Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image qaila andari

Kurikulum Berbasis Psikologi, Mungkinkah Terwujud?

Eduaksi | 2026-01-03 14:13:49
Gambar hasil AI

Pendidikan itu bukan cuma soal apa yang diajarin, tapi juga bagaimana cara mengajar dan ke siapa materinya disampaikan. Nah, praktik di lapangan, kurikulum sering banget lebih fokus pada pencapaian akademik daripada mengerti karakter psikologis siswa. Akhirnya, muncul pertanyaan besar: Tidak bisakah kurikulum pendidikan dibuat utuh berdasarkan prinsip psikologi pendidikan?Psikologi pendidikan itu mempelajari proses belajar, perkembangan otak, motivasi, emosi, dan karakteristik siswa dalam belajar. Setiap anak punya gaya belajar sendiri, kecepatan memahami materi, dan latar belakang psikologis yang unik. Makanya kurikulum yang ideal harus bisa menyeimbangkan semua keragaman ini.

Misalnya, teori Jean Piaget mengatakan anak belajar bertahap sesuai tahapan perkembangannya. Sementara Lev Vygotsky membahas pentingnya interaksi sosial dan bantuan orang lain. Kalau prinsip-prinsip ini diterapin di kurikulum, belajar jadi lebih bermakna dan cocok banget sama kebutuhan siswa. Kurikulum konvensional biasanya seragam dan hanya mengejar hasil kognitifnya saja.

Penilaiannya hanya fokus pada nilai akhir, bukan proses belajarnya. Akibatnya, siswa yang belajarnya berbeda dari teman-teman sekelasnya, bisa merasa tertinggal, stres, bahkan kehilangan motivasi. Dari sisi psikologi pendidikan, tekanan akademik yang kelewat dapat membuat kesehatan mental siswa terganggu. Stres, cemas, dan kurang percaya diri sering muncul dalam sistem pendidikan yang kurang peduli aspek psikologisSebenarnya, kurikulum berbasis psikologi pendidikan punya peluang besar untuk direalisasikan, tapi sekarang ada tren pendidikan yang fokus ke siswa (student-centered learning).

Pendekatan ini menjadikan siswa menjadi pemain utama, bukan hanya menerima materi saja dari guru. Kurikulum seperti ini dapat dirancang sambil melihat tahap perkembangan anak, kebutuhan emosi, dan motivasi dari dalam. Metode belajar seperti proyek kelompok, diskusi, dan refleksi diri bisa membantu siswa mengembangkan pikiran kritis plus kecerdasan emosi.

Guru juga bukan cuma jadi pengajar, tapi juga berperan sebagai fasilitator dan pendamping. Guru yang paham psikologis pendidikan akan lebih peka dengan kesulitan siswa dan membuat suasana belajar yang aman dan mendukung. Namun, meski potensial, implementasinya masih ada kendala. Salah satunya, guru-guru belum semua pemahaman konsep psikologi pendidikan. Banyak yang kurang latihan soal pendekatan ini.

Sistem evaluasi yang masih fokus pada nilai dan ujian juga menjadi masalah. Kurikulum yang fokus proses butuh penilaian holistik, seperti penilaian autentik dan portofolio, yang belum diterapkan, Kurikulum berbasis psikologi pendidikan bukan sekedar mimpi, tapi kebutuhan di dunia pendidikan yang kompleks saat ini.

Dengan memahami karakter psikologis siswa, kurikulum dapat dibuat lebih manusiawi, inklusif, dan efektif.Mewujudkannya memerlukan komitmen dari pembuat kebijakan, guru, dan masyarakat. Kalau psikologi pendidikan menjadi dasar utama, pendidikan bukan hanya menghasilkan siswa yang cerdas akademik, tapi juga sehat mental dan emosi dalam belajar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image