Nada Cinta
Sastra | 2026-01-19 10:13:11
Cerpen ini mengisahkan perjalanan emosional Raka, seorang remaja yang menyembunyikan bakat bermain gitarnya di balik dinding ruang musik sekolah karena rasa tidak percaya diri dan ketakutan akan penilaian orang lain. Dunianya yang sunyi berubah ketika ia bertemu dengan Dara, seorang pianis yang membawa kehangatan melalui harmoni nada dan ketulusan hati. Melalui kolaborasi musik untuk pentas seni sekolah, keduanya belajar bahwa keindahan sejati tidak terletak pada kesempurnaan teknis, melainkan pada keberanian untuk bersikap jujur dan terbuka.
Lebih dari sekadar kisah romansa remaja, "Nada Cinta" menggambarkan bagaimana hubungan yang sehat dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan diri, disiplin akademik, dan ketaatan spiritual. Dengan latar suasana hujan yang puitis, kisah ini menegaskan bahwa cinta yang selaras dengan nilai-nilai agama dan tanggung jawab pendidikan akan menciptakan melodi kehidupan yang abadi, kuat, dan tidak akan pernah sumbang meski menghadapi berbagai ujian waktu.
Di balik rintik hujan yang membasahi ruang musik sekolah, Raka menemukan pelarian dari kecemasan akan kemampuan bermusiknya. Selama ini, ia menyembunyikan bakat gitarnya karena takut akan penilaian orang lain terhadap nada yang ia anggap sumbang. Namun, kehadiran Dara yang membawa kehangatan harmoni piano mengubah segalanya. Melalui kolaborasi untuk Pentas Seni, mereka belajar bahwa keindahan sejati lahir dari kejujuran hati, bukan sekadar kesempurnaan teknis. Kisah ini merupakan perjalanan dua remaja dalam menyatukan melodi dan jiwa, dengan tetap menjunjung nilai agama, pendidikan, dan tanggung jawab—sebuah harmoni yang diharapkan mampu bertahan melewati berbagai ujian kehidupan.
Langit masih menyisakan rona abu-abu saat gerimis membasahi halaman sekolah. Tetesan air menciptakan genangan kecil di sela-sela ubin paviliun dan menyebarkan aroma tanah basah yang menenangkan. Di koridor yang masih sepi, langkah kaki Raka bergema pelan menuju gedung belakang, tempat ruang musik berada.
Ia menyeka kaca jendela yang berembun dengan punggung tangannya, menatap bulir air yang meluncur turun. Ruangan ini adalah tempat pelariannya; ia selalu tiba satu jam sebelum bel masuk berbunyi, saat sekolah masih menyerupai kanvas kosong yang belum terisi keriuhan siswa.
Raka menghela napas panjang sembari mengeluarkan gitar dari tasnya. "Satu jam lagi sebelum siswa lain berdatangan," bisiknya pelan. Ia memetik satu senar; suaranya berdenting tunggal di dalam ruangan yang sunyi. "Masih sumbang. Lebih baik begini. Aku belum siap jika ada yang mencela permainanku yang berantakan. Di sini, setidaknya hanya dinding-dinding tua ini yang menjadi saksi."
Ia menarik kursi kayu ke dekat jendela, merasa lebih tenang dengan kesunyian sebagai satu-satunya penonton. Baginya, gitar adalah rahasia yang belum layak dipamerkan. Petikannya belum bersih dan nadanya belum bulat. "Ayo, Raka. Fokuslah. Berlatihlah hingga jemari ini tidak ragu lagi," gumamnya menyemangati diri sendiri sembari mengatur posisi duduk dan memeriksa senar yang sedikit kendur.
Ia baru saja memutar kenop penyetel (tuner) untuk menyelaraskan nada ketika langkah kaki yang tidak terduga terdengar memasuki ruangan. Raka tersentak, jemarinya tertahan di atas dawai. Ia menoleh dengan cepat.
Dara berdiri di ambang pintu sembari membawa map berwarna biru muda. Rambutnya sedikit basah terkena tempias hujan, tetapi ekspresi wajahnya tetap hangat, kontras dengan udara pagi yang dingin.
“Kamu sudah datang?” tanya Dara, memecah keheningan yang sejak tadi dijaga ketat oleh Raka.
Raka mengangguk pelan, berusaha menutupi keterkejutannya. “Iya. Apakah kamu ingin berlatih juga?”
Dara melangkah masuk lebih dalam, membawa aroma hujan segar yang menyeruak ke dalam ruangan. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, menatap instrumen-instrumen yang tertutup kain penutup debu.
