Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Suwardi Rosyid A

Puasa Adalah Ngempet (imsak)

Agama | 2026-03-02 09:45:02

1. Definisi: Lebih dari Sekadar Kosongnya Perut

Secara bahasa, puasa berasal dari kata Imsakyang artinya Menahan. Dalam bahasa Jawa, kita mengenalnya dengan istilah "Ngempet".

· Ngempet Luwe/Ngorong: Ini adalah level dasar (syariat).

· Ngempet Nafsu: Ini adalah level hakikat.

Puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, tapi latihan kendali kemudi atas diri sendiri. Jika kita bisa ngempet makan yang halal di siang hari, seharusnya kita lebih bisa ngempet melakukan yang haram.

2. Filosofi "Ngempet" dalam Kehidupan

Dunia ini penuh dengan tarikan syahwat. Tanpa kemampuan ngempet, manusia akan menjadi hamba bagi keinginannya sendiri. Ada tiga hal utama yang harus kita "empet" selama Ramadhan:

· Ngempet Lisan: Menahan diri dari ghibah, nyinyir, dan berkata kotor. Rasulullah SAW bersabda bahwa banyak orang puasa yang hanya dapat lapar dan dahaga karena lisannya tidak di-empet.

· Ngempet Netra (Mata): Menahan pandangan dari hal-hal yang tidak bermanfaat, terutama di era media sosial saat ini.

· Ngempet Ati (Hati): Menahan diri dari penyakit hati seperti iri, dengki, dan sombong. Inilah inti dari Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa).

3. Mengapa Harus "Ngempet"?

Dalam ilmu psikologi modern, kemampuan menahan diri disebut dengan Delayed Gratification (menunda kesenangan).

 

  • Ujian Kesabaran: Puasa melatih otot sabar kita. Orang yang tidak bisa ngempet biasanya gampang marah dan sulit fokus.
  • Membangun Empati: Dengan ngempet lapar, kita merasakan apa yang dirasakan kaum dhuafa setiap hari. Ini adalah latihan kemanusiaan.

4. Goal Akhir: Menjadi Pribadi yang "Muttaqin"

Tujuan akhir puasa adalah Taqwa. Definisi Taqwa secara sederhana adalah kemampuan untuk tetap berada di jalur Allah meskipun godaan di kiri-kanan begitu kuat.

"Orang bertaqwa adalah orang yang sudah lulus ujian ngempet."

Penutup / Kesimpulan untuk Jamaah:

"Bapak Ibu jamaah yang dirahmati Allah, mari kita jadikan sisa Ramadhan ini bukan sekadar ritual menahan lapar. Mari kita latih kemampuan ngempet kita. Ngempet amarah kepada pasangan, ngempet jempol dari menyebar hoax, dan ngempet keinginan belanja yang berlebihan. Karena kemuliaan seseorang bukan dilihat dari apa yang ia miliki, tapi dari sejauh mana ia mampu mengendalikan dirinya sendiri."

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image