Pria Sebatang Kara
Sastra | 2026-03-14 11:01:19
Suara azan dari arah seberang jalan membuyarkan lamunan Hamdi. Pria tua dengan kopiah putihnya itu tertidur diteras rumahnya yang menanti waktu berbuka. Ia sendiri, anak dan istrinya telah berpisah lebih sebelas tahun darinya. Karena apa? Barangkali ia adalah orang yang tidak mau berusaha untuk mendapat banyak uang dengan cara apapun. Si istri dan kedua anaknya itu sebenarnya bukanlah keturunan kandung. Hamdi menikahinya karena kasihan akibat ditinggal suami menikah lagi. Awalnya dari rasa kasihan, lalu menjadi cinta penuh harap.
Istrinya itu bernama Karna. Tidak terlalu cantik, tapi jika dipandang bolehlah sebagai penghibur di kala lelah Hamdi bekerja sebagai petugas redaksi bahasa di balai kota. Hamdi mulanya lebih dikenal sebagai penyair atau sastrawan di kotanya, tapi semenjak ia melepaskan masa bujangnya dengan Karna ia meninggalkan karya yang selama ini membuatnya tetap merasa hidup. Sebatang kara sejak kecil, hanya beratap dari panti asuhan usia lima puluh tahun cukup membuatnya kesepian dan kuat. Tetapi, ia juga pria malang yang terkadang bodoh menjadi budak cinta. Ia menganggap Karna adalah sosok wanita yang memiliki ketulusan cinta, kematangan cinta, hingga kesetiaan.
Ia masih bekerja sebagai reaksi, lama-lama Karna muak sebab penghasilan tak seberapa. Ia awalnya memberikan pernyataan lembut, diam seribu bahasa, dan akhirnya berteriak tidak waras.
"Kau pikir aku menikah dengan kau karena aku gila? Aku masih bertahan karena aku butuh makan tidak hanya untukku juga anak-anakku. Carilah tambahan, barangkali jadi kuli bangunan atau apa?"
Begitulah Karna sehari-hari memperlakukan suaminya yang pendiam. Hamdi, akhirnya menuruti permintaan istrinya. Ia mencari kerja lagi lepas dari kantor balai kota. Terkadang mengojek dan serabutan buruh bangunan. Akibatnya, ia jarang menghasilkan tulisan-tulisan menarik yang dinanti-nanti oleh pembaca. Namun, semenjak tidak pulang sore alias kerja sampai malam, penghasilannya cukup membuat sang istri tersenyum lebar. Tapi ternyata semua adalah kekejaman cinta Karna yang hanya untuk memanfaatkannya.
Lepas senja, di Sabtu sore. Hamdi libur dari kantornya, ia biasa mengojek di simpang tiga Tani. Sambil menunggu penumpang, tetiba datang seorang lelaki muda ingin memakai jasanya. Arah tujuan tentu sudah dihafal oleh Hamdi. Mulai lorong hingga gang ke gang. Tibalas di pintung gang, lelaki muda itu minta diturunkan. Upah delapan ribu diberikan yang diambil si pemuda dari celah saku.
Tanpa terimakasih pemuda jalan ke arah yang tak lain menuju rumahnya. Hamdi pergi untuk mangkal lagi. Tetapi, ia lupa plastik berisi kue dan terdapat alat kontrasepsi yang disangkut di motornya tertinggal. Untunglah ia ingat, Hamdi segera balik dan memberikannya kembali pada si penumpang tadi. Ia terhenti di deretan rumah nomor delapan, tetapi ia tak lama melihat pemuda itu yang masuk ke pintu rumahnya. Hamdi ternganga, kenapa harus ke rumahnya.
Suara pemuda dari mesjid terdengar melantunkan surah pendek. Hamdi masuk ke rumah dan menjajakan makanan sederhananya berupa tempe, tahu, dan teh hangat. Suara knalpot sepeda motor terdengar riuh di depan. Kembali lagi ke sebelas tahun lalu, Hamdi murka melihat istrinya tanpa busana sedang bermain kuda dengan penumpang tadi. Pria pendiam yang sangat rendah hati ini, kali itu tidak menerima penghinaan dari Karna. Sebuah parang dari belakang rumah ia hantam ke punggung si pemuda dan wajah Karna. Keduanya tewas tragis. Tetangga mengerumuni rumah Hamdi. Mereka tampak prihatin karena tahu kelakuan Karna.
Tiga orang dari warga menghampirinya, lalu memeluknya sambil berkata, akan menunggu kedatangannya kembali. Hamdi diam, dua orang anak-anak menangis karena kehilangan teman bermain.
Beduk berbuka dari mesjid berbunyi, Hamdi berdoa dengan menutup mata. Insiden itu membuat dirinya trauma seumur hidup menerima cinta yang ia tolak dari Sarah gadis tua yang berjualan alat ponsel di seberang. Ia memilih sendiri mungkin sampai ajak menjelang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