“Sebenarnya, aku sedang mencari piano besar untuk ujian,” ujarnya pelan sembari mendekap map biru di dadanya. “Katanya piano itu dipindahkan ke sini karena aula sedang diperbaiki. Apakah kamu tahu letaknya?”
Raka meletakkan gitar di pangkuannya, lalu menunjuk ke sudut ruangan yang tersembunyi di balik tirai beludru merah kusam. “Di balik tirai itu. Petugas kebersihan menggesernya ke sana kemarin agar aman dari tempias jendela yang bocor.”
Dara tersenyum lega. “Syukurlah. Aku sempat khawatir jika salah memasuki ruangan.”
“Bawa ke bagian tengah saja jika ingin digunakan, pencahayaannya lebih baik,” saran Raka. Ia bangkit sejenak dengan wajah serius. “Namun, berhati-hatilah, roda bagian kirinya macet. Jika dipaksa, akan menimbulkan bunyi berderit yang kencang.”
“Terima kasih, Raka. Aku akan memindahkannya secara perlahan,” jawab Dara tulus.
Dengan bantuan Raka yang menahan sisi piano, mereka menggeser instrumen tersebut ke area yang lebih terbuka. Setelah posisinya stabil, Dara duduk di kursi bulat, membuka map birunya, dan mengeluarkan lembaran musik (partitur) yang penuh dengan catatan kaki. Ia menarik napas dalam, lalu menyentuh tuts hitam-putih tersebut. Nada piano mengalir dengan hati-hati, lembut, dan penuh perasaan—seolah sebuah cerita yang mendadak hidup.
Raka, yang semula hendak melanjutkan latihan, mendadak terdiam. Gitarnya bersandar di pangkuan; ia memilih menjadi pendengar rahasia. Mereka hanyalah rekan seangkatan yang jarang bertegur sapa, namun pagi itu, di tengah rintik hujan yang belum reda, denting piano Dara membawa kehangatan ke dalam ruangan yang dingin tersebut.
“Hangat?” gumam Raka pelan, mengulang kata yang terlintas di benaknya. Ia menunduk, menatap jemarinya yang masih menempel pada senar. “Aku selalu merasa permainanku terdengar... bimbang. Seperti seseorang yang tersesat di tengah jalan.”
Dara tertawa kecil, suaranya menyatu dengan gemericik hujan yang menderu di luar. “Mungkin itu sebabnya terasa hangat, Raka. Karena jujur. Musik yang terlalu sempurna justru terkadang terasa dingin, bukan?”
Sejak pagi itu, ruang musik belakang menjadi titik temu tidak tertulis bagi mereka. Setiap pagi sebelum bel masuk atau sore setelah kelas usai, melodi gitar Raka yang masih mentah bertaut dengan denting piano Dara. Raka yang tadinya tertutup mulai berani membagikan draf lagunya, sementara Dara mengisi celah nada di antaranya.
Kehangatan itu mulai goyah saat pengumuman Pentas Seni Tahunan ditempel di papan pengumuman sekolah.
“Raka, lihat ini!” Dara menyodorkan selebaran itu dengan mata berbinar. “Kategori kolaborasi instrumen. Kita harus ikut. Lagu kemarin... lagu itu wajib didengar oleh orang lain.”
Jantung Raka mencelos. “Pentas? Di depan seluruh siswa?” Ia menggeleng cepat, nyaris menjatuhkan gitarnya. “Tidak, Dara. Aku bermain di sini justru karena suasananya sepi. Aku tidak sesiap dirimu—kamu terbiasa dengan partitur dan ujian, sedangkan aku hanyalah pengacak nada.”
“Namun, setiap petikanmu memiliki jiwa, Raka! Itulah yang tidak dimiliki semua orang,” bujuk Dara, suaranya meninggi karena frustrasi.
Ketegangan merayap di antara mereka. Raka mulai menghindari ruang musik. Ia takut ketidaksempurnaannya akan ditertawakan, dan takut "pelarian" yang selama ini ia bangun akan hancur oleh ekspektasi orang lain. Dara, di sisi lain, merasa kesal karena Raka menyia-nyiakan bakatnya demi rasa takut yang berlebihan.
Puncaknya terjadi seminggu sebelum pendaftaran ditutup. Raka berdiri di balik pintu, mendengar Dara memainkan melodi mereka sendirian. Nadanya terdengar pilu dan terputus-putus. Dara berhenti di tengah lagu, lalu menutup map partiturnya dengan keras.
