Masha, Sang Beruang, dan Potret Sahabat untuk Anak
Sastra | 2026-03-23 14:10:12
Hidup berdampingan dengan anak kecil sering kali menjadi ujian kesabaran tersendiri. Menghadapi rumah yang berantakan, tembok penuh coretan, hingga anak yang tantrum, dapat membuat orang dewasa tersulut emosi. Namun, sebelum amarah meledak dan bentakan keluar dari mulut, sepertinya kita—para orang dewasa—perlu belajar dari serial sastra anak dunia yang mengajarkan tentang pola pengasuhan yang tepat bagi anak-anak. Salah satunya yang tersaji dalam kisah dongeng legendaris asal Rusia yang populer bertajuk Masha and the Bear.
Sebagian orang mungkin mengira Masha and the Bear hanyalah serial kartun pengisi waktu luang anak. Padahal, jauh sebelum diadaptasi menjadi animasi layar kaca, kisah ini berakar dari cerita rakyat asal Rusia yang menceritakan tentang seorang gadis kecil yang tersesat di hutan dan bertemu dengan beruang. Dongeng ini sebenarnya membawa kritik sosial sekaligus pelajaran psikologis terutama berkaitan dengan bagaimana sastra memposisikan anak di tengah dunia orang dewasa.
Selama ini, karya sastra anak klasik dunia seolah selalu mencekoki pembacanya dengan standar dongeng-dongeng lawas seperti kisah Cinderella hingga Snow White. Dalam literatur tersebut, "anak baik" selalu direpresentasikan sebagai sosok yang pendiam, penurut, dan pasif. Anak cenderung diposisikan harus tunduk pada otoritas orang dewasa. Namun, pada karakter Masha justru mendobrak gambaran tentang dunia anak yang tercipta oleh kebanyakan cerita sebelumnya. Masha sang tokoh anak diposisikan memegang kendali penuh atas alur cerita, sementara Sang Beruang (representasi orang dewasa) diposisikan sebagai pihak yang lebih melayani. Dalam hal ini, Masha mengambil peran anak yang sangat aktif. Ia mampu merepresentasikan realita anak balita yang sesungguhnya di dunia nyata, yaitu berisik, egois, tidak bisa diam, dan rasa ingin tahunya bisa menghancurkan seisi rumah. Melalui tokoh Masha, kemudian menyadarkan kita bahwa wajar jika anak-anak itu merepotkan karena mereka memiliki dunia yang cenderung lebih bebas selaras usianya.
Di sisi lain, karakter Beruang menjadi sahabat sekaligus cerminan pola asuh yang tepat untuk anak. Meskipun berulang kali rumahnya dihancurkan dan waktu istirahatnya diganggu, Beruang tidak pernah sekali pun memukul, membentak kasar, atau mengurung Masha. Beruang justru memposisikan dirinya sebagai pelindung. Ia memberi batasan dengan tegas saat Masha dalam bahaya, tapi tetap membiarkan anak perempuan itu bereksplorasi.
Dalam konteks ini, cerita Masha dan Beruang mampu menyentil keras gaya hidup orang dewasa yang terlalu kaku. Pada adegan-adegan di mana Masha tidak muncul, kehidupan si Beruang memang tampak rapi dan damai. Ia meminum teh, membaca buku, dan menyapu lantai, namun di sisi lain sangat sepi dan hampa. Kehadiran anak kecil yang berisik itulah yang sebenarnya mengembalikan dinamika dan kehangatan. Beruang yang tadinya hanya ingin hidup tenang di zona nyamannya, dipaksa oleh kehadiran Masha untuk kembali menertawakan hal-hal kecil.
Pada akhirnya, karya sastra anak dunia seperti Masha and the Bear menyadarkan kita bahwa sastra anak bukanlah bacaan yang kekanak-kanakan. Ia adalah cermin tamparan yang lembut bagi para orang dewasa. Sebelum menuntut anak-anak menjadi sosok penurut dan sempurna, kita perlu juga belajar menjadi orang dewasa yang sabar dan layak dijadikan teladan dalam mengimbangi perkembangan usia anak-anak.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
