Memori di Balik Layar Kaca: Senandung 'Wow Indonesia' yang Hilang
Sastra | 2026-01-23 15:57:16
Cerpen ini mengisahkan perjalanan emosional Daffa, seorang mahasiswa jurusan International Relations di tahun 2025, yang terjebak dalam ruang nostalgia antara realitas dunia modern yang sinis dan memori masa kecilnya yang penuh harapan. Di tengah penatnya tuntutan akademis, Daffa selalu dihantui oleh kerinduan akan hari Sabtu sore—sebuah waktu yang dulu ia anggap sakral saat ia masih duduk di kelas 5 SD. Ingatannya tertuju pada program Wow Indonesia di Trans7, sebuah tayangan yang mengulas kehebatan dan potensi Nusantara di mata dunia, yang menjadi sumber sense of pride dan vibes kedamaian baginya sebelum akhirnya program tersebut tamat pada April 2016.
Melalui pencarian arsip video yang pixelated dan perdebatan sengit mengenai bargaining power Indonesia di kancah global, Daffa mengalami pergulatan batin antara skeptisisme masa kini dan idealisme masa lalu. Cerita ini memotret transformasi Daffa dari seorang penonton pasif yang meratapi hilangnya sebuah program televisi, menjadi seorang pemuda yang menyadari bahwa dirinya adalah "suara" baru bagi negaranya. Dengan latar peralihan dari televisi tabung menuju layar laptop tahun 2025, narasi ini mengeksplorasi tema identitas nasional, cultural lag, serta bagaimana sebuah inspirasi masa kecil dapat menjadi bahan bakar untuk melakukan rebranding terhadap martabat bangsa di panggung dunia.
Tahun 2025 ternyata tidak sehebat yang dibayangkan Daffa saat ia masih bocah. Di meja belajarnya yang berantakan dengan tumpukan diktat kuliah International Relations, Daffa menyandarkan punggungnya yang pegal. Jarum jam di dinding kosannya menunjukkan pukul lima sore. Entah mengapa, setiap kali Sabtu sore menyapa dengan semburat jingga yang masuk melalui celah ventilasi, ada sebuah denyut nostalgia yang mendesak dadanya. Sebuah perasaan damai yang ganjil, sebuah vibe yang hanya bisa ia rasakan satu dekade silam.
“Daf, masih betah di depan laptop? Weekend begini mending ikut kita ke kantin pusat, yuk!” teriak Rendy, teman sekosnya, sambil melongok di ambang pintu.
Daffa hanya tersenyum tipis, matanya masih menatap kosong ke arah jendela. “Duluan saja, Ren. Aku cuma lagi ingat sesuatu. Sabtu sore jam segini... dulu adalah waktu paling sakral buatku.”
“Sakral gimana? Karena nggak ada tugas kuliah?” gurau Rendy.
“Lebih dari itu. Ini tentang rasa bangga yang sederhana,” gumam Daffa pelan.
Ingatannya melesat jauh, menembus lorong waktu menuju akhir 2015. Saat itu, Daffa masih duduk di kelas 5 SD. Bagi Daffa kecil, hari Sabtu bukanlah sekadar hari libur sekolah, melainkan hari di mana dunianya yang sempit di sudut kota kecil seketika meluas menjadi jendela dunia. Tepat pukul 17.00 WIB, ia akan sudah mandi, wangi minyak telon, dan duduk manis di depan televisi tabung di ruang tengah.
“Ibu! Cepat nyalakan Trans7! Programnya sudah mau mulai!” teriak Daffa kecil kala itu, suaranya melengking penuh antusiasme.
Ibunya yang sedang melipat baju hanya bisa geleng-geleng kepala. “Sabar, Daffa. Remote-nya ada di atas meja. Kamu ini, setiap Sabtu sore selalu saja tidak mau lepas dari Wow Indonesia.”
“Ibu harus lihat, hari ini mereka bahas tentang penemu asal Indonesia yang diakui dunia! Katanya, orang kita itu hebat-hebat, Bu!” sahut Daffa dengan mata berbinar-binar.