“Jika kamu terus bersembunyi,” suara Dara bergetar, seolah ia tahu Raka berada di sana, “nada-nada ini tidak akan pernah menjadi sebuah lagu, Raka. Mereka hanya akan menjadi rahasia yang mati dalam kesepian.”
Raka terdiam di koridor yang dingin. Dadanya bergejolak antara kenyamanan dalam kesunyian atau dorongan untuk melangkah keluar bersama Dara.
Dua hari setelah perdebatan itu, Raka akhirnya melangkah masuk. Ia tidak ingin nada-nada mereka mati kesepian, sebagaimana perkataan Dara. Pagi itu, hujan turun tipis dan konsisten, menciptakan suasana yang akrab. Dara sudah berada di sana, jemarinya bergerak ragu di atas tuts piano hingga ia melihat bayangan Raka di ambang pintu.
Tanpa banyak kata, Raka menarik kursi kayunya ke posisi semula. Ia mengeluarkan gitar, menyelaraskan nada sejenak, lalu mengangguk kecil sebagai isyarat.
Mereka kembali berlatih. Waktu seakan terserap oleh harmoni yang dibangun ulang. Dara memainkan nada pembuka yang lembut dan melankolis, mencerminkan keraguan mereka sebelumnya. Raka mengikuti dengan petikan yang mantap, memberikan fondasi pada nada piano Dara yang rapuh.
Saat transisi akor minor bertemu dengan denting piano yang tinggi, mereka saling berpandangan. Sebuah percikan kecil muncul—ruangan yang dingin itu seketika menjadi hangat dan hidup. Untuk pertama kalinya, Raka tidak takut akan nada yang sumbang.
“Kamu tahu?” kata Dara pelan sembari merapikan map birunya setelah melodi berakhir. “Aku menyukai hujan. Dunia menjadi terasa lebih lambat... dan jujur.”
Raka menatap jendela yang tersapu air. “Mungkin karena hujan membuat orang lebih mudah mendengar.”
“Mendengar apa?” tanya Dara, menoleh dengan rasa penasaran.
“Suara yang biasanya terabaikan,” jawab Raka tulus. “Keraguan... atau sebuah keberanian kecil.”
Dara tersenyum manis, meruntuhkan sisa-sisa tembok pertahanan Raka. “Termasuk suara gitarmu yang selama ini disembunyikan?”
Raka tertawa pelan, pipinya memanas. Ia menyadari bahwa dirinya tidak perlu lagi bersembunyi di balik dinding tua ini.
Bel masuk berbunyi di kejauhan, memecah keheningan pagi. Dara berdiri dan memeluk mapnya. “Raka, melodinya bagus. Jauh lebih indah dari bayanganku. Jika kamu ingin menyelesaikannya untuk pentas, aku akan membantumu sepenuh hati.”
“Serius?” Suara Raka terdengar antusias; rasa takutnya terkikis oleh semangat baru.
“Serius,” jawab Dara mantap sembari melangkah ke pintu. “Latihan lagi besok. Dan kali ini, jangan tutup pintunya, ya?”
Dara melangkah keluar. Hujan telah reda, meninggalkan titik-titik air yang berkilau di dedaunan karena tertimpa matahari pagi. Raka menatap kursi kosong yang ditinggalkan Dara, lalu memetik gitarnya sekali lagi. Nada terakhir menggantung—bukan lagi sebagai kebimbangan, melainkan harapan yang mulai berakar.
Ruang musik ini bukan lagi tempat untuk bersembunyi dari penghakiman dunia. Kehadiran Dara telah mengubah dinding tua ini menjadi ruang untuk tumbuh. Ketakutan Raka luntur; keindahan lahir dari keberanian untuk bersikap jujur, bukan dari kesempurnaan.
Ia tahu pasti: lagu itu akan selesai. Lagu itu tidak lagi diperuntukkan bagi dinding yang bisu, melainkan bagi seseorang yang telah memberikan telinga dan hatinya. Dan tanpa disadari, lagu itu bukan sekadar melodi untuk sebuah pentas—ada frekuensi yang lebih dalam sejak senyuman Dara hadir. Sebuah nada lembut yang perlahan berubah menjadi cinta.
Hari pentas seni tiba dengan langit biru yang cerah, kontras dengan rona abu-abu masa lalu. Di balik panggung aula yang riuh, Raka meremas jemari tangannya yang dingin. Saat melihat Dara berdiri di samping piano sambil memegang map biru usang, kegelisahannya luntur. Dara menggenggam tangannya sekilas, memberikan kehangatan serupa rintik hujan di ruang musik.
