Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

Langkah Biru Sang Penjaga Terang: Kisah Daffa dari Grageh

Sastra | 2026-01-19 09:51:59

Cerpen ini mengisahkan dedikasi seorang pemuda bernama Daffa Nabil Mubarak, warga RT002/RW002 Dusun Grageh, dalam menjalankan tanggung jawab sosial di desanya. Melalui narasi ala program "Wow RT002/RW002 Dusun Grageh", pembaca diajak mengikuti keseharian Daffa sebagai penarik iuran listrik bulanan di dua wilayah utama: Jalan Maulana Malik Ibrahim dan Jalan Sunan Ampel.

Dengan ciri khas tas tenteng biru muda kenang-kenangan wisuda SMK tahun 2023, Daffa mempraktikkan professionalism dan integrity tingkat tinggi. Kisah ini menyoroti bagaimana nilai-nilai seperti transparency, accountability, dan discipline diterapkan dalam tugas sederhana namun krusial. Meski menghadapi tantangan berupa cuaca yang tidak menentu (unpredictable weather) hingga skeptisisme warga, Daffa tetap teguh dengan data-driven approach dan excellent service miliknya. Sebuah potret nyata tentang youth empowerment dan good governance di level akar rumput, yang membuktikan bahwa kepercayaan atau trust adalah mata uang paling berharga dalam bermasyarakat.

Matahari baru saja melewati puncaknya, menyisakan hawa panas yang merayap di sepanjang aspal Desa Kepuhrubuh. Di sebuah sudut teras rumah sederhana di RT002/RW002 Dusun Grageh, seorang pemuda tampak sibuk dengan tumpukan kertas kecil di hadapannya.

"Sudah siap semua, Daff? Jangan sampai ada alamat yang terlewat," suara ibunya memecah keheningan siang itu, sembari menyodorkan segelas es teh manis.

Daffa Nabil Mubarak, pemuda itu, mendongak sejenak lalu tersenyum tipis. Tangannya masih lincah menggoreskan pena, menuliskan nominal angka di atas lembaran kertas putih. "Sampun, Bu. Jalan Maulana Malik Ibrahim dan Jalan Sunan Ampel sudah saya pilah sesuai urutan rumahnya. Biar nanti tidak bolak-balik."

Ia kemudian meraih sebuah tas tenteng kain berwarna biru muda yang sudah mulai memudar warnanya namun tetap bersih terawat. Tas itu bukan sekadar wadah; ada tulisan samar "Kenang-kenangan Wisuda SMK 2023" di bagian depannya. Baginya, tas itu adalah simbol tanggung jawab pertama yang ia pikul setelah lulus sekolah.

"Sahabat RT002/RW002 Dusun Grageh, mungkin bagi sebagian orang, pekerjaan ini terlihat sederhana. Namun bagi Daffa, ini adalah soal kepercayaan," gumam narasi dalam benaknya, membayangkan jika kisah hidupnya ini ditayangkan dalam program Wow Indonesia.

Daffa berdiri, merapikan kaus dan memastikan tas biru mudanya tersampir nyaman di lengannya. Ia adalah definisi dari personal responsibility yang nyata di tingkat desa. Di saat pemuda seusianya mungkin masih terlelap dalam tidur siang atau sibuk dengan gadget masing-masing, Daffa sudah siap dengan checklist miliknya.

"Daffa berangkat dulu, Bu. Harus tepat waktu, warga biasanya sudah menunggu struknya siang begini," pamitnya sembari melangkah menuju motornya.

Setiap pertengahan bulan, kehadirannya di Jalan Sunan Ampel—yang merupakan rumahnya sendiri—hingga ke Jalan Maulana Malik Ibrahim, adalah sebuah kepastian. Ia bukan sekadar penarik iuran; ia adalah pembawa ketertiban. Dengan metode door-to-door yang sangat disiplin, Daffa memastikan setiap warga menerima haknya untuk mengetahui rincian biaya listrik secara transparan. Tidak ada pembulatan harga yang mencurigakan, tidak ada keterlambatan. Semuanya dilakukan dengan standard operating procedure yang ia buat sendiri demi kenyamanan tetangga-tetangganya.

