Idul Fitri di Gaza: Kala Takbir Bersahutan dengan Debu Reruntuhan
Agama | 2026-03-25 17:02:40
Tahun ini, gema takbir di langit Gaza tidak lagi bersahutan dengan keriuhan pasar atau tawa anak-anak di sudut kota, melainkan membelah sunyinya debu dan reruntuhan beton yang kini menjadi saksi bisu sebuah tragedi. Idul Fitri yang sejatinya adalah hari kemenangan, hadir dengan wajah yang begitu getir bagi Muslim di sana—merayakan Lebaran di atas tanah yang sedang terluka parah dengan sajadah yang terbentang di antara puing-puing bangunan. Meski nestapa terus mendera dan duka kian mendalam, keteguhan hati mereka seolah membuktikan bahwa iman takkan pernah luruh, sekalipun kebahagiaan harus dirajut dari sisa-sisa kehancuran yang belum juga usai.
Namun, di balik gempita takbir yang syahdu, tersingkap sebuah paradoks global yang menyakitkan. Perhatian internasional yang semula tertuju pada luka kemanusiaan di Gaza, kini perlahan mulai terdistorsi oleh kalkulasi politik kekuasaan. Kita menyaksikan bagaimana narasi dunia bergeser; dari upaya menghentikan genosida menjadi eskalasi ketegangan regional yang lebih menguntungkan agenda hegemoni Barat. Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati saat melihat sebagian negeri muslim seolah terjebak dalam dilema aliansi strategis, yang secara tak sadar justru membiarkan derita Gaza tertimbun oleh isu-isu keamanan global lainnya. Seolah-olah, kemerdekaan Palestina hanyalah komoditas yang bisa dikesampingkan demi stabilitas semu yang didikte oleh pihak-pihak yang tak pernah tulus menginginkan keadilan.
Di sinilah relevansi spiritual kita diuji. Al-Qur'an melalui Surah Al-Fath ayat 29 telah memberikan garis yang tegas: bahwa iman menuntut kasih sayang dan kelembutan yang tak terbatas terhadap sesama Muslim, sekaligus keteguhan sikap yang tak tergoyahkan di hadapan segala bentuk kezaliman. Semangat ukhuwah islamiyah bukanlah sekadar jargon dalam ceramah, melainkan ikatan ideologis yang seharusnya menggerakkan seluruh potensi umat untuk mematahkan belenggu penindasan di Gaza.
Perintah untuk bersungguh-sungguh dalam membela agama Allah (jihad) sebagaimana tertuang dalam Surah At-Taubah ayat 123, menjadi pengingat bahwa penderitaan saudara kita adalah ujian bagi harga diri kita sendiri. Namun, kekuatan ini hanya akan menjadi nyata jika tidak lagi tercerai-berai oleh sekat-sekat nasionalisme sempit. Perjuangan Gaza memerlukan lebih dari sekadar bantuan kemanusiaan; ia memerlukan persatuan politik yang paripurna di bawah naungan kepemimpinan yang berlandaskan manhaj kenabian. Sebuah kepemimpinan yang tidak hanya berwibawa di hadapan dunia, tetapi juga memiliki keberanian untuk menyatukan barisan Muslim dalam satu komando yang adil, demi mewujudkan kemerdekaan hakiki bagi bumi para nabi.
Sebab, Idul Fitri tahun ini seharusnya menjadi pengingat yang kuat bahwa umat Islam adalah satu tubuh yang utuh; ketika Gaza menderita, setiap detak jantung Muslim di belahan dunia lain semestinya merasakan perih yang sama. Selama perdamaian dan kemerdekaan Palestina hanya dipandang sebelah mata di bawah bayang-bayang ambisi hegemoni, maka selama itu pula keadilan bagi warga Gaza akan tetap menjadi janji yang tertunda. Di hari kemenangan ini, Gaza mengajarkan kita bahwa merayakan Idul Fitri bukan sekadar ritual, melainkan tentang menjaga api harapan agar tetap menyala di tengah kegelapan nestapa yang terus mendera.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
