Tadabbur Malam (006): Saat Allah Menilai, Bukan Manusia
Khazanah | 2026-01-18 19:13:05Malam selalu jujur. Ia tidak memberi ruang bagi pencitraan, tidak menyediakan panggung untuk pujian. Di waktu inilah manusia kerap menyadari bahwa banyak hal yang ia lakukan selama ini lebih sibuk mengejar penilaian manusia daripada keridhaan Allah.
Dalam hidup sosial, penilaian manusia sering terasa lebih nyata. Kita ingin terlihat baik, dianggap bermanfaat, dipuji atas amal dan pencapaian. Perlahan, niat yang awalnya lurus bisa bergeser tanpa disadari. Amal tetap berjalan, tetapi hati kehilangan ketenangannya.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada. Penilaian-Nya tidak bergantung pada sorotan, tidak pula pada pengakuan. Yang Allah lihat adalah kejujuran niat dan kesungguhan hati.
Tahajud—dan waktu malam secara umum—mengembalikan kita pada pertanyaan paling mendasar: untuk siapa semua ini dilakukan? Ketika tidak ada yang melihat, ketika tidak ada yang bertepuk tangan, di situlah amal diuji kemurniannya.
Malam mengajarkan bahwa tidak semua yang tampak baik bernilai di sisi Allah, dan tidak semua yang tersembunyi itu kecil. Barangkali, justru amal yang paling sepi itulah yang paling berat timbangannya.
Di saat manusia berhenti menilai, malam mengingatkan bahwa Allah tidak pernah berhenti memperhatikan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