Itulah masa keemasan Daffa. Wow Indonesia bukan sekadar tontonan baginya; itu adalah asupan rasa percaya diri. Program itu merangkum segala kehebatan nusantara, mulai dari kekayaan alam yang breathtaking, inovasi teknologi anak bangsa, hingga budaya yang membuat warga asing berdecak kagum. Musik latarnya yang enerjik seolah menjadi soundtrack kebahagiaannya. Saat itu, Sabtu sore adalah titik paling damai, di mana tidak ada beban ujian matematika, hanya ada rasa bangga yang membuncah setiap kali narator menutup segmen dengan kalimat-kalimat inspiratif.
Namun, kedamaian itu menemui titik akhirnya di pertengahan 2016. Daffa masih ingat rasa sesak di dadanya ketika bulan April tahun itu menjadi penayangan terakhir program favoritnya. Program itu tamat, meninggalkan ruang kosong di setiap Sabtu sorenya. Sejak saat itu, pukul lima sore di hari Sabtu tak pernah lagi terasa sama.
Kini, di tahun 2025, Daffa mencoba mencari sisa-sisa rekaman program itu di platform video sharing, namun rasanya tetap berbeda. The golden era itu telah berlalu, namun semangat yang ditanamkan oleh Wow Indonesia di benak Daffa kecil itulah yang membawanya masuk ke jurusan Hubungan Internasional sekarang. Ia ingin membawa kehebatan yang dulu hanya ia tonton di layar kaca, menjadi kenyataan yang ia perjuangkan di panggung dunia.
Daffa menghela napas panjang, jemarinya menari di atas trackpad laptop, mencoba mencari potongan klip lama di YouTube dengan kata kunci "Wow Indonesia Trans7 2016". Hasilnya nihil. Hanya ada beberapa video pendek berkualitas rendah dengan resolusi pixelated yang bahkan tidak sanggup menangkap kemegahan visual yang dulu pernah menghipnotisnya.
"Sial, kenapa sulit sekali mencari arsipnya?" umpat Daffa pelan. Rasa frustrasi itu bukan sekadar karena gagal menemukan video, melainkan karena ia merasa sedang kehilangan jangkar identitasnya.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk ke grup WhatsApp angkatannya. Diskusi panas tentang isu geopolitik dan rendahnya indeks daya saing Indonesia di kancah global sedang menjadi perdebatan sengit.
"Daf, lo liat berita hari ini? Indonesia lagi-lagi cuma jadi pasar buat produk asing. Kita ini emang nggak punya bargaining power ya di mata dunia?" sebuah pesan dari rekannya, Sarah, muncul di layar.
Daffa terdiam. Kalimat itu terasa seperti tamparan. Di masa ia kelas 5 SD, Wow Indonesia memberinya narasi yang berlawanan. Ia teringat segmen tentang BJ Habibie atau tentang bagaimana kopi asal Toraja dipuja-puja di kafe elit Paris.
"Dulu, semuanya terasa sangat mungkin," gumam Daffa. Ia teringat Sabtu sore di bulan April 2016. Sore itu, udara terasa gerah. Daffa sudah siap dengan buku catatan kecilnya—kebiasaan barunya untuk mencatat hal-hal hebat yang ia tonton.
"Bu, kenapa hari ini pembawa acaranya bilang ini episode terakhir?" tanya Daffa kecil dengan suara bergetar, menatap layar televisi tabung yang menampilkan credit title bergerak naik.
Ibunya mendekat, mengusap kepala Daffa. "Mungkin kontraknya sudah habis, atau memang sudah waktunya ganti program baru, Nak."
"Tapi Bu, siapa lagi yang bakal bilang kalau Indonesia itu hebat? Kalau acaranya ganti sinetron atau gosip, nanti Daffa nggak tahu lagi kalau orang kita bisa bikin pesawat!" protes Daffa, matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa seolah jendela besar yang menghubungkan kamar sempitnya dengan dunia luar baru saja dibanting tutup di depan wajahnya. Vibe damai yang biasanya menyelimuti rumah mereka setiap Sabtu pukul lima sore, seketika menguap, digantikan oleh sunyi yang menyesakkan.
