Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abdul hadi tamba

Bertahan Hidup di Tengan Runtuhan Bangunan

Agama | 2026-03-06 10:05:53

Abdul hadi tamba.

Bertahan hidup ditengan runtuhan Bangunan.

Pandangan kami terhadap bertahan hidup di tengah runtuhan bangunan seperti yang dialami Muslim di Gaza tidak sekedar melihatnya sebagai perjuangan fisik, melainkan sebuah pendakian spiritual tertinggi (Riyadhah).

Dalam perspektif pandangan kami reruntuhan duniawi adalah tempat di mana ikatan batin dengan makhluk terputus dan ikatan dengan Khalik (Allah) menguat.

Berikut adalah pandangan kami sikap terbaik, dalil, serta pandangan ulama:

Pandangan kami Reruntuhan sebagai Medan Tarbiyah

Zuhud Darurat (Ketidakterikatan)

Ketika harta dan rumah hancur, kami melihat ini sebagai pembersihan (Takhalli) dari cinta dunia (hubbud dunya) secara paksa, memaksa jiwa hanya bergantung pada Allah.

Ridho dan Ikhlas:

Menerima takdir dengan kelapangan dada, menyadari bahwa diri dan segala isinya adalah milik Allah (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un).

Melihat Hikmah:

Di tengah reruntuhan, warga Gaza menunjukkan sujud syukur—bahwa hidup masih ada untuk beribadah, bukan apa yang hilang.

Sikap Terbaik Muslim (Pendekatan Tasawuf)

Sikap yang diajarkan adalah perpaduan antara keteguhan lahiriah (ikhtiar) dan ketenangan batiniah (tawakal).

Shabar (Sabar):

Tidak berkeluh kesah, menahan diri dari marah, dan istiqomah dalam ibadah meski dalam kondisi krisis.

Ridho (Menerima): Menerima takdir tanpa mempertanyakan keadilan Allah, karena yakin ada kasih sayang-Nya di balik ujian berat.

Tawakal: Menyerahkan hasil akhir kepada Allah, setelah berusaha menyelamatkan diri.

Menjaga Kebersamaan (Ukhuwah):

Tetap berbagi, shalat berjamaah, dan buka puasa bersama di puing-puing bangunan.

Dalil al-Qur'an dan Hadis Pendukung

Kewajiban Sabar:

"...Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un"." (QS. Al-Baqarah: 155-156).

Ujian Ketakutan/Kelaparan:

"Dan Kami pasti akan menguji kamu... dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan..." (QS. Al-Baqarah: 155).

Pertolongan Allah:

"Katakanlah:

"Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami..." (QS. At-Taubah: 51).

Hadis Syahid Reruntuhan:

"Orang yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid." (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini memberikan ketenangan psikologis bahwa kematian dalam situasi tersebut adalah kemuliaan.

Kias dan Fatwa Ulama Muktabar

Ulama memandang Gaza sebagai simbol perlawanan iman (Ribat).

Imam Al-Ghazali (dalam Ihya Ulumuddin):

Menyatakan bahwa sabar menghadapi cobaan adalah salah satu tanda kesempurnaan iman dan pembersihan jiwa (penyucian jiwa dari sifat keji).

Pandangan Ulama Nusantara/Global:

Para ulama menekankan bahwa warga Gaza yang bertahan di reruntuhan bukan sekedar bertahan, tetapi sedang menjalankan Ribat (menjaga perbatasan Tanah Wakaf umat Islam), yang pahalanya setara dengan ibadah terus-menerus.

Fatwa/Sikap: Ulama mewajibkan solidaritas umat Islam untuk membantu, dan memuji keteguhan iman warga Gaza (Shobirin) yang tidak putus asa meskipun kehilangan segalanya.

Kesimpulan:

Sikap terbaik adalah Shabar, Ridho, dan Tawakal, menjadikan reruntuhan bangunan sebagai tempat sujud tertinggi (Shalat di atas puing) dan menganggap diri sedang dalam ikatan suci dengan Allah, bukan sekedar korban konflik.

Dengan kerendahan hati saling berbagi mudah mudahan dengan syafa'at dari Nabi Besar junjungan kita Muhammad SAW Tercinta suri teladan kita sepanjang Zaman ada manfa'at nya buat kita saudara saudaraku.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image