Monas, Lebih dari Sekadar Monumen: Ruang Sejarah dan Publik di Jantung Jakarta
Sejarah | 2026-01-19 15:56:03Monumen Nasional (Monas) selama ini dikenal sebagai ikon utama Jakarta sekaligus simbol kebanggaan bangsa Indonesia. Namun, di tengah dinamika kota modern yang terus berkembang, Monas tidak hanya berfungsi sebagai tugu peringatan kemerdekaan, tetapi juga sebagai ruang edukasi sejarah dan ruang publik yang hidup bagi masyarakat perkotaan.
Terletak di jantung Ibu Kota, Monas menjadi titik temu antara memori perjuangan bangsa dan aktivitas masyarakat urban. Keberadaannya menghadirkan pengingat akan sejarah kemerdekaan di tengah hiruk pikuk Jakarta sebagai kota metropolitan. Di kawasan ini, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi juga hadir dan berinteraksi langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Monas dibangun atas gagasan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, sebagai monumen monumental yang merepresentasikan semangat perjuangan bangsa. Pembangunannya dimulai pada tahun 1961 dan diresmikan untuk umum pada 1975. Secara arsitektural, Monas berbentuk obelisk setinggi 132 meter dengan lidah api berlapis emas di puncaknya, yang melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia yang tidak pernah padam.
Di bagian dasar Monas terdapat Museum Sejarah Nasional yang menyajikan diorama perjalanan sejarah Indonesia dari masa prasejarah hingga kemerdekaan. Museum ini menjadikan Monas sebagai ruang edukasi sejarah yang mudah diakses oleh masyarakat, khususnya pelajar dan generasi muda. Melalui penyajian visual dan narasi kronologis, pengunjung dapat memahami sejarah bangsa secara lebih kontekstual.
Selain fungsi edukatif, kawasan Monas juga berperan sebagai ruang publik yang inklusif. Taman Medan Merdeka di sekeliling Monas menjadi tempat masyarakat berkumpul untuk berolahraga, berekreasi, dan mengikuti berbagai kegiatan budaya. Berbagai acara kenegaraan dan peringatan hari nasional kerap diselenggarakan di kawasan ini, menegaskan posisi Monas sebagai pusat simbolik negara sekaligus ruang partisipasi publik.
Meski memiliki peran strategis, pengelolaan Monas di era modern tidak lepas dari tantangan. Tekanan urbanisasi, tingginya aktivitas pengunjung, serta keterbatasan inovasi digital menjadi persoalan yang perlu diatasi. Di era teknologi, masyarakat cenderung mengharapkan pengalaman sejarah yang lebih interaktif dan informatif.
Oleh karena itu, pengelolaan Monas perlu dilakukan secara adaptif dan inovatif. Pemanfaatan teknologi digital, peningkatan fasilitas publik, serta keseimbangan antara pelestarian nilai sejarah dan fungsi ruang publik menjadi kunci agar Monas tetap relevan. Dengan pengelolaan yang tepat, Monas dapat terus berperan sebagai simbol sejarah, ruang edukasi, dan ruang publik yang bermakna.
Monas bukan sekadar monumen masa lalu, melainkan bagian dari kehidupan kota Jakarta hari ini. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa pembangunan kota modern tetap perlu berpijak pada sejarah dan identitas bangsa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
