Digital Wellness: Menavigasi Sisi Gelap Teknologi dengan Prinsip K3 Modern
Teknologi | 2026-01-30 09:25:53
Di era sekarang ini, "kantor" bisa saja ada di mana-mana, mulai dari meja kafe hingga ruang tamu. Hal ini membuat batasan antara bekerja secara digital dan menjaga kesehatan fisik semakin sulit dikenali. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah mengubah cara bekerja, tetapi juga membawa berbagai risiko kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang baru. Jika TIK adalah mesin penggerak bisnis, maka K3 seperti sistem navigasi yang menjaga mesin itu tidak overheat.Banyak orang menganggap bekerja di depan komputer lebih aman dibandingkan bekerja di konstruksi atau pabrik. Namun fakta menunjukkan sebaliknya. Paparan terus-menerus terhadap perangkat TIK dalam jangka panjang bisa menyebabkan risiko yang tidak terlihat.
Ergonomi bukan hanya tentang kursi yang nyaman, tetapi ilmu tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan alat kerjanya. Penggunaan keyboard yang tidak benar dan posisi monitor yang buruk bisa menyebabkan Repetitive Strain Injury (RSI). Di banyak negara maju, masalah muskuloskeletal menyumbang sekitar 40% dari biaya kesehatan kerja. Jika tidak ada intervensi K3 yang tepat, efisiensi dari teknologi TIK bisa berkurang karena biaya pengobatan dan penurunan kemampuan kerja karyawan.
Bahaya yang Tak Terlihat: "Technostress" dan Kelelahan Digital
K3 dalam TIK tidak hanya melindungi tulang dan sendi, tetapi juga kesehatan mental. Fenomena Technostress atau stres akibat kesulitan mengelola teknologi, menjadi ancaman baru di tempat kerja. Informasi yang terus masuk lewat email, pesan instan, dan notifikasi aplikasi menyebabkan cognitive overload. Ini membuat fokus menurun dan tingkat kortisol dalam tubuh meningkat, yang berdampak pada kesehatan jantung. Kini, K3 dalam TIK juga mencakup "hak untuk memutuskan koneksi", kebijakan yang memungkinkan karyawan mematikan perangkat digital di luar jam kerja untuk mencegah burnout.
Dari sisi teknis, infrastruktur TIK pun menyimpan bahaya fisik. Hubungan arus pendek akibat kabel yang tidak terorganisir di ruang server atau bawah meja kerja menjadi penyebab kebakaran perkantoran. Berdasarkan prinsip K3, pengelolaan kabel dan sistem pembumian yang benar adalah sesuatu yang wajib.
Menariknya, TIK juga menyediakan solusi untuk masalah K3. Saat ini, sensor berbasis IoT (Internet of Things) pada kursi kerja bisa memberi peringatan jika postur duduk mulai membungkuk. Selain itu, kecerdasan buatan (AI) bisa menganalisis cara mengetik untuk mendeteksi gejala kelelahan otot sebelum terjadi cedera serius.
Kesehatan dan keselamatan kerja di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) tidak hanya untuk memenuhi aturan administratif semata, tetapi menjadi strategi utama untuk menjaga aset paling berharga perusahaan, yaitu manusia. Dengan menerapkan standar keselamatan kerja yang ketat dalam penggunaan teknologi, kita tidak hanya memperpanjang masa kerja pegawai, tetapi juga menciptakan lingkungan digital yang sehat, aman, dan berkelanjutan. Teknologi seharusnya bekerja untuk manusia, bukan sebaliknya. Mari gunakan setiap klik dan ketikan sebagai langkah menuju produktivitas yang sehat.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, A., & Amin, M. (2020). The Impact of Technostress on Employee Productivity: A Systematic Review. International Journal of Scientific & Technology Research, 9(3), 1902-1907.
(Artikel review yang merangkum hubungan antara technostress dan kinerja, mendukung argumen tentang cognitive overload dan penurunan fokus).
Coenen, P., Willenberg, L., Parry, S., & Shi, J. W. (2019). Associations of occupational standing with musculoskeletal symptoms: A systematic review with meta-analysis. British Journal of Sports Medicine, 53(12), 1-8. https://doi.org/10.1136/bjsports-2017-098465
(Tinjauan sistematis yang membuktikan beban muskuloskeletal dari pekerjaan sedentari, mendukung data tentang biaya kesehatan kerja).
Tarafdar, M., Cooper, C. L., & Stich, J. F. (2019). The technostress trifecta - techno eustress, techno distress and design: Theoretical directions and an agenda for research. Information Systems Journal, 29(1), 6-42
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
