Mindfulness dalam Shalat Guna Menggapai Kesejukan Jiwa
Khazanah | 2026-03-16 09:36:48MINDFULNESS DALAM SHALAT GUNA MENGGAPAI KESEJUKAN JIWA
Apakah kita merasa shalat yang kita praktikkan selama ini “kagak ngefek” bagi kehidupan sehari-hari, terutama dampak kepada kesejukan jiwa? Kalau jawabannya iya, berarti shalat kita masih bersifat ritual-formal alias hanya sekadar gugur kewajiban. Shalat yang demikian biasanya ditandai dengan menjalankan shalat secara cepat bahkan terburu-buru, mengingat masa lalu atau memikirkan masa depan, serta tanpa kesadaran penuh (mindfulness).
Pada tulisan kali ini saya ingin membahas mengenai mindfulness dalam shalat. Mindfulness sendiri adalah kesadaran diri yang melibatkan perhatian penuh terhadap pikiran, emosi, dan pengalaman tubuh, dengan sikap penerimaan tanpa penilaian. Ia merupakan praktik spiritual sekaligus psikologis yang menekankan pada hadirnya diri secara utuh di saat ini—tanpa menghakimi, tanpa larut dalam masa lalu, dan tanpa terburu-buru pada masa depan. Praktik ini membuat seseorang lebih mampu mengendalikan diri dan tidak bereaksi secara otomatis terhadap situasi apa pun.
Sebagai seorang ahli ibadah, mindfulness bisa dipandang sebagai jalan untuk menyatukan tubuh, pikiran, dan jiwa dalam harmoni. Ia bukan sekadar teknik relaksasi, melainkan latihan untuk kembali ke dalam diri—keheningan batin yang membuka ruang bagi kebijaksanaan guna meraih kesejukan jiwa.
Mindfulness memiliki tiga aspek utama, yaitu: 1) Awareness, menyadari apa yang sedang terjadi di dalam dan di luar diri; 2) Attention, fokus pada momen saat ini dan di sini; dan 3) Acceptance, menerima pengalaman apa adanya, tanpa menolak atau melekat berlebihan.
Penerapan Mindfulness dalam Shalat
Dalam Islam kita diperintahkan untuk melaksanakan shalat dengan khusyu’. Khusyu’ dalam shalat dan mindfulness dalam konteks modern sebenarnya memiliki inti yang sama: menghadirkan kesadaran penuh, fokus, dan ketenangan dalam momen yang sedang dijalani. Perbedaannya, khusyu’ berorientasi pada Allah sebagai pusat kesadaran, sedangkan mindfulness modern lebih menekankan pada kesadaran diri dan pengalaman saat ini.
Ketika sedang shalat, kita diperintahkan untuk melaksanakannya dengan penuh kesadaran. Sebagaimana dalam Q.S. Al A’raf [7]: 205 yang menekankan pentingnya dzikir (shalat) yang penuh kesadaran dan hadir dengan hati, bukan sekedar lisan. Jadi, bacaan shalat tidak hanya sebatas hafalan, ucapan tanpa makna (penghayatan), apalagi dilafalkan tanpa kesadaran. Mindfulness di sini adalah menyadari sepenuhnya apa yang sedang dibaca, sehingga terjadi harmoni antara badan (lisan), pikiran, dan jiwa.
Praktik shalat juga diharapkan dapat membawa ketenangan batin dan kesejukan jiwa. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenteram (Q.S. Ar Ra’d [13]: 28). Mengingat di sini bisa disamakan dengan menyadari. Menyadari kehadiran Allah saat ini dan di sini. Didahului dengan menyebut asmaNya, lalu melatih pikiran agar tidak terpecah oleh distraksi. Berusaha menenangkan pikiran dan emosi melalui latihan kesadaran, sehingga tercapai kedamaian batin dan keseimbangan hidup. Mindfulness dalam Islam berakar pada dzikrullah, yang dapat membawa kepada ketenangan batin.
