Menggapai Keinginan
Sastra | 2026-03-07 06:18:59Jauh dari keramaian-piruk perkotaan, terdapat sebuah desaan yang terletak di pelosok. Tempat ini memang memiliki suasana yang damai dan berudara sejuk namun meskipun desa ini terletak di daerah yang tidak strategis, mengapa demikian? Itu dikarenakan desa ini jauh dari pusat pembelanjaan seperti, pasar, restoran, dan sebagainya.
Inilah aku Afif Kurniawan, anak laki-laki pertama dari 3 bersaudara yang memiliki keinganan untuk mengubah masa lalu yang cukup menyulitkan dan menjadikannya menjadi kebahagiaan. Saat kecil aku selalu bermain Bersama sahabat dan teman temanku di lapangan yang sentiasa kami gunakan sebagai area bermain, kami menjalani hari-hari dengan senang riang. Namun seiring berjalannya waktu saat usiaku beranjak remaja aku mulai berpikir dalam kondisi keluargaku yang terpuruk.
“Kenapa aku masih bermain-main saja, sedangkan kondisi kehidupan keluargaku yang sulit seperti ini,” serentak berbicara seraya memutar air mata. Dan aku bertekad untuk mengubah semua ini, demi masa depan yang cerah gemilang.
Lalu aku memutar otak, “bagaimana caranya melakukan hal semacam itu,” berpikir sejenak, dan aku mendapatkan ide dengan cara belajar dengan tekun tetapi, itu semua tidak cukup aku harus mencari cara lain. Tetapi saya belum memikirkan cara alternatif itu.
Saat disekolah aku sudah mengalami kemajuan, aku mulai mendapatkan prestasi di mulai mendapatkan peringkat 3 besar, meskipun aku sudah mendapatkan peringkat itu tidaklah cukup aku harus lebih-lebih dari ini, aku harus lebih besar lagi!. Walaupun begitu aku masih bergaul tetapi berbada dengan yang kemarin, aku sudah mengatur kapan aku main, kapan aku belajar, kerena selain belajar, aku juga butuh refreshing otak, aku menjalankan rutinitas Bersama teman-temanku saat pulang sekolah belajar di salah rumah teman setelah belajar atau mengerjakan PR sambil bersenda gurau, jadi dengan begitu belajarpun tidak terasa terbebani.
Kelulusanpun sudah diujung tanduk. Dan inilah yang menentukan lulus tidak lulusnya. Berkat Rahmat Allah aku dimudahkan untuk menyelesaikan ujian-ujian izin dan alhamdulillah-Nya lagi akun mendapat beasiswa SMA di kota, karena di desa ini tidak ada SMA jadi pihak SMP disana membuka peluang aku untuk bersekolah di kota. Lalu akupun berangkat ke kota dan meninggalkan keluargaku, meski ini berat tetapi harus kujalani demi kebaikan Bersama untuk menggapai Impian yang diimpikan. Namun, tidak menutup kemungkinan bisa bertemu lagi.
Setalah berpamitan akupun berangkat ke kota, sesampai di alun-alun dan bertemu dengan seorang bapak.
“Hei Nak, mau ke mana?”
“Saya ingin mencari tempat tinggal, kira kira di kos kosan dana pelajar ada dimana ya pak.”
“oh kosan saya masih ada 1 kamar kosong sih, apakah nak tertarik.”
“boleh, Pak.”
Lalu aku ditunjukan kosan punya bapak barto, walaupun kosan ini sangat kecil namun masih layak di huni dan hargapun sangat terjangkau. Setelah mendapat tempat tinggal akupun mencari alamat sekolah SMA yang kucari yaitu SMA negeri 1 Bogor.
Hari H pun tiba, semua siswa baru termasuk aku datang ke sekolah untuk hari perkenalan, akupun di sana bertemu banyak teman baru aku senang meraka ramah dan baik seperti teman-temanku di desa gurunya pun cukup meyakinkan (dalam artian dapat diandalkan).
Satu semesterpun telah usai dan ujianpun telah berakhir, akupun merencanakan liburan bersama teman-teman baruku dan aku menikmati liburan ini apalagi di temani menambah suasana menjadi ramai. Begitulah pekan yang menyenangkan dan tidak terasa hari masuk sekolah.
Karena aku masuk ke IPS dan aku mulai tertarik ekonomi di bidang usaha “apa aku buat usaha saja mungkin ini salah satu cara untuk sukses, tapi kalau bangkrut gimana yah, ahh coba dulu lah,” pikir aku. Dan aku berencana menjual gorengan yang biasa aku buat untuk sarapan.
Minggupun tiba akupun mencoba berkeliling berjualan gorengan dan alhamdulillah laris manis begitupun hari demi hari. Dan dimana aku pernah mendapat ujian berupa di jambret, di palak preman dan semacamnya. Walaupun begitu aku terus berbaik sangka kepada Allah dan konsisten menjalankan ibadah serta menjalankan perintah yang lainnya.
Selang beberapa hari aku mendapatkan kabar buruk bahwa bapakku di desa telah wafat, beliau dikabarkan terkena kecelakaan kerja, akupun segera menghubungi ibu saat mendengar kabar ini, saat aku meghubungi ibuku.
“Halo, BU!” (aku panik)
“iyaa nak ada apa.” (suara ibuku di telepon*)
“apakah kabar itu benar, bu.”
“(ibu diam terdiam*) iya, nak”
“ .” (aku diam dan syok*)
Serentak aku memutus telepon itu dan aku memikirkan diriku karena akupun tak punya ongkos pulang, selain itu aku bolos hingga beberapa hari. Dan sampai lah beberapa hari aku mulai berpikir kembali “jika aku hanya begini-begini saja kapan aku Berjaya.” Dan aku mulai siap-siap untuk berangkat sekolah esok hari
Saat berikutnya tepatnya di kelas, akupun dikerumunin seluruh teman sekelasku dan merekapun ikut ikut berkeringat, akupun sangat Bahagia mendapatkan perlakuan seperti dan akupun di basahi berguliran air mata “ternyata masih banyak orang yang peduli denganku.” (dalam lubuk hatiku).
Hari demi haripun berlalu dan inilah hari kelulusanpun tiba, dengan menggerahkan seluruh tekadku alhasil aku menjadi siswa terbaik di sekolahku. Akupun sangat atas prestasi yang kudapat itu, akupun mendapat beasiswa ke luar negeri namun sayangnya aku tolak mentah mentah karena aku mempunyai alasan sendiri. saya ingin membuka usaha saat setelah lulus dari SMA ini.
Waktupun tiba dimana saatnya aku membuka usaha kuliner aku membuka restoran dengan tabungan hasil jualan gorengan selama kurang lebih 5 tahun, saat ada sisa dari memberi uang ke kampung akupun menyisipkan sedikit uang untuk kutabung dan ini dia hasilnya. Aku dan rekan rekanku mengelola semua ini dan saat grand opening alangkah mengukurnya tenyata banyak pelanggan yang datangan satu restoran di penuhi orang-orang banyak.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