Kembali ke tahun 2025, Daffa menutup tab diskusi grupnya. Ia merasa terjebak dalam cultural lag. Di satu sisi, ia dididik secara akademis di jurusan International Relations untuk melihat realita yang pahit, penuh dengan persaingan power politics yang kejam. Di sisi lain, sisa-sisa semangat dari narasi Wow Indonesia masih berdenyut di nadinya, menolak untuk menyerah pada sinisme.
Rendy kembali masuk ke kamar, kali ini membawa dua cup kopi instan. "Daf, lo masih mikirin 'Sabtu Sakral' itu? Lo tahu kan, dunia sekarang nggak se-magical tontonan TV waktu kita kecil? Kita ini cuma butiran debu di tengah global supply chain."
Daffa menoleh, menatap sahabatnya tajam. "Justru itu masalahnya, Ren. Kita kehilangan sense of pride. Program itu bukan cuma jualan mimpi, mereka ngasih bukti. Sekarang, setiap Sabtu jam lima, gue ngerasa kayak ada yang hilang, seolah-olah soundtrack hidup gue tiba-tiba di-mute."
"Lo terlalu melankolis, Daf. Itu cuma program TV yang sudah tamat hampir satu dekade lalu," balas Rendy santai sambil menyeruput kopinya.
"Bukan cuma programnya yang tamat, Ren," sahut Daffa lirih, "tapi cara kita melihat diri sendiri juga seolah-olah ikut berhenti di tahun 2016. Gue kuliah di jurusan ini karena gue mau membuktikan kalau narasi di Wow Indonesia itu bukan sekadar skrip televisi. Gue mau ngerasain lagi pride yang dulu gue punya pas masih pakai seragam merah putih."
Daffa kembali menatap layar laptopnya yang kini menampilkan draf esai kuliahnya yang berjudul "Rebranding Indonesia's National Identity in Post-Modern Era". Ia menyadari bahwa pencariannya terhadap video lama itu bukan karena ia ingin bernostalgia semata, melainkan karena ia sedang mencari bahan bakar untuk jiwanya yang mulai skeptis menghadapi tuntutan realita tahun 2025.
Daffa tertegun di depan layar laptopnya. Kata-kata Rendy tentang "butiran debu di tengah global supply chain" terus terngiang, berbenturan keras dengan memori suara narator Wow Indonesia yang selalu terdengar heroik di telinganya. Ketegangan batin itu mencapai puncaknya ketika Daffa tanpa sengaja menemukan sebuah berkas lama di cloud storage miliknya—sebuah foto buram hasil jepretan kamera ponsel jadulnya di tahun 2016. Foto layar televisi yang menampilkan closing statement episode terakhir program tersebut.
"Lihat ini, Ren," suara Daffa bergetar, memanggil Rendy yang nyaris melangkah keluar kamar. "Ini alasan kenapa gue nggak bisa se-skeptis lo."
Rendy mendekat, menyipitkan mata menatap foto yang dipenuhi noise itu. Di sana, di bawah logo Trans7 yang khas, tertulis kutipan pendek: “Kebesaran bangsa ini tidak ditentukan oleh layar kaca, tapi oleh tangan-tangan yang percaya bahwa mereka hebat.”
“Itu tagline terakhir mereka sebelum off-air selamanya,” ucap Daffa, kini berdiri dengan tangan terkepal. “Selama ini gue merasa kehilangan ‘suara’ itu, gue merasa dunianya sudah kiamat sejak April 2016 karena nggak ada lagi yang menyuapi gue rasa bangga. Tapi barusan gue sadar, gue ini produk dari program itu, Ren!”
“Maksud lo?” Rendy mengernyit, mencoba memahami ledakan emosi sahabatnya.
“Klimaksnya bukan di saat acara itu tamat, tapi di saat gue membiarkan semangat itu ikut mati cuma karena gue sudah kuliah!” Daffa menyambar diktat International Relations-nya dengan kasar. “Lo bilang kita cuma pasar? Lo bilang kita nggak punya bargaining power? Itu karena orang-orang kayak kita cuma bisa mengeluh sambil nonton berita buruk di smartphone! Kita lupa bagaimana rasanya menjadi anak kelas 5 SD yang percaya kalau Indonesia bisa mengguncang dunia.”
