Tadabbur Ramadhan (040) Amal yang Pertama Dihisab
Khazanah | 2026-02-22 19:56:26Ramadhan sering kali membuat kita sibuk menyusun target. Sasaran khatam Al-Qur'an. Target sedekah harian. Targetkan i'tikaf di sepuluh malam terakhir. Semua itu indah. Semua itu mulia.
Namun ada satu hal yang justru menjadi penentu dari seluruh amal tersebut.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pertama kali yang dihisab pada hari berhentinya adalah shalat. Jika baik shalatnya, maka baik seluruh amalnya. Jika rusak shalatnya, maka rusak seluruh amalnya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini bukan sekedar peringatan. Ia adalah alarm ruhani.
Fondasi yang Menentukan Bangunan
Bayangkan sebuah bangunan yang megah: dindingnya kokoh, catnya indah, atapnya mahal. Namun fondasinya rapuh. Apa yang akan terjadi?
Begitulah amal kita tanpa shalat yang baik.
Puasa adalah latihan menahan diri. Sedekah adalah latihan kepedulian. Tilawah adalah nutrisi hati. Tetapi shalat adalah tiangnya. Ia bukan hanya salah satu amal—ia adalah penyangga seluruh amal.
Ramadhan seharusnya tidak hanya meningkatkan kuantitas ibadah, tetapi juga memperbaiki kualitas shalat kita.
Muhasabah di Malam Ramadhan
Coba kita bertanya pelan pada diri sendiri:
Apakah shalat kita masih ada di akhir zaman?
Apakah bacaan kita hanyalah gugurnya kewajiban?
Apakah hati kita hadir, atau justru sedang memikirkan urusan dunia?
Bisa jadi kita rajin tarawih, tapi masih menunda Subuh.
Bisa jadi kita khatam Qur'an, tapi terburu-buru dalam rukuk dan sujud.
Ramadhan adalah momentum evaluasi, bukan sekedar kompetisi ibadah.
memperbaiki yang Paling Mendasar
Jika shalat adalah amal pertama yang dihisab, maka ia layak menjadi prioritas pertama untuk diperbaiki.
Perbaiki wudhu—karena dari sanalah kesadaran dimulai.
Perbaiki bacaan—karena setiap ayat adalah dialog dengan Allah.
Perbaiki kekhusyukan—karena shalat tanpa hati hanya menjadi gerakan.
Barangkali bukan amal kita yang kurang banyak.
Barangkali shalat kita yang belum benar-benar hidup.
Sebelum Hari Hisab Tiba
Ramadhan adalah latihan sebelum hari hisab yang sesungguhnya datang.
Masih ada waktu untuk memperbaiki. Masih ada malam untuk bersujud lebih lama. Masih ada kesempatan untuk menjadikan shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi kebutuhan.
Karena pada akhirnya, ketika kita berdiri di hadapan Allah, bukan seberapa banyak daftar amal yang kita bawa yang pertama ditanya—tetapi bagaimana kualitas shalat kita.
Semoga Ramadhan kali ini bukan sekedar menambah amal, tapi juga mengokohkan fondasi.
Wallahu a'lam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