Perjalanan dimulai. Ban motor Daffa perlahan melindas aspal panas Jalan Maulana Malik Ibrahim. Tas biru muda itu bergoyang pelan di lengannya, menyimpan tumpukan amanah yang harus disampaikan. Namun, siang itu cuaca seolah sedang menguji patience sang penjaga terang. Angin kering berhembus kencang, menerbangkan debu-debu jalanan yang membuat mata perih.

Di rumah pertama, Daffa turun dengan sigap. Ia tidak mengetuk pintu dengan sembarangan; ada etika yang selalu ia jaga.

"Assalamu’alaikum, Pak Hadi. Menaruh struk listrik," sapa Daffa saat sang pemilik rumah keluar dengan wajah yang tampak agak gusar.

"Wah, Daffa. Tepat waktu sekali kamu, Cah Bagus. Tapi sebentar, saya sedang tidak pegang uang pas. Bisa kembali lagi nanti sore?" tanya Pak Hadi sembari mengusap keringat di dahi.

Daffa tersenyum sopan, menunjukkan professionalism yang matang meski usianya masih sangat muda. "Mboten napa-napa, Pak. Struknya saya titipkan dulu agar Bapak bisa mengecek rinciannya. Di situ sudah saya tulis nominalnya sesuai tagihan asli, tanpa tambahan biaya apa pun. Nanti sore setelah ashar, saya lewat sini lagi untuk mengambil iurannya."

"Nah, ini yang saya suka dari kamu, Daff. Semuanya clear dan transparan. Tidak bikin bingung warga," puji Pak Hadi yang akhirnya luluh dengan ketegasan Daffa.

Namun, tantangan sebenarnya muncul saat ia memasuki area Jalan Sunan Ampel. Beberapa warga yang sedang berkumpul di gardu sempat melontarkan candaan yang sedikit menguji mentalnya.

"Daffa, Daffa... lulusan SMK kok masih mau panas-panasan narik iuran? Cari kerja yang di kantoran ber-AC sana, biar tas birumu itu tidak cepat kusam!" seru salah seorang pemuda dari kejauhan.

Daffa berhenti sejenak, membetulkan posisi tas wisudanya. Ia menarik napas panjang, menerapkan self-control agar tidak terpancing. Ia tahu, bagi Sahabat RT002/RW002 Dusun Grageh, pekerjaan bukan soal gengsi, melainkan soal trust atau kepercayaan.

Ia menghampiri kerumunan itu dengan tenang. "Kantor saya luas, Mas. Sepanjang Jalan Sunan Ampel sampai Maulana Malik Ibrahim ini kantor saya. Lagipula, kalau bukan warga Grageh sendiri yang mengurus, siapa lagi?" jawab Daffa santai namun menohok.

Ia kembali melanjutkan langkahnya. Masalah muncul di rumah Ibu Ratna. Struk yang ia bawa sempat tertukar karena hembusan angin kencang saat ia menulisi nominal di teras tadi. Ia segera melakukan double-check pada daftar di buku catatannya.

"Aduh, maaf Bu Ratna, mohon ditunggu sebentar. Saya harus pastikan data entry di struk ini sinkron dengan catatan pusat," ujar Daffa teliti. Ia merogoh tas birunya, mengambil pulpen, dan dengan cermat mengoreksi angka di sana. Ia tidak ingin ada human error yang merugikan warga, sekecil apa pun nominalnya.

"Kamu teliti sekali, Daff. Padahal cuma beda dua ratus perak saja kamu sampai minta maaf begitu," sahut Ibu Ratna kagum.