“Daf, tenang dulu. Itu cuma masa lalu,” potong Rendy.
“Bukan, Ren! Ini bukan soal masa lalu. Ini soal mindset,” Daffa memotong dengan tegas, matanya berkilat penuh tekad yang lama padam. “Gue kuliah di HI bukan untuk jadi diplomat yang sekadar tunduk pada great powers. Gue di sini karena Wow Indonesia pernah menanamkan benih di kepala gue bahwa kita punya legacy. Kalau program itu sudah tamat dan nggak ada lagi yang menyuarakan kehebatan kita, maka gue—kita—yang harus jadi suaranya di dunia nyata.”
Sore itu, di bawah langit jingga tahun 2025 yang biasanya terasa menyesakkan, Daffa merasakan vibe damai yang sama seperti Sabtu sore sepuluh tahun lalu. Bedanya, kali ini kedamaian itu bukan berasal dari layar televisi, melainkan dari sebuah resolusi yang lahir dari rasa kehilangan. Ia menyadari bahwa pencarian arsip video pixelated itu sia-sia, karena arsip terbaik dari program itu adalah dirinya sendiri yang kini tengah berjuang di bangku kuliah.
“Gue nggak butuh video re-run itu lagi,” gumam Daffa sambil menutup laptopnya dengan bunyi klik yang mantap. “Gue yang akan bikin orang-orang di luar sana bilang ‘Wow, Indonesia’ saat melihat apa yang bisa kita perbuat.”
Rendy terdiam, menatap Daffa dengan pandangan baru. Kesunyian kamar kos itu kini tidak lagi terasa hampa, melainkan penuh dengan energi yang mendesak untuk segera disalurkan.
Daffa menarik napas dalam-dalam, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya dengan semangat yang baru saja terisi ulang. Ia berjalan menuju cermin kecil yang tertempel di lemari pakaiannya, mematut dirinya yang kini mengenakan jaket almamater—simbol perjuangan intelektualnya.
“Ren, aku baru sadar satu hal,” ujar Daffa memecah keheningan, suaranya kini lebih berat dan penuh keyakinan. “Alasan kenapa Sabtu sore di tahun 2025 ini terasa menyesakkan adalah karena aku terus-menerus memposisikan diriku sebagai penonton yang kehilangan tontonan. Aku menunggu narator TV bicara, padahal sekarang giliranku yang memegang mikrofon.”
Rendy bersandar di kusen pintu, mulai terpengaruh oleh aura positif Daffa. “Jadi, apa rencana lo? Nggak mungkin kan lo minta Trans7 buat re-run program itu lagi?”
Daffa terkekeh, sebuah tawa yang sudah lama tidak terdengar setiap Sabtu sore. “Tentu tidak. Tapi esai yang tadi aku tulis? Aku akan merombaknya total. Aku tidak akan lagi menulis tentang betapa lemahnya posisi kita. Aku akan menulis tentang hidden potential yang pernah dipaparkan program itu. Aku akan menulis bagaimana local wisdom kita bisa menjadi solusi untuk global issues.”
Ia kemudian mengambil ponselnya, membuka aplikasi LinkedIn, dan mulai mengetik sesuatu. “Aku akan mencari koneksi ke beberapa non-governmental organizations yang fokus pada diplomasi budaya. Aku ingin membuktikan bahwa pride yang kurasakan saat kelas 5 SD itu bukan sekadar gimmick televisi, tapi sebuah national branding yang memang layak diperjuangkan.”
“Wah, lo beneran kerasukan semangat narator TV ya?” canda Rendy, namun matanya menunjukkan rasa hormat.
“Mungkin lebih dari itu, Ren. Ini tentang membayar hutang rasa damai yang dulu aku terima setiap Sabtu jam lima,” balas Daffa tulus. “Aku ingin anak-anak kelas 5 SD di masa depan tidak perlu merasa kehilangan saat program favorit mereka tamat, karena mereka bisa melihat kehebatan bangsanya secara langsung di kehidupan nyata, bukan cuma di layar kaca.”
