Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dina Alvionita

Ketika Seorang Ibu dan Istri Menghidupkan Pancasila dalam Keluarga

Parenting | 2026-04-07 16:30:25

Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor, saya selalu menyempatkan diri bermain sejenak bersama anak perempuan saya yang sebentar lagi akan memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD), dan menatap wajah polos bayi laki-laki saya yang baru berusia enam bulan. Di saat-saat itulah, pertanyaan dalam benak saya hadir: “Apa yang sudah saya tanamkan untuk mereka kemarin?”

Saya adalah seorang Aparatur Sipil Negara di lingkungan pemerintah daerah. Suami saya seorang pengusaha yang berjualan pakaian melalui platform e-commerce. Secara kasat mata, kehidupan kami cenderung sibuk. Di balik kesibukan itu, ada kekhawatiran yang terus mengusik benak saya: apakah Pancasila masih menjadi landasan keluarga kami dalam berperilaku?

Bukan tanpa alasan kekhawatiran itu muncul. Arus informasi yang deras akibat perkembangan teknologi digital, membuat anak-anak kini tumbuh di era di mana konten dari seluruh penjuru dunia dapat diakses hanya dengan satu sentuhan layar. Celakanya, tidak semua informasi yang mengalir itu membawa nilai-nilai yang sejalan dengan Pancasila.

Ibu adalah Sekolah Pertama

Ada pepatah yang saya pegang teguh: “Al-ummu madrasatul ula” yaitu ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Pepatah ini bukan sekadar ungkapan indah, melainkan sebuah tanggung jawab yang sangat nyata. Jauh sebelum anak mengenal bangku sekolah, gurunya yang pertama adalah seorang ibu, dengan teladan, tutur kata, dan perilaku sehari-hari.

Dalam konteks Pancasila, sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi fondasi pertama yang saya tanamkan. Selain melaksanakan shalat dan mengaji, saya membiasakan anak perempuan saya untuk berdoa sebelum dan sesudah beraktivitas, mengajaknya mengenal cerita-cerita teladan dalam agama, dan mengajarkan untuk bersyukur atas pemberian dari Tuhan. Untuk si kecil yang baru berusia enam bulan, penanaman fondasi dilakukan dengan memperdengarkan lantunan doa.

Sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, saya terapkan melalui pembiasaan empati sejak dini. Saya mengajarkan anak untuk tidak mengejek orang lain, memperhatikan perasaan teman, dan berbagi. Serta tidak lupa untuk mengajarkan sopan santun dengan membiasakan mengucapkan 3 (tiga) “kata ajaib” yaitu maaf, tolong dan terima kasih. Di era media sosial yang sarat dengan perundungan siber (cyberbullying) dan konten merendahkan sesama, penanaman nilai kemanusiaan di rumah menjadi tembok pertahanan pertama.

Sila ketiga, “Persatuan Indonesia”, saya hidupkan dengan memperkenalkan keberagaman kepada anak. Saya mengenalkannya dengan lagu-lagu daerah, dan makanan khas Nusantara. Saya ingin anak saya tumbuh sebagai pribadi yang bangga menjadi orang Indonesia.

Sila keempat dan kelima, tentang musyawarah dan keadilan, saya ajarkan melalui hal-hal sederhana: berdiskusi dalam menentukan menu makan atau kegiatan yang akan dilaksanakan saat akhir pekan, mengantri dengan sabar, berbagi mainan, dan tidak mengambil hak orang lain. Nilai-nilai ini tampak kecil, tetapi itulah benih-benih demokrasi dan keadilan sosial yang kelak akan berbuah dalam kehidupan bermasyarakat.

Membentengi Anak di Era Digital

Tantangan terbesar yang saya hadapi sebagai seorang ibu di zaman ini adalah bagaimana menyikapi arus informasi digital yang tidak terbendung. Anak perempuan saya yang hendak masuk SD sudah mulai mengenal konten video pendek. Saya tidak bisa menutup aksesnya sepenuhnya. Sehingga yang saya lakukan adalah mendampingi dan membangun kesadaran kritisnya sejak dini.

Caranya? Saya menjadikan Pancasila sebagai “kacamata” untuk menilai setiap konten. Pernah suatu kali, anak saya menonton video yang didalamnya terdapat perilaku mengejek, saya pun bertanya “Kak, kalau mengejek teman seperti yang di video itu, itu hal yang bagus atau tidak?”. Anak saya berpikir sejenak, lalu menjawab, “Tidak, Mah. Itu tidak bagus.” Percakapan kecil seperti inilah yang perlahan membangun nalar kritis dan moralnya.

Saya juga secara sadar menciptakan “waktu tanpa gadget” di rumah kami. Seperti membatasi hanya bisa menggunakan gadget selama 3 (tiga) kali sehari dengan durasi masing-masing 30 menit, serta membaca cerita sebelum tidur menjadi ritual harian yang kami jaga. Dalam momen membaca cerita itu, saya menyisipkan nilai-nilai Pancasila melalui pertanyaan, dan refleksi bersama.

Istri sebagai Partner Pengusaha yang Berintegritas

Peran saya tidak berhenti sebagai ibu. Sebagai istri dari seorang pengusaha e-commerce, saya menyadari bahwa bisnis pun tidak boleh lepas dari nilai-nilai Pancasila. Dunia perdagangan digital, yang sarat dengan persaingan ketat, godaan membuat ulasan palsu, justru membutuhkan landasan moral yang kuat.

Di sinilah saya hadir sebagai partner. Saya kerap berdiskusi dengan suami tentang etika berbisnis: apakah deskripsi produk sudah jujur? Apakah foto yang digunakan sesuai dengan barang aslinya? Bagi saya, kejujuran dalam berdagang adalah pengamalan nyata dari sila kedua Pancasila, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Anak-anak pun melihat bagaimana orang tuanya berbisnis dengan cara yang benar dan bermartabat. Itulah pelajaran kewirausahaan berkarakter Pancasila yang paling nyata bagi mereka.

Kemudian saya juga mendorong agar sebagian rezeki dari usaha selalu disisihkan untuk berbagi kepada orang yang membutuhkan. Kebiasaan berbagi ini kami lakukan bersama anak-anak, agar mereka tumbuh dengan memahami bahwa rezeki yang didapatkan bisa menjadi sarana untuk menebar manfaat bagi sesama.

Rumah sebagai Benteng Pancasila

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman yang begitu cepat, saya meyakini bahwa rumah adalah benteng pertama Pancasila. Dan seorang ibu, dalam kapasitasnya sebagai pendidik pertama, pengasuh, partner suami, sekaligus warga negara, memiliki peran yang tidak tergantikan dalam memastikan benteng itu tetap kokoh.

Sebagai ASN, saya juga mengemban amanah untuk menjadi teladan nilai-nilai kebangsaan, tidak hanya di tempat kerja, tetapi justru dimulai dari rumah sendiri. Karena bangsa yang besar dibangun dari keluarga-keluarga yang kuat. Dan keluarga yang kuat dimulai dari seorang ibu yang teguh memegang nilai.

Kepada para ibu di luar sana yang juga menyimpan kekhawatiran serupa, ingat bahwa kita tidak harus sempurna. Kita hanya perlu konsisten: setiap hari, dalam hal-hal kecil. Karena dari kebiasaan kecil yang berakar pada nilai Pancasila itulah, anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan berjiwa Pancasila.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image