"Disiplin itu soal kebiasaan, Bu. Kalau saya menyepelekan dua ratus rupiah, lama-lama saya bisa menyepelekan ribuan rupiah. Saya ingin semua warga tenang karena laporannya accurate," balas Daffa mantap.

Keringat mulai membasahi punggungnya, menembus kaus yang ia kenakan. Tas biru dari tahun 2023 itu menjadi saksi bisu betapa Daffa sangat menghargai waktu. Di tengah cuaca yang kian menyengat, ia harus berpacu dengan jam istirahat warga agar tidak mengganggu ketenangan mereka. Setiap rumah adalah checkpoint tanggung jawab yang harus ia selesaikan dengan excellent service.

Matahari mulai condong ke barat, namun sisa panasnya masih terasa menyengat di ubun-ubun. Daffa baru saja menyelesaikan separuh dari Jalan Sunan Ampel ketika sebuah tantangan besar muncul di penghujung jalan. Langit yang semula cerah tiba-tiba tertutup mendung pekat yang datang begitu cepat—sebuah unpredictable weather yang bisa merusak seluruh dokumen di dalam tas birunya.

Daffa mempercepat langkahnya menuju rumah terakhir milik Pak Broto, seorang warga yang dikenal paling kritis dan perfeksionis soal urusan administrasi. Tepat saat Daffa sampai di teras, rintik hujan mulai turun dengan derasnya.

"Assalamu’alaikum, Pak Broto. Ini struk listrik bulan ini," ujar Daffa sedikit terengah, sembari mendekap tas biru wisudanya erat-erat agar tidak terkena percikan air.

Pak Broto keluar dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung. Ia menerima struk itu, memperhatikannya dengan detail-oriented yang tajam, lalu mengerutkan kening. "Daffa, tunggu dulu! Kenapa bulan ini tagihanku melonjak sampai lima puluh ribu? Kamu tidak salah tulis, kan? Jangan sampai ada hidden fees yang kamu masukkan secara sepihak!"

Suara Pak Broto yang meninggi sempat membuat beberapa tetangga yang berteduh menoleh. Inilah titik climax dari perjalanan Daffa siang itu. Reputasinya sebagai pemuda jujur dipertaruhkan di bawah guyuran hujan.

Daffa tetap tenang, ia tidak menunjukkan defensive attitude. Ia merogoh tas birunya, mengambil buku catatan besar yang terbungkus plastik transparan. "Mohon maaf sebelumnya, Pak Broto. Saya sudah memprediksi pertanyaan Bapak. Jika Bapak berkenan melihat record pemakaian di buku saya, kenaikan ini terjadi karena angka meteran Bapak memang naik signifikan dibanding bulan lalu. Ini data real-time yang saya catat langsung dari KWH meter Bapak dua hari lalu."

"Halah, apa benar? Jangan-jangan kamu salah baca angka!" seru Pak Broto masih tidak percaya.

Daffa tersenyum ramah, "Mari kita cek bersama ke samping rumah, Pak. Saya bawa senter kecil untuk memastikan angkanya. Saya ingin semuanya accountable. Jika saya salah, saya siap mengganti selisihnya saat ini juga."

Melihat keyakinan Daffa yang begitu firm, Pak Broto akhirnya luluh dan ikut mengecek meteran listrik di samping rumahnya. Setelah dicocokkan, ternyata angka yang tertulis di struk Daffa sangat akurat. Pak Broto terdiam, merasa bersalah karena telah menaruh suspicion yang tidak berdasar pada pemuda itu.

"Ya Allah, maafkan saya, Daff. Saya lupa kalau minggu lalu ada hajatan di rumah dan pakai alat masak listrik terus-menerus. Ternyata kamu memang sangat reliable," ujar Pak Broto dengan nada menyesal sembari menyerahkan beberapa lembar uang iuran.

Daffa menerima uang itu dengan sopan. "Mboten napa-napa, Pak. Sudah menjadi tugas saya untuk memberikan transparency kepada warga. Saya ingin Sahabat RT002/RW002 Dusun Grageh merasa aman menitipkan amanahnya kepada saya."