Mindfulness dalam shalat juga mengajarkan kesadaran penuh terhadap diri, tindakan, dan konsekuensinya. Oleh karena itu, shalat mengingatkan manusia akan kematian dan kehidupan setelah mati. Setiap perbuatan manusia, baik maupun buruk, akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran inilah yang menuntun manusia untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dan beramal saleh.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ..” Q.S. Al Hashr [59]: 18.
Dalam beberapa hadits juga menyebut pentingnya kesadaran reflektif (tafakkur) terhadap alam semesta sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah (HR Tirmidzi). Bahkan shalat merupakan bentuk mindfulness tertinggi, yaitu hadir penuh dengan hati, pikiran, dan tubuh dalam ibadah (HR Muslim). Demikian halnya dengan Hadits Riwayat Bukhari yang menekankan inti mindfulness dalam Islam berupa kesadaran konstan akan pengawasan Allah.
Merasakan Kesejukan Jiwa di Luar Shalat
Menurut saya, dampak shalat sangatlah penting, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Istilah saya adalah “ngefek”. Apakah shalat seseorang itu khusyu’ atau tidak, apakah shalat seseorang itu mindfulness atau tidak, bisa dilihat dari dampak yang dirasakan di kehidupan nyata sehari-hari.
Ketenangan dan kedamaian bukan hanya dirasakan saat menjalankan ibadah shalat, melainkan terus berlanjut hingga di luar shalat. Ia dapat merasakan kesejukan jiwa selama 24 jam dan 7 hari. Peristiwa apa pun yang terjadi pada dirinya, situasi dan kondisi bagaimana pun yang menimpa lingkungan di sekitarnya, jiwanya senantiasa tenang dan damai.
Mindfulness bukan hanya dipraktikkan saat shalat, melainkan juga sebagai sebuah gaya hidup yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa cara praktis yang relevan dengan kehidupan modern:
· Menggunakan mindful pause sebelum merespon chat atau pesan penting;
· Mengerjakan tugas satu per satu dengan kesadaran penuh tanpa multitasking yang berlebihan;
· Mindful commuting, yaitu mengalihkan perhatian dari ponsel dan menikmati perjalanan dengan penuh kesadaran;
· Mindful eating, yaitu makan dengan pelan-pelan dan tidak terburu-buru sehingga bisa menikmati rasa, tekstur, dan aroma makanan secara baik – bukan sekedar memasukkan makanan ke dalam perut. Termasuk tidak makan sambil bermain HP;
· Digital mindfulness, menjadwalkan waktu bebas gawai untuk benar-benar hadir bersama keluarga atau diri sendiri;
· Untuk kesehatan fisik dan mental bisa melakukan seni olah napas, body scan, maupun olahraga ringan;
· Dalam hubungan sosial kita bisa mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian, menghargai momen kebersamaan, serta menggunakan mindfulness untuk mengurangi reaksi emosional yang berlebihan dalam menyikapi konflik.
Penutup
Mindfulness dalam konteks modern bisa dipandang sebagai antitesis dari kehidupan serba cepat. Ia mengajarkan kita untuk jeda, berhenti sejenak, hadir sepenuhnya, dan menemukan kedamaian di tengah kesibukan. Sedangkan mindfulness dalam shalat adalah menyadari sepenuhnya setiap gerakan dan bacaan shalat, fokus pada momen saat ini dan di sini, serta mampu merasakan kehadiran Allah.
Mindfulness dalam perspektif Islam adalah dzikrullah dan ihsan. Hadir penuh dalam setiap momen dengan kesadaran bahwa Allah selalu bersama kita. Bahwa Allah senantiasa melihat dan mengawasi kita. Praktik ini bukan hanya menenangkan pikiran dan menyejukkan jiwa, tetapi juga menguatkan iman, memperdalam ibadah, dan menumbuhkan akhlak mulia.
Referensi:
Purwanto, Setyo, dkk. 2024. Mindfulness Dzikir Napas. Sleman: Deepublish.
Sangkan, Abu. 2004. Pelatihan Shalat Khusyu’: Shalat Sebagai Meditasi Tertinggi Dalam Islam. Jakarta: Baitul Ihsan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