Daffa melangkah menuju jendela, menatap matahari yang kian tenggelam di cakrawala kota. Warna jingganya masih sama dengan jingga di tahun 2015. Senandung Wow Indonesia yang dulu seolah hilang, kini terdengar kembali di kepalanya, namun kali ini bukan sebagai lagu perpisahan, melainkan sebuah march keberangkatan.
“Selamat tinggal, Daffa kecil yang hobi nonton TV,” gumamnya pelan sambil tersenyum ke arah langit. “Sekarang, waktunya membuat dunia benar-benar berkata ‘Wow’ pada Indonesia.”
Sore itu, untuk pertama kalinya sejak April 2016, Daffa tidak merasa hampa saat jam menunjukkan pukul 18.00 WIB. Sabtu sorenya tidak lagi tamat. Sabtu sorenya baru saja dimulai.
Cahaya lampu neon di koridor kampus mulai berpijar satu per satu saat Daffa melangkah keluar dari perpustakaan pusat. Tas punggungnya terasa lebih ringan, meski di dalamnya terdapat tumpukan revisi draf esai yang baru saja ia selesaikan. Di luar, semburat crepuscular—cahaya jingga yang menembus awan—masih tersisa sedikit di kaki langit, menandai berakhirnya hari Sabtu yang paling produktif dalam hidupnya.
Ia berhenti sejenak di selasar, mengeluarkan ponselnya, lalu memasang earphone. Namun, kali ini ia tidak mencari musik lo-fi untuk menemaninya berjalan. Ia membuka folder penyimpanan cloud pribadinya dan memutar satu-satunya aset audio yang berhasil ia selamatkan: rekaman suara narator Wow Indonesia yang pernah ia rekam menggunakan fitur perekam suara ponsel ibunya pada awal 2016.
“...dan ingatlah, kekayaan Nusantara bukan hanya tentang apa yang tertanam di tanahnya, tapi tentang mimpi-mimpi yang tumbuh di kepala anak-anaknya. Sampai jumpa di Wow Indonesia pekan depan!”
Daffa memejamkan mata. Suara itu, meski diiringi noise statis yang kasar, tetap memiliki kekuatan magis yang sama.
“Daf! Masih di kampus?” suara Sarah memecah lamunannya. Gadis itu berjalan mendekat dengan wajah lelah, khas mahasiswa tingkat akhir yang baru saja bertempur dengan data.
“Eh, Sar. Iya, baru selesai revisi esai yang kita bahas di grup kemarin,” jawab Daffa sambil melepas satu sisi earphone-nya.
Sarah menaikkan alisnya, teringat perdebatan mereka. “Esai tentang rendahnya bargaining power kita itu? Masih mau lo lanjutin dengan nada pesimis begitu?”
Daffa menggeleng mantap, senyumnya terkembang. “Enggak. Gue rombak total. Judulnya sekarang ‘Resonansi Kejayaan Nusantara: Mengaktivasi Kembali DNA Inovasi Global’. Gue memasukkan studi kasus tentang teknologi konstruksi Sosrobahu dan penemuan-penemuan pemuda kita yang dulu pernah diulas di program TV favorit gue. Gue ingin menunjukkan kalau kita punya track record untuk jadi pemimpin, bukan cuma pengikut.”
Sarah terdiam sejenak, menatap Daffa dengan saksama. “Lo beda banget sore ini. Kayak punya vibe yang... entahlah, tenang tapi tajam. State of mind lo kayak lagi nggak di tahun 2025 yang semrawut ini.”
“Mungkin karena gue baru saja menemukan kembali ‘Sabtu sore’ gue yang hilang, Sar,” Daffa terkekeh kecil. “Gue sadar, program itu memang sudah off-air sejak April 2016. Tapi legacy-nya nggak seharusnya ikut dikubur. Kalau Trans7 nggak lagi menayangkan kehebatan Indonesia pukul lima sore, maka gue yang akan jadi representasi kehebatan itu lewat tulisan dan diplomasi gue nanti.”
“Deep banget, Daf,” Sarah tersenyum, kali ini tulus. “Kayaknya gue juga butuh tontonan masa kecil lo itu buat recharge otak gue yang isinya cuma angka inflasi.”
