Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Universitas Ahmad Dahlan

Pentingnya Keadaban Ekologis

Info Terkini | 2026-03-05 11:44:14
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. pada pengajian PWM yang diselenggarakan di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sukses mengadakan penutupan Pengajian Ramadan pada Ahad, 1 Maret 2026 di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Kegiatan yang mengangkat tema "Keadaban Ekologis untuk Masa Depan Semesta" ini tidak hanya berisi penyampaian materi keagamaan, tetapi juga dirangkai dengan momen bersejarah berupa Wisuda Peserta Sekolah Ideologi Muhammadiyah (SIM) Angkatan Pertama.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., menyampaikan amanat puncaknya. Ia mengingatkan para lulusan SIM agar tidak terjebak pada penyederhanaan ideologi Muhammadiyah yang sering kali hanya dimaknai sebagai gerakan amar ma'ruf nahi mungkar. Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya mengembalikan semangat tajdid yang utuh, yang mencakup purifikasi dan dinamisasi atau pembangunan (islah). Muhammadiyah tidak boleh hanya bersifat reaksioner terhadap keadaan yang buruk, tetapi harus proaktif membangun kekuatan di bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, dan institusi pendidikan guna memiliki daya tawar yang kuat dalam membangun peradaban.

Terkait tema ekologi, Prof. Haedar menyoroti bahwa isu lingkungan harus diletakkan dalam kerangka holistik pandangan Islam. Ia menegaskan bahwa manusia berkedudukan sebagai khalifah yang diamanahkan untuk mengelola alam dengan prinsip mizan (keseimbangan) dan ihsan (kebaikan yang nyata). Islam tidak melarang manusia memanfaatkan kekayaan alam untuk membangun peradaban, seperti infrastruktur pendidikan maupun kesejahteraan ekonomi, asalkan tidak merusak secara ekstrem dan tetap mematuhi etika serta kebijakan konservasi. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada pandangan ekologis yang terlalu ekstrem yang justru bisa menghambat kemajuan dan misi pembangunan umat di dunia nyata.

Lebih lanjut, Prof. Haedar berpesan kepada warga Muhammadiyah, khususnya di DIY, untuk terus bergerak dan tidak terlena di zona nyaman. Ia mengibaratkan organisasi yang lengah seperti "kasur tua" yang terasa nyaman digunakan namun sebenarnya menyimpan banyak penyakit di dalamnya. Oleh karena itu, Muhammadiyah di DIY didorong untuk terus menjadi percontohan kekuatan yang berkemajuan, merebut kejayaan peradaban melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan penguatan ekonomi.

Acara kemudian ditutup secara resmi oleh Ketua PWM DIY, Dr. Muh. Ikhwan Ahada, S.Ag., M.A. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur atas kelancaran acara sekaligus memaparkan sejumlah capaian gemilang PWM DIY. Di antaranya adalah keberhasilan Lazismu DIY meraih predikat terbaik tiga tahun berturut-turut, Majelis Dikdasmen yang menjadi juara umum OlympicAD VIII di Makassar, serta Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) yang meraih penghargaan Kalpataru dari Gubernur DIY. Selain itu, Majelis Lingkungan Hidup (MLH) juga turut meluncurkan buku bertajuk Ekologi Berkemajuan sebagai bukti nyata komitmen persyarikatan terhadap kelestarian alam.

Sebagai penutup laporannya, ia menyinggung progres perluasan amal usaha pendidikan melalui pembangunan Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Kota Yogyakarta dan rencana pembangunan sekolah berbasis boarding di Kulon Progo. Ia berharap seluruh capaian dan rencana pembangunan ini dapat menjadi mercusuar pendidikan yang menghantarkan Muhammadiyah pada terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Acara pengajian ini pun diakhiri dengan doa bersama, menandai tuntasnya rangkaian kajian Ramadan dengan semangat dan wawasan baru bagi para kader persyarikatan. (Ito)

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image