Daffa segera memasukkan uang dan buku catatannya ke dalam tas biru legendarisnya. Meski bagian bawah celananya basah kuyup karena hujan yang kian lebat, hatinya merasa lega. Ia telah melewati ujian integrity yang paling berat hari ini. Baginya, tas biru dari tahun 2023 itu kini bukan sekadar kenangan sekolah, melainkan simbol professionalism seorang pemuda desa yang memegang teguh kejujuran di tengah badai sekalipun.

Hujan yang semula menderu perlahan berubah menjadi gerimis tipis, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan di sepanjang Jalan Sunan Ampel. Daffa melangkah keluar dari teras rumah Pak Broto dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Tugasnya di dua jalan utama Desa Kepuhrubuh telah tuntas. Tas biru muda kenang-kenangan SMK itu kini terasa lebih berat, bukan karena beban kertas, melainkan karena tumpukan amanah yang berhasil ia jaga hingga titik terakhir.

Ia memacu motornya pelan menuju rumah, tempat di mana ibunya sudah menunggu di ambang pintu. "Alhamdulillah, sudah selesai semua, Daff? Tidak ada kendala karena hujan tadi?" tanya ibunya sembari menyambut Daffa dengan handuk kering.

Daffa tersenyum lebar, sebuah ekspresi pure satisfaction yang terpancar dari wajah lelahnya. "Semua lancar, Bu. Tadi sempat ada sedikit misunderstanding dengan Pak Broto, tapi syukurlah bisa diselesaikan dengan data-driven approach yang saya siapkan di buku catatan. Beliau akhirnya paham dan malah mengapresiasi ketelitian saya," jawab Daffa sembari meletakkan tas birunya dengan sangat hati-hati di atas meja ruang tamu.

Sembari mengeringkan rambut, Daffa mulai melakukan final check terhadap seluruh uang iuran yang terkumpul. Ia menyusun lembaran rupiah itu dengan rapi berdasarkan nominalnya, memastikan tidak ada satu rupiah pun yang terselip atau hilang. "Sahabat RT002/RW002 Dusun Grageh, integritas bukan tentang seberapa besar nominal yang kita pegang, tapi tentang seberapa besar kita menghargai kepercayaan orang lain," bisik Daffa dalam hati, seolah sedang menutup segmen video Wow RT002/RW002 Dusun Grageh yang ia bayangkan.

Tak lama kemudian, ketua RT datang berkunjung untuk mengambil setoran iuran tersebut. "Daffa, terima kasih banyak ya. Sejak kamu yang pegang kendali di Jalan Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Ampel, laporan keuangan kita selalu well-organized dan tidak pernah ada komplain dari warga. Kamu benar-benar menerapkan good governance di tingkat rukun tetangga," puji Pak RT sembari menerima buku catatan Daffa yang rapi.

Daffa menyalami tangan Pak RT dengan takzim. "Sama-sama, Pak. Saya hanya berusaha menjalankan social responsibility saya sebagai warga Grageh. Selagi saya bisa membantu dengan disiplin yang saya pelajari di sekolah dulu, saya akan lakukan yang terbaik."

Malam itu, saat Daffa menyandarkan tubuhnya di kursi teras, ia memandangi tas biru mudanya yang tergantung di paku dinding. Tas itu mungkin akan semakin memudar warnanya seiring berjalannya waktu, namun nilai-nilai integrity dan punctuality yang ia bawa di dalamnya akan terus bersinar. Baginya, menjadi "Sang Penjaga Terang" bukan hanya soal memastikan listrik tetap menyala melalui iuran yang lancar, tapi tentang menjaga nyala kepercayaan di hati para tetangganya.

Ia meraih ponselnya, membuka grup WhatsApp warga, dan mengetikkan sebuah pesan singkat namun bermakna: "Laporan iuran listrik bulan ini telah disetorkan ke kas RT dalam keadaan lengkap dan sinkron. Terima kasih atas kerja sama Sahabat RT002/RW002 Dusun Grageh semua. Tetap jaga kerukunan dan transparansi!"

