depan?

Kebersamaan kader dan pimpinan dalam momentum silaturahmi sebagai wujud penguatan ukhuwah dan komitmen kaderisasi Muhammadiyah.

Pertanyaan ini mungkin terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang dalam. Di tengah derasnya arus zaman, ketika nilai-nilai berubah begitu cepat dan generasi muda dihadapkan pada beragam pilihan ideologi, kaderisasi bukan lagi sekadar agenda organisasi—melainkan sebuah panggilan tanggung jawab.

Muhammadiyah tidak dibangun dalam satu malam, dan tidak pula akan bertahan tanpa generasi yang siap melanjutkan perjuangan. Ia hidup karena ada tangan-tangan yang membina, hati-hati yang peduli, dan pikiran-pikiran yang terus menanamkan nilai. Tanpa itu, yang tersisa hanyalah nama, tanpa jiwa.

Kaderisasi dalam Muhammadiyah ibarat sebuah tim sepak bola. Tidak ada kemenangan yang diraih hanya dengan menunggu bola datang. Setiap pemain harus bergerak, mencari ruang, dan saling menguatkan. Begitu pula kader—ia tidak lahir dari penantian, tetapi dari proses pembinaan yang penuh kesungguhan.

Allah SWT seakan mengingatkan kegelisahan ini dalam firman-Nya:

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya..." (QS. An-Nisa: 9)

Ayat ini bukan sekadar peringatan tentang keluarga, tetapi juga tentang tanggung jawab kita terhadap generasi penerus. Kader yang lemah adalah cermin dari pembinaan yang terabaikan. Dan jika itu terjadi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya individu, tetapi masa depan gerakan.

Rasulullah SAW pun mengajarkan bahwa kehidupan seorang manusia tidak berhenti pada dirinya. Dalam sabdanya, beliau menyebutkan bahwa amal akan terus mengalir melalui ilmu yang bermanfaat dan generasi yang shalih. Bukankah kader yang kita bina hari ini bisa menjadi bagian dari amal itu? Menjadi penerus dakwah yang menjaga nilai-nilai Islam tetap hidup di tengah masyarakat.

Penyerahan simbolis sebagai bagian dari gerakan dakwah dan kepedulian, mencerminkan nilai pembinaan, keteladanan, dan keberlanjutan kaderisasi.

Namun realitasnya, membina kader bukan perkara mudah. Ia membutuhkan waktu, kesabaran, bahkan pengorbanan. Terkadang kita lebih sibuk dengan rutinitas organisasi daripada benar-benar memperhatikan tumbuhnya kader. Kita hadir dalam kegiatan, tetapi belum tentu hadir dalam pembinaan.

Padahal, teladan telah ditunjukkan oleh Ahmad Dahlan. Beliau tidak hanya mendirikan Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi, tetapi membangun manusia—mereka yang berpikir, berjuang, dan berani menjaga nilai. Kaderisasi dalam pandangan beliau adalah proses menghidupkan ruh, bukan sekadar menyampaikan materi.

Seperti pemain yang terus bergerak meski tanpa bola, kader Muhammadiyah harus terus hidup dalam dinamika—aktif, kreatif, dan siap mengambil peran. Tetapi pergerakan itu tidak akan lahir tanpa ruang. Di sinilah kepemimpinan diuji: apakah kita benar-benar memberi kesempatan, atau justru tanpa sadar membatasi?

Imam Syafi’i pernah mengingatkan, bahwa pahitnya belajar adalah harga dari kemuliaan ilmu. Maka, pembinaan kader pun adalah proses panjang yang tidak selalu mudah, tetapi selalu bermakna. Dari sanalah lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh dalam menjaga prinsip.

Hari ini, mungkin kita merasa Muhammadiyah baik-baik saja. Kegiatan berjalan, struktur organisasi ada, dan program terus terlaksana. Namun pertanyaannya bukan tentang hari ini. Pertanyaannya adalah: bagaimana dengan esok?

Jika kader tidak dibina, jika nilai tidak ditanamkan, jika kepemimpinan tidak membuka ruang—maka perlahan, tanpa kita sadari, fondasi itu bisa melemah.

Karena sejatinya, membina kader hari ini bukan hanya tentang hari ini. Ia adalah tentang esok, tentang masa depan, tentang siapa yang akan berdiri ketika kita sudah tidak lagi di tempat ini.

Maka, sebelum semuanya terlambat, mari kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar membina, atau baru sekadar menjalankan?

Sebab pada akhirnya, jawabannya akan menentukan satu hal penting:

Jika kader tak dibina, siapa yang akan menjaga Muhammadiyah?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image