Attack On Titan (Shingeki No kyojin): Akhir yang Tragis, tapi Damai
Agama | 2026-01-24 11:17:32
Setelah menonton banyak anime yang bergenre konspirasi, konflik persahabatan, dan penokohan yang serba paradoks. Sedikit berbeda dengan anime Attack on Titan atau yang sering diakronimkan menjadi AOT. Anime ini tidak hanya bercerita mengenai manusia yang berada dalam tembok dan ingin memusnahkan semua Titan. Lebih dari itu, anime ini menggambarkan pencarian manusia mengenai kebebasan, ketakutan, eterikatan, hubungan, dan identitas diri.
Pada season 1 dan 2 alurnya masih maju, belum ada konflik yang lebih dalam, cocok membuat tertarik siapa saja yang suka genre action. Namun pada season 3, konflik lebih dalam, alur sudah tidak bisa tertebak. Sampai pada season ini, kalian sudah menentukan akan menaruh kebencian dan dukungan pada tokoh siapa saja. Tapi lagi dan lagi, anime ini cukup penuh dengan plot twist. Hingga tiba di Season 4, kalian akan dibuat bingung dengan karakter tokoh utamanya yakni "Eren Yeager". Paradoks yang disajikan dalam anime ini tidak hanya pada karakter tokoh, tapi juga situasi yang membangun karakter masing-masing tokoh. Pada season ini kalian akan menemukan kata "Rumbling" kata ikonik dari AOT. Alur yang sudah seperti roller coaster membuat siapa saja yang menonton harus jeli melihat setiap detail yang ditampilkan pada versi anime nya. Hajime selalu penulis, dia seorang cukup kreatif dan detail. Jadi bagi kalian yang tidak menonton secara detail, mungkin akan merasa bingung dan harus mengulik sedikit episode - episode sebelumnya.
Kenapa dibilang akhir yang tragis??
Karena anime ini tidak hanya menceritakan pencarian kebebasan seorang manusia saja, tapi ada plot mengenai cinta juga yang membuat banyak penonton relate dengan kehidupan nyata serta merasakan rasa sakit yang sama. Makanya tidak heran, banyak penonton AOT yang gagal move on pada anime ini. AOT menggambarkan 2 kisah cinta yang berbeda, yakni yang toksik karena keterikatan, di sisi lain ada cinta yang sakit damai. Di sini kesakitan itulah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kedamaian dan kebebasan. Jadi kalau bisa diibaratkan, tembok sebagai suatu ketakutan manusia, Titan sebagai produk yang tidak memiliki kebebasan dan selalu terikat, dunia luar yang diimpikan Eren sebagai suatu harapan. Sedangkan "rumbling" menjadi suatu tindakan untuk mencapai kebebasan menurut Eren, tapi sebetulnya bisa diartikan "keputusasaan" Eren karena terikat dengan mimpinya "untuk mendapatkan kebebasan".
Gimana bingung kan...??
Kalau dielaborasikan pada kehidupan nyata di dunia ini. Manusia tidak akan pernah mendapatkan definisi dari kebebasan, mereka punya arti masing-masing. Hidup di dunia juga selalu dalam proses pencarian yang panjang. Keputusan yang selalu kita ambil sebagai manusia juga tidak sepenuhnya berasal dari diri kita sendiri. Tapi akhir yang sederhana dari anime Attack On Titan ini. "Meskipun kita terikat pada apapun itu, jangan takut untuk melepaskan keterikatan itu jika dirasa itu sudah melukai diri kita sendiri saat ini".
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