Daffa menutup harinya dengan sebuah pencapaian yang mungkin tidak masuk dalam koran nasional, namun tercatat manis dalam sejarah kecil Desa Kepuhrubuh. Sebuah bukti nyata bahwa dari tangan seorang pemuda dengan tas biru sederhana, sebuah perubahan besar menuju tatanan masyarakat yang lebih accountable bisa dimulai.

Malam kian larut di RT002/RW002 Dusun Grageh. Suara jangkrik bersahutan di balik rimbun pohon mangga, menciptakan harmoni pedesaan yang menenteramkan. Di dalam kamarnya, Daffa Nabil Mubarak tidak langsung beristirahat. Ia duduk di tepi tempat tidur, memandangi tas biru muda yang kini diletakkan di tempat terhormat di atas mejanya. Tas itu tampak sedikit lebih lusuh setelah terkena percikan hujan sore tadi, namun bagi Daffa, setiap serat kainnya menyimpan cerita tentang human dignity dan pengabdian.

"Daff, belum tidur? Besok pagi kamu ada janji membantu di balai desa, kan?" suara lembut Ibu muncul dari balik pintu yang sedikit terbuka.

Daffa menoleh dan tersenyum. "Sebentar lagi, Bu. Daffa hanya sedang merenung. Ternyata, tas wisuda SMK ini lebih sering jalan-jalan keliling Desa Kepuhrubuh daripada dipakai ke kantor formal."

Ibunya melangkah masuk, duduk di samping putra kebanggaannya itu. "Kantor itu bukan soal gedungnya, Le. Tapi soal manfaat yang kamu berikan di dalamnya. Meskipun 'kantormu' hanya sepanjang Jalan Maulana Malik Ibrahim dan Jalan Sunan Ampel, tapi kamu sudah menjaga amanah ratusan orang. Itu legacy yang luar biasa buat pemuda seusiamu."

Daffa mengangguk pelan. Ucapan ibunya meresap hingga ke relung hati. Ia menyadari bahwa perannya bukan sekadar penarik iuran, melainkan seorang community leader dalam skala yang paling murni. Ia adalah jembatan komunikasi, peredam konflik, dan simbol kejujuran yang nyata di tengah masyarakat yang terkadang skeptis.

"Sahabat RT002/RW002 Dusun Grageh," bisik Daffa pelan, seolah sedang melakukan closing statement untuk video dokumenternya. "Mungkin saya hanyalah butiran kecil di desa ini. Namun, jika butiran kecil ini disiplin, teliti, dan jujur, maka ia bisa menjadi fondasi yang kokoh untuk kemajuan kita bersama. Tas biru ini adalah pengingat, bahwa dari mana pun kita lulus, nilai yang paling tinggi adalah integrity."

Keesokan paginya, Daffa kembali terlihat menyusuri jalanan dengan motornya. Ia tidak sedang menarik iuran, namun ia menyapa setiap warga yang ia temui dengan ramah. Pak Broto yang kemarin sempat marah, kini melambai dengan hormat saat Daffa lewat. Pak Hadi di Jalan Maulana Malik Ibrahim pun mengacungkan jempolnya. Daffa telah berhasil membangun personal branding yang kuat sebagai pemuda yang reliable dan santun.

Kisah Daffa Nabil Mubarak adalah sebuah pengingat bagi kita semua. Bahwa untuk menjadi pahlawan, kita tidak perlu jubah atau kekuatan super. Kita hanya butuh ketetapan hati, sebuah buku catatan yang rapi, dan mungkin—sebuah tas biru muda kenang-kenangan sekolah yang membawa kita melangkah dengan pasti.

