Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image pdpm kabupaten pekalongan

Membina Kader Hari Ini, Menjaga Muhammadiyah Esok Hari

Khazanah | 2026-04-12 06:05:47

Kaderisasi dalam Muhammadiyah ibarat sebuah tim sepak bola yang dinamis. Sebuah tim tidak akan memenangkan pertandingan hanya dengan menunggu bola datang, tetapi harus aktif bergerak, menjemput peluang, dan membangun strategi bersama. Begitu pula dengan Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam yang berkemajuan, tidak cukup hanya menunggu kader tumbuh secara alami. Dibutuhkan kesadaran kolektif untuk membina, mengarahkan, dan merawat kader agar tetap berada dalam koridor ideologi dan nilai-nilai persyarikatan.

Kebersamaan kader Muhammadiyah dalam olahraga sebagai wujud kekompakan, kepemimpinan, dan semangat kaderisasi untuk menjaga Muhammadiyah hari ini dan esok.

Kepemimpinan dalam Muhammadiyah tidak boleh bersifat pasif. Ia harus proaktif dalam membuka ruang seluas-luasnya bagi kader untuk berkembang. Baik kader yang aktif di organisasi otonom (ortom), Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), maupun di berbagai majelis, semuanya harus mendapatkan perhatian dan pembinaan yang berkesinambungan. Kader tidak hanya dipandang sebagai pelengkap organisasi, tetapi sebagai aset utama yang akan menentukan keberlanjutan perjuangan Muhammadiyah di masa depan.

Allah SWT telah memberikan petunjuk tentang pentingnya mempersiapkan generasi penerus yang kuat, sebagaimana firman-Nya:

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya..." (QS. An-Nisa: 9)

Ayat ini memberikan isyarat bahwa tanggung jawab terhadap generasi penerus, termasuk kader dalam organisasi, adalah sebuah amanah yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Kader yang lemah, baik dari segi ideologi, pemahaman agama, maupun komitmen organisasi, akan menjadi titik lemah dalam keberlangsungan gerakan.

Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya kesinambungan dalam kebaikan melalui haditsnya:

"Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Dalam konteks kaderisasi, kader yang dibina dengan baik dapat menjadi bagian dari “ilmu yang bermanfaat” dan “anak shalih” dalam arti luas—yakni generasi penerus yang melanjutkan dakwah dan perjuangan Islam.

Sebagaimana yang dicontohkan oleh Ahmad Dahlan, kaderisasi bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga penanaman nilai, keteladanan, dan semangat perjuangan. Beliau tidak hanya mendirikan Muhammadiyah sebagai organisasi, tetapi juga membangun manusia-manusia yang memiliki komitmen kuat terhadap dakwah Islam yang mencerahkan. Kader yang lahir dari proses pembinaan yang benar akan memiliki keteguhan dalam menjaga identitas Muhammadiyah dan tidak mudah terpengaruh oleh arus ideologi lain.

Seperti pemain sepak bola yang tetap bergerak meskipun tidak sedang menguasai bola, kader Muhammadiyah harus terus aktif, kreatif, dan produktif dalam berbagai lini kehidupan. Di sinilah peran kepemimpinan menjadi sangat penting: menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya kader, memberikan kepercayaan, serta membuka peluang untuk berkontribusi dalam dakwah.

Seorang ulama besar, Imam Syafi’i rahimahullah, pernah berkata: “Barang siapa yang tidak merasakan pahitnya belajar walau sesaat, maka ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.” Kalam ini mengajarkan bahwa proses pembinaan kader memang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan pengorbanan. Namun hasilnya adalah generasi yang kuat, berilmu, dan berdaya juang tinggi.

Oleh karena itu, membina kader hari ini sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi Muhammadiyah. Ini bukan sekadar aktivitas organisasi, tetapi bagian dari menjaga amanah perjuangan Islam. Tanpa kaderisasi yang kuat, Muhammadiyah akan kehilangan arah dan daya geraknya.

Dengan kaderisasi yang terencana, terarah, dan berkelanjutan, Muhammadiyah akan tetap kokoh sebagai gerakan dakwah yang mencerahkan. Kader yang dibina dengan baik tidak hanya akan menjaga eksistensi Muhammadiyah, tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai Islam berkemajuan terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Membina kader hari ini adalah menjaga Muhammadiyah di hari esok.


Abdul Haris Hamam

( Bid Dakwah KOMINFO 2019-2023 )

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image