Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Diana Putri - Dosen FAPERTA UNAND

Tidak Semua Cacing Menyuburkan Tanah

Edukasi | 2026-03-15 19:13:07

Kebun yang Tiba-tiba Merana

Suatu pagi seorang petani cabai memeriksa kebunnya. Beberapa minggu sebelumnya tanaman tumbuh hijau dan sehat. Batangnya kokoh, daun lebat, dan harapan panen tampak menjanjikan.

Namun pagi itu pemandangannya berbeda. Beberapa tanaman terlihat layu, daunnya menguning, dan pertumbuhannya terhambat. Padahal air cukup dan pupuk sudah diberikan.

Petani itu sempat mengira penyebabnya adalah kekeringan atau kekurangan unsur hara. Tetapi ketika salah satu tanaman dicabut, tampak sesuatu yang tidak biasa pada akarnya: benjolan-benjolan kecil seperti bisul.

Benjolan itulah petunjuk adanya musuh yang tak terlihat—organisme mikroskopis yang hidup di dalam tanah dan menyerang akar tanaman.

Makhluk itu dikenal sebagai nematoda parasit tanaman.

Tidak Semua Cacing Baik bagi Tanah

Selama ini masyarakat mengenal cacing tanah sebagai sahabat petani. Cacing tanah membantu menggemburkan tanah, memperbaiki struktur tanah, serta mempercepat penguraian bahan organik. Kehadiran cacing tanah sering dianggap sebagai tanda tanah yang sehat.

Namun kehidupan di bawah tanah jauh lebih kompleks. Tidak semua makhluk yang berbentuk seperti cacing memberikan manfaat bagi tanaman.

Di dalam tanah terdapat kelompok organisme yang disebut nematoda. Sebagian besar nematoda memang hidup bebas dan tidak berbahaya, tetapi ada pula jenis yang bersifat parasit dan menyerang tanaman.

Berbeda dengan cacing tanah yang ukurannya cukup besar, nematoda memiliki ukuran sangat kecil, biasanya hanya sekitar satu milimeter. Karena itulah organisme ini sulit dilihat tanpa bantuan mikroskop.

Meski kecil, dampaknya terhadap tanaman bisa sangat besar.

Serangan Diam-Diam pada Akar

Nematoda parasit tanaman hidup di dalam tanah dan menyerang sistem perakaran. Mereka memiliki alat mulut berbentuk jarum kecil yang digunakan untuk menembus jaringan akar dan menyerap nutrisi dari sel tanaman.

Serangan ini menyebabkan jaringan akar rusak sehingga kemampuan tanaman menyerap air dan unsur hara menjadi terganggu.

Akibatnya tanaman tumbuh kerdil, daun menguning, dan produksi menurun. Pada serangan berat, tanaman bahkan bisa mati sebelum sempat menghasilkan panen.

Salah satu jenis yang paling dikenal adalah nematoda puru akar dari genus Meloidogyne. Serangannya menyebabkan pembengkakan pada akar yang dikenal sebagai puru akar.

Gejala di bagian atas tanaman sering tidak spesifik. Tanaman tampak seperti kekurangan air atau kekurangan unsur hara. Karena itulah banyak petani tidak menyadari bahwa penyebab sebenarnya berasal dari organisme kecil di dalam tanah.

Kerugian Besar bagi Pertanian Dunia

Serangan nematoda bukan hanya masalah di satu kebun atau satu daerah. Dampaknya dirasakan oleh sektor pertanian di berbagai negara.

Kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam Nature Reviews Microbiology menyebutkan bahwa kerugian global akibat nematoda parasit tanaman diperkirakan mencapai lebih dari 100 miliar dollar AS setiap tahun.

Penelitian lain yang dimuat dalam Annual Review of Phytopathology juga menunjukkan bahwa nematoda dapat menyerang hampir semua jenis tanaman budidaya, mulai dari sayuran seperti cabai dan tomat hingga tanaman pangan dan perkebunan.

Besarnya kerugian ini menunjukkan bahwa organisme mikroskopis di dalam tanah dapat memengaruhi produksi pangan dunia.

Memahami Kehidupan di Dalam Tanah

Para peneliti kini semakin menyadari bahwa tanah bukan sekadar media tempat tanaman tumbuh. Tanah adalah ekosistem hidup yang dihuni oleh jutaan organisme yang saling berinteraksi.

Dalam satu genggam tanah saja terdapat berbagai makhluk kecil—bakteri, jamur, protozoa, hingga nematoda. Sebagian organisme membantu meningkatkan kesuburan tanah, tetapi sebagian lainnya dapat menjadi patogen yang merusak tanaman.

Karena itu pengelolaan tanah yang sehat menjadi sangat penting dalam pertanian modern.

Pendekatan pengendalian nematoda juga terus berkembang. Jika dahulu pengendalian sering mengandalkan bahan kimia, kini pendekatan biologis mulai banyak dikembangkan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mikroorganisme tertentu seperti bakteri dan jamur antagonis mampu menekan populasi nematoda secara alami. Selain itu, penggunaan pupuk organik, rotasi tanaman, serta pemilihan varietas tahan juga dapat membantu mengurangi serangan nematoda.

Menjaga Keseimbangan Ekosistem Tanah

Kisah petani yang menemukan akar tanaman penuh benjolan itu menjadi pengingat bahwa banyak proses penting dalam pertanian berlangsung jauh di bawah permukaan tanah.

Apa yang tidak terlihat sering kali justru menentukan keberhasilan panen.

Tidak semua makhluk berbentuk cacing membawa manfaat bagi tanah. Sebagian memang membantu menyuburkan tanah, tetapi sebagian lainnya dapat menjadi musuh tersembunyi bagi tanaman.

Memahami kehidupan yang tak kasat mata ini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan tanah, meningkatkan produktivitas pertanian, dan memastikan keberlanjutan produksi pangan di masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image