“Nanti gue kirim catatannya ke lo. Catatan anak kelas 5 SD yang percaya kalau Indonesia itu pusat dunia,” balas Daffa penuh semangat.
Mereka berjalan beriringan menuju gerbang kampus. Di sepanjang jalan, Daffa memperhatikan sekelilingnya dengan cara pandang yang berbeda. Ia melihat deretan pohon mahoni yang kokoh, para mahasiswa yang berdiskusi di taman, hingga kerajinan tangan pedagang di pinggir jalan. Semuanya tampak seperti cuplikan segmen Wow Indonesia yang sedang berjalan dalam format real-time.
Sesampainya di gerbang, Daffa berhenti sejenak dan menoleh ke arah gedung fakultasnya yang menjulang. Ia teringat kembali pada layar televisi tabung di rumahnya satu dekade lalu, pada aroma minyak telon, dan pada suara ibunya yang memanggilnya untuk segera mandi.
“Terima kasih sudah pernah hadir, Wow Indonesia,” bisik Daffa dalam hati. “Kamu bukan cuma program TV yang menemani Sabtu soreku. Kamu adalah janji yang harus kutepati pada diriku sendiri.”
Sabtu sore itu, jam menunjukkan pukul 18.30 WIB. Di kejauhan, adzan Maghrib mulai berkumandang, menandai berakhirnya waktu sakral itu. Namun bagi Daffa, tidak ada lagi rasa sesak atau hampa. Rasa damai yang dulu ia cari di balik layar kaca, kini telah berpindah dan menetap di dalam dadanya sebagai sebuah misi yang abadi.
Layar di masa lalunya mungkin sudah gelap, tetapi layar masa depannya baru saja menampilkan teaser pertama dari sebuah mahakarya yang ia tulis sendiri. Sebuah mahakarya di mana Indonesia tidak lagi sekadar menjadi tontonan, melainkan menjadi pelaku utama yang membuat seluruh dunia berdiri dan memberikan standing ovation.
Kisah Daffa dan "Wow Indonesia" bukan sekadar romansa picisan antara seorang pemuda dengan program televisi masa kecilnya. Ini adalah sebuah refleksi mendalam bahwa setiap individu adalah kurator dari narasinya sendiri. Kita sering kali terjebak dalam mental block yang mengatakan bahwa masa kejayaan telah berlalu, bahwa the golden era hanya milik masa lalu yang pixelated, atau bahwa kita hanyalah penonton pasif di tengah arus globalization yang impersonal. Namun, Daffa mengajarkan kita bahwa sebuah inspirasi tidak memiliki tanggal kedaluwarsa. Meski sebuah program televisi telah off-air atau sebuah kontrak penayangan telah menemui final episode-nya, esensi dari nilai yang disampaikan harus tetap stay alive dalam tindakan nyata.
Amanat yang tersirat di balik senandung yang hilang ini adalah tentang pentingnya menjaga sense of pride dan national identity di tengah gempuran skeptisisme modern. Jangan membiarkan diri kita menjadi bystander yang hanya meratapi hilangnya tontonan yang mendidik, melainkan jadilah game changer yang mewujudkan nilai-nilai edukasi tersebut dalam profesi dan karya. Kita tidak boleh membiarkan rasa bangga terhadap bangsa terkubur bersamaan dengan selesainya sebuah durasi siaran.
Lebih dari itu, cerita ini mengingatkan kita bahwa setiap orang membutuhkan "Sabtu Sore"-nya masing-masing—sebuah ruang sacred untuk mengisi ulang energi jiwa. Namun, kedamaian sejati tidak ditemukan dengan memutar kembali rekaman lama secara obsesif, melainkan dengan mentransformasikan nostalgia tersebut menjadi bahan bakar untuk bergerak maju. Ketika dunia luar tampak tidak lagi menawarkan narasi yang membesarkan hati, maka itulah saatnya bagi kita untuk naik ke atas panggung, mengambil spotlight, dan membuktikan bahwa kehebatan yang dulu kita kagumi di layar kaca hanyalah sebuah trailer kecil dari potensi masif yang sebenarnya kita miliki. Pada akhirnya, menjadi "Wow" adalah sebuah pilihan hidup, bukan sekadar judul sebuah acara.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