"Sampai jumpa di kisah unik lainnya, Sahabat RT002/RW002 Dusun Grageh. Tetaplah menjadi penjaga terang bagi sesama, karena sekecil apa pun langkah kita, jika dilakukan dengan ikhlas, ia akan menjadi cahaya yang tak kunjung padam."

Daffa memacu motornya menuju cakrawala pagi, membawa semangat professionalism yang ia tanam di tanah kelahirannya sendiri. Grageh bangga memilikinya, dan sejarah Desa Kepuhrubuh akan selalu mengingat langkah-langkah birunya.

Malam itu, setelah semua laporan selesai dan kesunyian menyelimuti Dusun Grageh, sebuah perenungan mendalam hadir sebagai penutup perjalanan panjang Daffa di bulan ini. Koda dari kisah ini bukan sekadar tentang berakhirnya tugas, melainkan tentang legacy kecil yang dibangun dengan konsistensi besar.

"Daff," panggil ayahnya yang baru saja pulang dari masjid, duduk di samping Daffa yang tengah melipat rapi tas biru kesayangannya. "Bapak perhatikan, kamu tidak pernah mengeluh meski harus bolak-balik ke Jalan Maulana Malik Ibrahim hanya untuk uang yang tidak seberapa. Apa yang sebenarnya kamu cari?"

Daffa terdiam sejenak, jemarinya mengusap tulisan "Wisuda SMK 2023" yang mulai terkikis. "Pak, ini bukan tentang extra money atau upah. Ini tentang self-actualization. Di sekolah dulu, saya diajarkan tentang kedisiplinan. Jika saya tidak mempraktikkannya sekarang di lingkungan terkecil seperti RT002/RW002 ini, lalu kapan lagi? Saya ingin warga percaya bahwa anak muda Grageh bisa diandalkan dalam hal financial accountability."

Ayahnya mengangguk bangga. "Benar, Le. Banyak orang pintar mencari kerja, tapi sedikit orang jujur yang mau menjaga amanah tetangga. Kamu sudah menunjukkan high-level commitment."

Sahabat RT002/RW002 Dusun Grageh, dari kisah Daffa Nabil Mubarak kita belajar bahwa sebuah tanggung jawab tidak diukur dari seberapa megah gedungnya, melainkan dari seberapa besar kejujuran yang kita bawa. Daffa telah membuktikan bahwa youth empowerment tidak selalu harus dimulai dengan proyek raksasa; ia bisa dimulai dari sebuah tas kain biru, tumpukan struk listrik, dan ketepatan waktu yang tidak pernah tawar-menawar.

"Ingat ya, Daff," lanjut ibunya yang datang membawakan camilan, "Kejujuran itu seperti kaca. Sekali kamu retak karena negligence atau kelalaian, sulit untuk membuatnya utuh kembali. Tetaplah menjadi pribadi yang transparent."

Daffa tersenyum mantap. "Inggih, Bu. Bagi Daffa, setiap rupiah milik warga adalah api yang harus dijaga agar tidak padam oleh nafsu. Saya ingin dikenal bukan karena jabatan saya nanti, tapi karena integrity yang saya bangun sejak dari jalanan Dusun Grageh ini."

Amanah dari kisah ini sangat jelas: Jangan pernah meremehkan pekerjaan kecil yang dilakukan dengan cara yang besar. Kedisiplinan adalah kunci, transparan adalah kewajiban, dan kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga di dunia ini. Ketika kita menghargai waktu dan hak orang lain dengan excellent precision, maka kehormatan akan datang dengan sendirinya.

Mari kita ambil semangat dari "Wow RT002/RW002 Dusun Grageh" kali ini. Jadilah pribadi yang memiliki strong character, yang berani panas-panasan demi sebuah kebenaran data, dan yang selalu bangga membawa identitas asalnya—seperti Daffa dengan tas birunya. Karena pada akhirnya, bukan tasnya yang membuat Daffa bersinar, melainkan cahaya kejujuran yang terpancar dari setiap langkah kaki yang ia ayunkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image