Mahasiswa Cuma Jadi Pasar? Tren Halal Naik, Tapi Siapa yang Untung?
Gaya Hidup | 2026-03-24 21:45:12Di sekitar kampus, tren gaya hidup halal semakin terasa. Dari makanan, minuman, sampai skincare, label halal kini jadi salah satu pertimbangan utama mahasiswa sebelum membeli produk.
Tapi ada satu hal yang jarang disadari: dari semua produk halal yang kita konsumsi setiap hari, berapa banyak yang benar-benar kita tahu asalnya?
Pengamatan sederhana di lingkungan mahasiswa menunjukkan fenomena yang cukup menarik. Banyak mahasiswa mulai beralih ke produk halal karena dianggap lebih aman dan terpercaya. Namun, di saat yang sama, sebagian besar tidak benar-benar memperhatikan apakah produk tersebut berasal dari dalam negeri atau luar negeri.
Di sinilah letak ironi yang sering terlewat.
Secara global, industri halal sedang mengalami pertumbuhan pesat. Laporan dari State of the Global Islamic Economy Report mencatat bahwa nilai industri halal dunia telah melampaui 2 triliun dolar Amerika. Angka ini menunjukkan bahwa halal bukan lagi sekadar kebutuhan religius, tetapi sudah menjadi kekuatan ekonomi global.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia seharusnya berada di posisi strategis dalam industri ini. Namun kenyataannya, Indonesia masih lebih sering berperan sebagai pasar dibandingkan sebagai produsen.
Fenomena ini terlihat jelas di kalangan mahasiswa. Produk halal memang semakin diminati, tetapi mayoritas mahasiswa belum melihat halal sebagai peluang ekonomi. Halal masih diposisikan sebagai “apa yang dibeli”, bukan “apa yang bisa diciptakan”.
Contoh paling dekat bisa dilihat dari tren skincare halal. Produk seperti Wardah memang cukup populer di kalangan mahasiswa. Namun, jika dibandingkan dengan banyaknya produk lain di pasaran, jumlah brand lokal yang benar-benar berkembang di industri halal masih terbatas.
Artinya, permintaan sudah ada, bahkan sangat besar. Tapi apakah kita sudah siap dari sisi produksi?
Keberadaan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) memang menjadi langkah penting dalam menjamin kehalalan produk. Namun sertifikasi saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan peningkatan kualitas, inovasi, dan daya saing produk lokal.
Masalah utamanya bukan pada kurangnya minat terhadap produk halal, tetapi pada kurangnya keberanian untuk masuk ke industri tersebut.
Mahasiswa hari ini sebenarnya memiliki posisi strategis. Mereka bukan hanya konsumen, tetapi juga calon pelaku usaha. Mereka yang setiap hari menjadi pasar, sebenarnya juga memiliki potensi untuk menjadi produsen.
Namun pertanyaannya, apakah kita hanya akan berhenti sebagai konsumen?
Jika tren halal di kalangan mahasiswa terus meningkat tanpa diikuti dengan kesadaran untuk memanfaatkan peluangnya, maka Indonesia akan tetap berada di posisi yang sama: pasar besar dengan peran kecil dalam produksi.
Sebaliknya, jika generasi muda mulai melihat halal sebagai peluang bisnis, maka perubahan besar bisa terjadi. Dari yang sebelumnya hanya membeli, menjadi menciptakan.
Pada akhirnya, masa depan industri halal tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau data global. Ia justru ditentukan oleh pilihan sederhana yang dibuat setiap hari oleh generasi muda: apakah akan terus membeli, atau mulai membangun?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