“Ingat, Raka,” bisik Dara saat lampu mulai meredup. “Jangan bermain untuk mereka. Bermainlah untuk nada di balik tirai beludru itu.”
Mereka melangkah ke tengah panggung. Keheningan menyambut. Raka duduk di kursi kayu, sementara Dara berada di depan piano yang berkilau tertimpa sorot lampu. Jemari Dara menekan tuts pertama; Raka memejamkan mata, membiarkan gitarnya menjawab dengan jujur. Tidak ada lagi keraguan maupun ketakutan akan nada yang sumbang.
Melodi memenuhi aula, membawa aroma tanah basah dan ketenangan rahasia mereka. Penonton terpaku, merasakan getaran keberanian Raka. Saat nada terakhir memudar, terciptalah kesunyian magis sebelum akhirnya tepuk tangan membahana.
Raka menoleh ke arah Dara. Di bawah cahaya panggung, senyum Dara seolah berkata: kita telah sampai di tujuan.
Setelah acara usai, di koridor sepi menuju ruang musik, mereka berjalan berdampingan.
“Kita berhasil,” kata Dara pelan dengan suara yang terdengar lega.
Raka berhenti di depan pintu yang terbuka. Ia merasa tidak butuh lagi pintu tertutup untuk merasa aman. “Dara, kamu benar. Lagu ini tidak boleh mati dalam kesepian.”
Ia menggenggam tangan Dara, merasakan frekuensi musik yang selaras di antara mereka. “Terima kasih telah menjadi pendengar pertama yang tidak menghakimi. Dan... terima kasih telah menjadi bagian nada terindah dalam hidupku.”
Dara menyandarkan kepalanya di bahu Raka sejenak. Hujan mulai turun kembali, membungkus mereka dalam harmoni cinta yang sempurna: keberanian untuk saling memiliki.
Pentas itu bukanlah akhir, melainkan sebuah awal. Hubungan mereka tumbuh dengan sederhana tanpa drama yang berlebihan. Cinta menjadi penguat tanggung jawab.
“Raka, sudah jam tiga. Latihan gitarnya cukup, waktunya salat asar,” ujar Dara suatu hari di ruang musik. Raka mengangguk, lalu menyandarkan gitarnya dengan rapi. Ibadah tetap menjadi melodi utama; Dara senantiasa mengingatkan Raka akan disiplin spiritual.
Di kelas, mereka menjadi siswa yang rajin: berdiskusi tentang fisika di perpustakaan atau membedah partitur klasik bersama. Teman-teman sering menggoda, “Pasangan Harmonika kok malah rajin belajar?” Raka hanya tersenyum dan menjawab, “Justru karena Dara, aku memiliki alasan untuk sukses bersama.”
Orang tua mereka pun memberikan restu. Saat Raka mengunjungi rumah Dara, ia membawa laporan hasil belajar serta rencana masa depan antara musik dan akademik. Ayah Dara berpesan: “Jaga kehormatan dan utamakan pendidikan.”
Kini, setiap kali hujan turun, Raka tidak lagi merasa kesepian. Di sisi piano, selalu ada Dara yang menyelaraskan nadanya. Cinta mereka adalah kolaborasi yang berpijak di bumi—menjunjung tinggi agama dan merintis masa depan.
"Nada Cinta" bukan sekadar lagu panggung yang memukau penonton di aula sekolah. Ia telah menjadi gema abadi yang menyusup ke setiap relung rutinitas harian Raka dan Dara—di meja perpustakaan saat membedah rumus fisika, di atas sajadah saat bersujud dalam doa, dan di malam hari ketika mereka berbagi impian di bawah redup lampu meja. Melodi itu tidak lagi terikat pada dawai gitar atau tuts piano, melainkan telah menjadi irama napas kehidupan yang selaras.
Cinta tulus yang tumbuh dari harmoni dua jiwa ini menjadi kompas yang mengarahkan langkah mereka menuju kebaikan. Selama mereka terus menyelaraskan perasaan, logika yang membangun fondasi masa depan, serta iman sebagai melodi utama, hidup mereka akan selalu indah dan penuh makna. Meski badai kehidupan datang menerpa, "Nada Cinta" akan tetap bergema, tidak akan pernah sumbang, dan menjadi lagu abadi yang mengiringi perjalanan mereka berdua.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
