Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Pusat Inovasi Perempuan

Generasi Scroll dan Jiwa Kesepian

Edukasi | 2026-03-29 14:16:41

Dr. Susianah Affandy, M.Si

Wakil Ketua Umum IPSM Nasional

Di zaman sekarang, kesepian tidak selalu datang dari sepi. Ia justru hadir di tengah keramaian—di layar ponsel yang terus menyala, di jempol yang tak berhenti bergerak, di kebiasaan scrolling yang seperti tak ada ujungnya. Kita hidup di era “generasi scroll”: bangun tidur buka HP, sebelum tidur masih scroll lagi.

Informasi tak pernah habis. Tapi entah kenapa, hati justru terasa kosong.

Scroll Tanpa Henti, Tanpa Makna

Media sosial telah mengubah cara manusia menghabiskan waktu. Bagi milenial dan Gen-Z, scrolling bukan lagi aktivitas tambahan—melainkan rutinitas harian.

Survei global menunjukkan bahwa lebih dari separuh Gen-Z membuka media sosial beberapa kali sehari, bahkan sebagian mengaksesnya setiap jam.

Masalahnya, aktivitas ini sering tidak disadari. Kita tidak lagi mencari informasi—kita hanya terjebak dalam arus konten.

Fenomena ini dikenal sebagai doom scrolling : kebiasaan mengonsumsi konten terus-menerus tanpa tujuan jelas.

Ketika Media Sosial Menggerus Kesehatan Mental

Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan hubungan kuat antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan gangguan kesehatan mental.

Studi menemukan bahwa penggunaan intens berhubungan dengan stres dan kecemasan meningkat memicu FOMO (fear of missing out) dan rasa tidak puas terhadap diri sendiri. Hal ini menyebabkan kesepian, depresi, dan tekanan psikologis.

Bahkan, overexposure media sosial terbukti berkaitan dengan : rendahnya harga diri, gangguan tidur dan kecemasan sosial

Yang menarik, riset terbaru juga menemukan bahwa semakin sering seseorang menggunakan media sosial, semakin tinggi tingkat kesepiannya. Artinya, koneksi digital tidak selalu berarti koneksi emosional.

Hidup dalam Budaya Perbandingan

Media sosial adalah panggung. Dan semua orang ingin tampil sempurna. Setiap hari kita melihat liburan orang lain, pencapaian orang lain dan kebahagiaan orang lain

Tanpa sadar, kita mulai membandingkan. Padahal, yang kita lihat hanyalah “highlight”, bukan kehidupan utuh. Akibatnya muncul rasa tidak cukup, krisis percaya diri dan tekanan untuk selalu terlihat bahagia. Di sinilah media sosial menjadi mesin pembanding sosial yang tak pernah berhenti.

Hoaks, Hate Speech, dan WA Group yang Melelahkan

Masalah lain yang semakin nyata adalah maraknya hoaks dan ujaran kebencian, terutama di grup WhatsApp.

Banyak masyarakat mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Mereka langsung membagikan tanpa cek fakta dan terjebak dalam konflik digital. Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya literasi digital.

Banyak pengguna tidak memahami bahwa: algoritma media sosial memprioritaskan konten yang emosional. Informasi yang sering muncul bukan berarti benar dan mesin pencari seperti Google bekerja berdasarkan relevansi, bukan kebenaran mutlak

Akibatnya, hoaks dan hate speech menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Dan yang paling berbahaya: ia tidak hanya menyesatkan, tetapi juga menguras energi mental kolektif masyarakat

Generasi Rebahan dan Mental yang Rapuh?

Tak sedikit yang menyebut milenial dan Gen-Z sebagai “generasi rebahan”. Label ini mungkin terdengar keras, tetapi ada fenomena nyata di baliknya : lebih banyak konsumsi konten daripada produksi. Lebih nyaman di dunia digital daripada realitas sosial dan mudah lelah secara emosional

Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi berpengaruh langsung terhadap kesehatan mental, meski bukan satu-satunya faktor.

Namun ketika intensitas tinggi bertemu dengan: tekanan sosial, kurangnya dukungan emosional dan minimnya literasi digital maka lahirlah generasi yang: terhubung secara digital, tetapi rapuh secara mental.

Kesepian di Tengah Keramaian Digital

Kita kini hidup dalam paradoks: punya ratusan teman onlin tapi sedikit teman bicara. Punya banyak notifikasi tapi minim koneksi emosional

Kesepian di era digital bukan karena tidak ada orang— tetapi karena tidak ada kedalaman hubungan.

Bukan Menjauh, Tapi Bijak

Media sosial bukan musuh. Ia adalah alat. Masalahnya ada pada cara kita menggunakannya. Beberapa hal yang bisa menjadi refleksi : batasi waktu scrolling, tingkatkan literasi digital, jangan mudah percaya dan menyebarkan informasi dan prioritaskan interaksi nyata

Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan sekadar koneksi tetapi makna dalam hubungan. Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya lepas dari media sosial. Tapi kita bisa memilih bagaimana menggunakannya.

Sesekali, cobalah berhenti scrolling. Lihat sekitar. Berbicara dengan orang terdekat.

Karena bisa jadi, yang kita cari selama ini di layar, sebenarnya ada di kehidupan nyata yang kita lewatkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image