Normalisasi dalam Penulisan Kata
Edukasi | 2026-03-15 21:54:53Bantul (MTsN 4 Bantul)- Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai penulisan kata yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku. Salah satu penyebab utama terjadinya kesalahan tersebut adalah kebiasaan menulis kata berdasarkan pengucapan, bukan berdasarkan ejaan yang benar. Fenomena ini dikenal sebagai salah kaprah dalam penulisan kata dan perlu diluruskan melalui proses normalisasi bahasa.
Normalisasi dalam penulisan kata adalah upaya untuk membiasakan penggunaan bentuk kata yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Upaya ini penting agar bahasa tulis menjadi seragam, baku, dan dapat dipahami secara luas, terutama dalam konteks pendidikan, administrasi, dan karya ilmiah.
Banyak contoh kata yang sering ditulis keliru karena terpengaruh oleh lafal atau kebiasaan lama. Misalnya, kata remedi kerap ditulis remidi. Padahal, menurut KBBI, bentuk yang benar adalah remedi, yang berarti perbaikan atau pengulangan pembelajaran bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan.
Contoh lain yang sangat umum adalah penulisan kata salat yang sering ditulis sholat. Kesalahan ini muncul karena pengaruh transliterasi bahasa Arab dan kebiasaan lisan. Dalam bahasa Indonesia baku, kata yang benar adalah salat, tanpa huruf h. Hal yang sama juga terjadi pada kata jemaah, yang sering salah ditulis menjadi jamaah. Padahal, bentuk bakunya adalah jemaah.
Selain itu, nama bulan November juga sering ditulis Nopember. Kesalahan ini dipengaruhi oleh cara pengucapan huruf v yang terdengar seperti p. Namun, sesuai kaidah ejaan, penulisan yang benar tetap November.
Kesalahan-kesalahan tersebut mungkin terlihat sepele, tetapi jika dibiarkan, dapat memengaruhi kualitas bahasa tulis dan menimbulkan kebiasaan yang keliru, terutama di lingkungan pendidikan. Oleh karena itu, normalisasi penulisan kata perlu terus dilakukan melalui pembiasaan, pembelajaran, serta rujukan yang konsisten pada KBBI dan PUEBI.
Dengan membiasakan diri menulis sesuai kaidah yang benar, kita turut menjaga kelestarian dan kejelasan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa ilmu pengetahuan. Bahasa yang tertib mencerminkan pola pikir yang tertib pula (mud)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
