Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Universitas Ahmad Dahlan

Pelestarian Tradisi Sasak melalui Riset

Info Terkini | 2026-03-05 11:14:14
HISKI Komisariat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan kegiatan Bincang Sastra Satu Jam (BISA SAJA) (Dok. Shabila Mei)

Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan kegiatan Bincang Sastra Satu Jam (BISA SAJA) pada Jumat, 27 Februari 2026. Kegiatan diskusi rutin ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dan menghadirkan Ketua HISKI Komisariat UAD, Dr. Yosi Wulandari, M.Pd., sebagai pemateri utama.

Wachid Eko Purwanto dalam sambutannya menyampaikan bahwa forum tersebut menjadi ruang berbagi terkait proposal penelitian yang telah berhasil memperoleh dana hibah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pendanaan tahun 2025. Ia berharap kegiatan ini turut membawa manfaat yang luas, baik dalam kehidupan beragama, dunia, maupun akhirat.

Pada sesi pemaparan, Yosi menjelaskan bahwa riset yang ia lakukan bersama sembilan rekan tim lainnya merupakan riset ekspedisi. Riset tersebut berfokus pada penelusuran jejak Islam dalam tradisi suku Sasak di Lombok.

“Kalau berbicara Islam di Lombok, sering kali kita membayangkan institusi formal seperti masjid, pesantren, dan syariat. Namun, saya ingin mengajak untuk melihat Islam dari ruang yang berbeda seperti cerita, mitos, atau tuturan yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Yosi.

Menurutnya, tradisi lisan di Lombok saat ini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan karena terancam punah. Oleh karena itu, Yosi bersama timnya berupaya keras melestarikan dan mendokumentasikan kisah-kisah leluhur di Lombok ke dalam bentuk narasi tertulis. Tokoh adat, tetua kampung, budayawan, serta masyarakat yang masih menyimpan ingatan tentang cerita leluhurnya dianggap sebagai arsip hidup yang sangat berharga dalam penelitian ini.

Yosi mengungkapkan bahwa mitos-mitos yang berkembang di masyarakat tersebut umumnya menyebutkan nama Allah Swt. dan para nabi. Bahkan, terdapat integrasi doa-doa Islam yang membuat doa sehari-hari masyarakat setempat memiliki kemiripan dengan mitos atau mantra yang diwariskan secara turun-temurun.

“Situs-situs mitologi yang kuat di Lombok memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi wisata edukatif maupun wisata religi. Namun, tanpa sebuah penelitian, wisata akan hadir tanpa kedalaman sejarah,” tegasnya.

Pada akhir sesinya, Yosi menegaskan kembali bahwa setiap masyarakat dan tempat memiliki identitasnya masing-masing. Di Lombok, mitos Sasak merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya yang wajib dijaga. Penelitian dan dokumentasi ini menjadi langkah esensial dalam upaya pelestarian agar warisan budaya tersebut tidak hilang ditelan zaman, sekaligus dapat menjadi pijakan bagi penelitian-penelitian baru di masa mendatang. (Mei)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image