Malioboro Lumpuh Total dalam Perayaan 80 Tahun Sri Sultan Hamengkubu Buwono X
Kultura | 2026-04-02 10:52:44YOGYAKARTA – Hari ini, Kamis (2/4/2026), Kota Yogyakarta bersalin rupa menjadi panggung budaya yang megah. Ribuan warga dan wisatawan tumpah ruah memadati jantung kota untuk merayakan momentum bersejarah: hari ulang tahun ke-80 Sri Sultan Hamengkubu Buwono X. Sebagai Raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, sosok beliau bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan simbol hidup keberlanjutan tradisi di tengah arus modernitas.
Puncak perayaan ini ditandai dengan Kirab Budaya Nusantara yang sangat kolosal. Dimulai dari gerbang utara Malioboro hingga pelataran Keraton, iring-iringan prajurit, seniman, dan kereta kencana menciptakan pemandangan yang memukau mata. Perayaan delapan dekade usia Sang Sultan ini dianggap sebagai simbol kematangan kepemimpinan beliau dalam menjaga harmoni dan keistimewaan DIY selama puluhan tahun terakhir.
Kawasan Malioboro, yang biasanya riuh dengan aktivitas belanja, kali ini benar-benar didominasi oleh dentuman gamelan dan sorak-sorai penonton. Sejak pagi hari, arus manusia sudah mengalir dari berbagai penjuru DIY. Antusiasme ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional antara rakyat Yogyakarta dengan pemimpin mereka, yang hari ini genap memasuki usia "delapan dasawarsa" dengan kesehatan dan kharisma yang tetap terjaga.
Guna memastikan kelancaran acara, jajaran Polda DIY telah menerapkan rekayasa lalu lintas yang cukup ketat. Sejumlah ruas jalan menuju pusat kota dialihkan untuk memberikan ruang bagi barisan kirab. Meskipun terjadi kemacetan di beberapa titik penyangga, warga tampak maklum dan justru memilih memarkirkan kendaraan jauh dari lokasi demi bisa berjalan kaki menuju Malioboro untuk menyaksikan momen langka ini.
Di barisan kirab, tampak berbagai elemen masyarakat ikut serta, mulai dari bergada rakyat hingga komunitas seni lintas generasi. Tidak hanya menampilkan budaya Jawa, kirab kali ini juga melibatkan perwakilan budaya dari luar daerah sebagai simbol Yogyakarta sebagai "City of Tolerance". Kehadiran elemen-elemen ini mempertegas pesan perdamaian yang selalu digaungkan oleh Sri Sultan dalam berbagai pidato kenegaraannya.
Sultan Hamengkubu Buwono X sendiri terlihat menyapa warga dari atas kereta kencana dengan senyum khasnya yang tenang. Mengenakan ageman kebesaran yang bersahaja namun penuh wibawa, beliau didampingi oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dan putra-putri serta cucu-cucu beliau. Kehadiran keluarga kerajaan di tengah rakyat ini menciptakan momen intim yang menghapuskan sekat antara penguasa dan rakyatnya.(Triatmini-MAN 3 Bantul)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
