Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Regulasi Emosi Anak Sekolah Dasar
Parenting | 2025-12-26 18:07:24
Regulasi emosi merupakan kemampuan seorang anak untuk memahami, mengontrol, dan mengekspresikan emosi secara tepat. Pada masa sekolah dasar, kemampuan ini penting untuk mendukung proses belajar, interaksi sosial, dan pembentukan karakter. Salah satu faktor yang sangat memengaruhi regulasi emosi adalah pola asuh orang tua.
Menurut Baumrind (1971) membagi pola asuh menjadi tiga yaitu authoritative (demokratis), authoritarian (otoriter), dan permissive (memanjakan).
- Pola asuh authoritative (demokratis)
Ditandai dengan adanya sebuah kehangatan, komunikasi terbuka, dan batasan yang konsisten. Orang tua biasanya memberikan kebebasan namun tetap menetapkan aturan yang jelas. Anak juga diberikan kesempatan untuk mengungkapkan pendapat dan emosinya, tetapi tetap diarahkan untuk bertanggung jawab. Gaya pola asuh ini dianggap paling efektif dalam membangun regulasi emosi karena anak belajar mengenali perasaan mereka sekaligus memahami cara bagaimana merespons situasi secara tepat.
- Pola asuh authoritarian (otoriter)
Otoriter cenderung kaku, menuntut kepatuhan penuh, serta mengedepankan hukuman. Orang tua jarang memberikan ruang dialog sehingga anak tidak terbiasa untuk mengekspresikan emosi secara sehat. Akibatnya, anak cenderung menekan emosi atau meluapkannya secara tiba-tiba.
- Pola asuh permissive (memanjakan)
Ditandai dengan adanya kehangatan tinggi tetapi minim aturan dan batasan. Orang tua cenderung membiarkan anak melakukan keinginannya tanpa banyak arahan. Hal ini menyebabkan anak kurang belajar cara mengontrol impuls dan kesulitan memahami konsekuensi, sehingga regulasi emosinya kurang berkembang dengan baik.
Menurut Eisenberg et al. (2001), pola asuh yang minim kehangatan dan dukungan dapat meningkatkan risiko munculnya masalah emosional pada anak, seperti mudah marah atau sulit mengendalikan diri. Pola asuh permisif pun tidak ideal, karena kurangnya aturan membuat anak sulit belajar mengontrol impuls dan emosi.
Gross (1998) juga menjelaskan bahwa jika regulasi emosi berkembang melalui proses pembelajaran sosial. Maka anak meniru bagaimana orang tua merespons emosi. Bila orang tua menunjukkan sikap tenang, empati, dan konsisten, anak akan lebih mudah membentuk regulasi emosi yang sehat.
Kemudian adanya hasil penelitian di Indonesia oleh Rahayu dan Listyandini (2020) juga menunjukkan bahwa pola asuh demokratis memiliki hubungan positif dengan kemampuan regulasi emosi pada anak sekolah dasar. Anak yang mendapat dukungan emosional, arahan jelas, dan komunikasi terbuka dari orang tua menunjukkan kontrol emosi yang lebih baik dibandingkan anak dengan pola asuh lain.
Secara keseluruhan pola asuh yang hangat, komunikatif, dan terstruktur. Khususnya pola asuh demokratis merupakan dasar penting dalam membantu anak sekolah dasar mengembangkan kemampuan mengatur emosinya.
RefrensiBaumrind, D. (1971). Current patterns of parental authority. Developmental Psychology Monograph, 4(1), 1–103.Eisenberg, N., et al. (2001). The relations of regulation and emotionality to children’s externalizing and internalizing problem behavior. Child Development, 72(4), 1112–1134.Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299.Rahayu, E., & Listyandini, R. A. (2020). Pola asuh dan regulasi emosi pada anak usia sekolah. Jurnal Psikologi dan Pendidikan Indonesia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
