Perjalanan Singkat Menyusuri Simbol Sejarah Bangsa (Monas)
Sejarah | 2026-01-19 10:14:14Monumen Nasional (Monas) merupakan salah satu simbol nasional yang merepresentasikan sejarah dan identitas bangsa Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji Monas sebagai simbol sejarah bangsa melalui pendekatan studi literatur. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan menelaah buku, artikel jurnal ilmiah, dan sumber akademik lain yang relevan dengan monumen nasional, memori sejarah, dan pendidikan sejarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa Monas tidak hanya berfungsi sebagai monumen peringatan kemerdekaan, tetapi juga sebagai media pembentukan memori kolektif, sarana edukasi sejarah, serta penguat identitas kebangsaan.
Melalui makna simbolik dan fungsi edukatifnya, Monas memiliki peran penting dalam menghubungkan nilai-nilai sejarah masa lalu dengan kehidupan sosial masyarakat masa kini. Oleh karena itu, Monas tetap relevan sebagai media pembelajaran sejarah dan refleksi nilai-nilai kebangsaan, khususnya bagi generasi muda. Kata kunci: Monumen Nasional, sejarah bangsa, memori kolektif, pendidikan sejarah, identitas nasional Monumen Nasional (Monas) merupakan salah satu simbol kebangsaan yang memiliki peran penting dalam merepresentasikan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Keberadaan Monas tidak hanya dimaknai sebagai bangunan fisik
yang berdiri di pusat Ibu Kota, tetapi juga sebagai penanda ingatan kolektif atas perjalanan panjang bangsa dalam mencapai kemerdekaan. Dalam konteks ruang kota, Monas berfungsi sebagai landmark nasional yang menghubungkan nilai sejarah, identitas, serta semangat persatuan. Perjalanan ke Monas dalam artikel ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memahami makna simbolik tersebut secara langsung.
Dibandingkan dengan pembelajaran sejarah yang bersifat tekstual, kunjungan ke situs bersejarah memungkinkan penulis untuk mengamati, merasakan, dan merefleksikan nilai-nilai kebangsaan melalui pengalaman nyata di lapangan. Dalam konteks ini, Monas tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga ruang edukatif yang terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Menurut Smith (2006), monumen nasional berperan sebagai media penting dalam pembentukan identitas nasional karena mampu merepresentasikan ingatan sejarah bersama dalam bentuk simbolik.
Pandangan ini dapat dilihat relevansinya pada Monas, yang dirancang bukan sekadar sebagai monumen peringatan, tetapi juga sebagai sarana edukasi sejarah melalui museum dan diorama yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian, Monas berfungsi sebagai penghubung antara masa lalu, masa kini, dan generasi mendatang. Selain itu, dalam konteks pendidikan kewarganegaraan dan pembentukan karakter, keberadaan monumen bersejarah memiliki nilai strategis.
Ashworth dan Tunbridge (2000) menjelaskan bahwa situs warisan sejarah berkontribusi dalam memperkuat kesadaran sejarah publik serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap identitas bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa kunjungan ke Monas tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga memiliki dimensi edukatif dan reflektif yang penting, khususnya bagi generasi muda. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan perjalanan singkat ke Monumen Nasional dengan menekankan pada pengalaman personal, pengamatan langsung, serta refleksi terhadap nilai sejarah dan kebangsaan yang terkandung di dalamnya. Melalui pendekatan deskriptif- reflektif, artikel ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai peran Monas sebagai simbol sejarah bangsa sekaligus sebagai media pembelajaran yang relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Monumen Nasional sebagai Representasi Sejarah dan Identitas Bangsa Indonesia Monumen Nasional (Monas) merupakan simbol nasional yang merepresentasikan narasi besar sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Dalam kajian historiografi Indonesia, monumen dipahami sebagai medium untuk merepresentasikan ingatan kolektif dan identitas kebangsaan ke dalam bentuk simbolik yang dapat diakses oleh publik. Kuntowijoyo (2003) menyatakan bahwa sejarah tidak hanya berfungsi sebagai rekaman masa lalu, tetapi juga sebagai sarana pembentukan kesadaran identitas dan orientasi masa depan bangsa.
Keberadaan Monas di pusat ibu kota negara menunjukkan upaya negara dalam menempatkan sejarah sebagai fondasi simbolik kehidupan berbangsa. Kartodirdjo (1993) menjelaskan bahwa simbol-simbol sejarah yang hadir di ruang publik memiliki kekuatan ideologis karena mampu membentuk cara pandang masyarakat terhadap masa lalu dan jati diri bangsa. Dalam konteks ini, Monas berfungsi sebagai penanda identitas nasional yang terus dimaknai ulang seiring perubahan sosial yang terjadi di masyarakat Indonesia. (2020) yang menyatakan bahwa monumen nasional berperan penting dalam membangun kesadaran sejarah masyarakat perkotaan melalui simbol dan narasi visual yang ditampilkan.
Dengan demikian, Monas tidak hanya menjadi artefak sejarah, tetapi juga instrumen sosial dalam pembentukan identitas kebangsaan. Fungsi Edukatif Monas sebagai Media Pembelajaran Sejarah Monas memiliki peran strategis sebagai media pembelajaran sejarah nonformal. Keberadaan museum sejarah dan diorama perjuangan di dalam kawasan Monas menunjukkan bahwa monumen ini dirancang sebagai sarana edukasi publik.
Menurut Susanto (2014), pembelajaran sejarah akan lebih efektif apabila disajikan secara kontekstual dan dikaitkan dengan realitas sosial serta pengalaman ruang peserta didik. Penelitian oleh Widiastuti (2018) dalam jurnal pendidikan sejarah menunjukkan bahwa pemanfaatan situs bersejarah sebagai sumber belajar mampu meningkatkan pemahaman konseptual dan kesadaran historis peserta didik. Hal ini disebabkan karena peserta didik tidak hanya menerima informasi secara tekstual, tetapi juga melalui pengalaman visual dan simbolik.
Dalam konteks ini, Monas dapat dipahami sebagai ruang belajar terbuka yang memungkinkan terjadinya proses refleksi sejarah secara lebih mendalam. Pranoto (2010) menegaskan bahwa peninggalan sejarah memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran apabila diintegrasikan dengan pendekatan analitis dan reflektif. Oleh karena itu, Monas tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata sejarah, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran yang relevan bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda. Monas sebagai Ruang Publik dan Media Pembentukan Kesadaran Sosial Selain berfungsi sebagai simbol sejarah dan media edukasi, Monas juga berperan sebagai ruang publik yang aktif digunakan oleh masyarakat.
Dalam kajian sosial-budaya, ruang publik yang memiliki nilai historis berfungsi sebagai arena interaksi sosial sekaligus pembentukan kesadaran kolektif. Zed (2014) menyatakan bahwa ruang publik yang sarat nilai sejarah mampu memperkuat ikatan sosial melalui pengalaman bersama yang berulang. Penelitian yang dilakukan oleh Nugroho dan Prasetyo (2019) menunjukkan bahwa kawasan bersejarah di ruang kota berperan dalam membangun rasa memiliki masyarakat terhadap identitas kota dan bangsa. Aktivitas masyarakat di kawasan Monas, baik untuk rekreasi, kegiatan komunitas, maupun peringatan nasional, menunjukkan bahwa monumen ini terus hidup dan dimaknai ulang sesuai dinamika sosial. Hal ini menegaskan bahwa Monas tidak bersifat statis, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat perkotaan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
