Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Faika

Anak Muda dan Sastra: Masih Relevankah?

Sastra | 2026-01-30 21:17:21

Di tengah derasnya arus media sosial, video singkat, dan budaya serba cepat, sastra sering dianggap sudah tidak memiliki nilai, karena dicap terlalu lambat, terlalu sunyi, bahkan tidak lagi sejalan dengan ritme hidup anak muda hari ini. Pertanyaan kemudian muncul, masih relevankah sastra bagi generasi muda?

Jawabannya justru terletak pada kegelisahan yang sering dialami anak muda itu sendiri.Anak muda hidup di zaman yang penuh tuntutan harus cepat berhasil, harus terlihat baik-baik saja, harus selalu produktif. Di tengah tekanan itu, sastra hadir bukan sebagai hiburan instan, melainkan sebagai ruang jeda. Lewat puisi, cerpen, atau novel, anak muda menemukan bahasa untuk perasaan yang tak selalu bisa dijelaskan dengan unggahan atau emoji.

Sastra melatih kepekaan. Ia mengajarkan empati, mengajak pembaca masuk ke kehidupan orang lain, memahami luka, harapan, dan kegagalan yang mungkin tak pernah dialami sendiri. Di era ketika opini sering dilontarkan tanpa proses berpikir yang matang, sastra justru membiasakan anak muda untuk membaca dengan sabar dan berpikir lebih dalam.Relevansi sastra juga terlihat dari kemampuannya bertahan dan beradaptasi. Hari ini, sastra tidak hanya hidup di buku tebal atau ruang kelas.

Ia hadir di medium digital, di platform daring, di potongan puisi yang viral, bahkan di lirik lagu yang menyentuh. Bentuknya berubah, tetapi rohnya tetap sama: merawat rasa dan kesadaran.Lebih jauh, sastra memberi anak muda keberanian untuk bertanya dan meragukan. Ia tidak selalu menawarkan jawaban, tetapi menghadirkan kemungkinan. Dalam dunia yang sering memaksa kepastian, sastra mengajarkan bahwa kebingungan adalah bagian dari proses menjadi manusia.

Maka, sastra tidak kehilangan relevansinya. Yang berubah hanyalah cara kita mendekatinya. Ketika anak muda mau memberi ruang untuk membaca dan menulis, sastra akan terus hidup bukan sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai teman berpikir di masa kini dan masa depan.Pada akhirnya, sastra mengajarkan bahwa menjadi manusia tidak cukup dengan sekadar bahasa lain atau mahir menyusun kata. Ia menuntun anak muda untuk memahami makna, merawat empati, dan membaca kehidupan dengan lebih dalam. Di tengah dunia yang serba cepat dan dangkal, sastra hadir sebagai pengingat, bahwa kedalaman rasa, pikir, dan makna hidup adalah bekal yang tak akan tergantikan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image