Musuh Tak Terlihat di Sawah: Ancaman Nematoda yang Sering Terlupakan pada Padi
Lain-Lain | 2026-02-26 18:47:20Hamparan sawah hijau sering kali tampak tenang dan produktif. Namun di balik tanah yang tampak subur, terdapat organisme mikroskopis yang diam-diam menggerogoti potensi hasil panen: nematoda parasit tanaman. Keberadaannya jarang disadari karena tidak terlihat secara kasat mata, tetapi dampaknya bisa sangat nyata bagi produksi padi.
Nematoda menyerang bagian akar sehingga gejala di permukaan tanaman sering tidak spesifik. Tanaman tampak kerdil, jumlah anakan berkurang, dan pengisian gabah tidak optimal. Karena gejala ini kerap disalahartikan sebagai kekurangan hara atau cekaman lingkungan, serangannya sering terlambat ditangani.
Dalam berbagai publikasi ilmiah mengenai perlindungan tanaman disebutkan Nematoda merupakan patogen tular tanah yang sering terabaikan karena gejalanya tidak khas di bagian atas tanaman.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dampak ekonomi nematoda pada padi cukup signifikan. Nematoda puru akar Meloidogyne graminicola, misalnya, dilaporkan oleh Kumar dkk (2025), mampu menyebabkan kehilangan hasil sekitar 17–30 persen pada kondisi umum. Dalam kondisi populasi tinggi, kerugian bisa jauh lebih besar, dapat mencapai 50% hingga 70% pada serangan berat.
Selain itu, hasil penelitian Ji dkk (2023), melaporkan bahwa nematoda pucuk putih Aphelenchoides besseyi umumnya menyebabkan penurunan hasil sekitar 10–20%, terutama pada daerah dengan kelembapan tinggi dan penggunaan benih terinfeksi. Pada kondisi serangan berat kerugian dapat meningkat hingga 50–70%.
Data-data tersebut menunjukkan bahwa meskipun tidak selalu menyebabkan gagal panen, nematoda secara konsisten menekan produktivitas dan berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi petani.
Mengapa Sering Terlupakan?
Selama ini, pengendalian organisme pengganggu tanaman lebih berfokus pada hama serangga dan penyakit daun yang gejalanya mudah diamati. Padahal, kesehatan tanah memegang peranan penting dalam menentukan produktivitas jangka panjang.
Praktik budidaya seperti monokultur terus-menerus, penggunaan varietas rentan, serta rendahnya bahan organik tanah dapat mempercepat perkembangan populasi nematoda. Tanah yang tidak dikelola secara berkelanjutan menjadi habitat ideal bagi organisme ini untuk bertahan dan berkembang.
Pendekatan Pengelolaan Berkelanjutan
Para ahli menekankan bahwa pengelolaan nematoda perlu dilakukan secara terpadu. Strategi yang dianjurkan meliputi penggunaan varietas toleran, rotasi tanaman, pengelolaan air, serta peningkatan bahan organik tanah untuk memperbaiki kesehatan tanah. Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan penggunaan nematisida secara intensif yang berpotensi berdampak pada lingkungan.
Ke depan, peningkatan kesadaran petani serta dukungan riset dan penguatan program penyuluhan menjadi langkah penting agar ancaman nematoda tidak lagi menjadi “musuh tak terlihat” dalam produksi padi. Dengan perhatian yang lebih besar pada kesehatan tanah, produktivitas padi dan ketahanan pangan dapat terjaga secara berkelanjutan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
