Sedia Payung (Aku) sebelum Hujan
Sastra | 2026-01-18 15:47:49
Cerpen ini mengisahkan tentang Arlan, seorang risk analyst yang hidupnya didikte oleh data, statistik, dan obsesi terhadap kendali mutlak. Dengan filosofi "sedia payung sebelum hujan", Arlan membangun benteng perlindungan melalui persiapan yang bersifat over-preparedness, meyakini bahwa segala risiko dalam hidup dapat dimitigasi dengan rencana cadangan atau contingency plan yang sempurna. Baginya, ketidakpastian adalah musuh, dan sebuah payung lipat berbahan teflon coating adalah simbol dari superioritas logikanya.
Namun, ketika badai besar menghantam Jakarta secara harfiah dan metaforis, Arlan dihadapkan pada situasi force majeure yang tidak terdeteksi oleh aplikasi cuaca real-time manapun. Melalui serangkaian kejadian yang mengancam pekerjaan timnya, ia dipaksa keluar dari zona nyaman dan melepaskan segala atribut keamanannya—termasuk payung kesayangannya—demi menyelamatkan sesuatu yang lebih besar.
Di tengah terjangan side-blown rain dan kegagalan metodologis, Arlan menyadari bahwa persiapan yang egois tidak akan mampu melindunginya dari variabel hidup yang tak terduga. Cerpen ini mengeksplorasi pergeseran paradigma dari total control yang semu menuju resilience yang nyata; sebuah perjalanan tentang memahami bahwa menjadi manusia berarti berani menjadi vulnerable dan menyediakan ruang bagi orang lain di bawah naungan yang sama.
Langit di atas Jakarta siang itu tampak seperti kanvas yang baru saja disapu cat abu-abu keruh. Udara terasa berat, membawa aroma tanah basah yang terbawa angin dari arah selatan—sebuah sinyal petrichor yang biasanya membuat orang lain bergegas, namun bagiku, itu hanyalah sebuah verifikasi dari apa yang sudah kuprediksi sejak fajar. Aku tidak pernah percaya pada keberuntungan; aku hanya percaya pada data dan back-up plan.
Di sudut kafe yang sejuk oleh semilir air conditioner, aku duduk dengan tenang, jemariku mengetuk permukaan meja kayu yang dipenuhi dengan barang-barang yang menurut orang lain "berlebihan". Di samping cangkir espresso yang sudah dingin, tergeletak sebuah payung lipat berbahan teflon coating warna hitam legam. Payung itu bukan sekadar pelindung hujan; itu adalah simbol dari filosofi hidupku.
"Kamu serius bawa payung sebesar itu di tas kerjamu setiap hari, Arlan?"
Suara tawa renyah itu datang dari Maya, rekan kerjanya yang baru saja duduk dengan napas tersengal. Maya adalah personifikasi dari kekacauan yang manis—tanpa jaket, tanpa payung, dan hanya membawa sebuah tas tote bag tipis yang tampak rentan.
"Ini namanya mitigasi risiko, May," jawabku tenang sembari menyesap sisa kopi terakhir. "Ramalan cuaca di aplikasi real-time menunjukkan probabilitas hujan delapan puluh persen pada pukul dua siang. Sekarang sudah pukul satu lewat empat puluh lima."
Maya memutar bola matanya, sebuah gestur eye-rolling yang sudah sangat akrab kulihat. "Hidup itu harus dinikmati, Lan. Sedikit kejutan atau basah kena hujan tidak akan membunuhmu. Kamu terlalu kaku dengan semua persiapan ini. Live a little, jangan terlalu obsessed dengan kontrol."
"Aku tidak mencoba mengontrol cuaca," sanggahku perlahan sembari merapikan letak power bank dan jas hujan plastik darurat yang terselip di saku ransel. "Aku hanya memastikan bahwa saat dunia memutuskan untuk berantakan, aku adalah satu-satunya orang yang tetap kering. Sedia payung sebelum hujan itu bukan cuma peribahasa usang, itu adalah survival instinct."
Aku menatap ke luar jendela kaca besar kafe. Di kejauhan, kilat pertama membelah langit, sebuah lightning bolt yang diikuti suara guruh rendah. Orang-orang di trotoar mulai mempercepat langkah, beberapa menutupi kepala dengan koran atau tas—tindakan impromptu yang sia-sia di mata seorang perencana sepertiku.
"Lihat itu," tunjukku pada kerumunan yang mulai panik. "Mereka adalah orang-orang yang percaya bahwa hari akan selalu cerah. Dan lihat aku," aku menepuk permukaan payung hitamku dengan bangga. "Aku sudah siap sejak aku mengikat tali sepatu pagi tadi."
Tepat pukul dua siang, langit Jakarta seolah tumpah. Hujan turun bukan dalam bentuk rintik, melainkan jeruji air yang rapat dan menghantam kaca kafe dengan suara drumroll yang memekakkan telinga. Aku tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan seorang risk analyst yang prediksinya terbukti akurat. Namun, ketenanganku terusik saat kulihat ponsel Maya bergetar hebat di atas meja.
"Sial! Arlan, aku harus ke gedung seberang sekarang juga!" teriak Maya di antara deru hujan. Wajahnya yang semula ceria mendadak pucat pasi.
"Jangan konyol, May. Itu jaraknya dua ratus meter. Dengan intensitas hujan seperti ini, kamu akan basah kuyup dalam tiga detik. Visibility di luar sana hampir nol," kataku sembari menahan lengannya.
"Arsip fisik proyek rebranding itu ada di sana, Arlan! Atasan kita baru saja menelepon. Pipa di ruang arsip bocor dan air mulai merembes ke rak dokumen. Kalau aku tidak segera menyelamatkannya, kerja keras tim kita sebulan ini akan menjadi bubur kertas!" Maya menyampirkan tote bag tipisnya dengan nekat.
Aku menghela napas, meraih payung teflon coating-ku. "Pakai ini. Aku punya jas hujan darurat di tas."
"Masalahnya bukan cuma aku!" Maya memotong cepat. "Arsipnya banyak, ada tiga boks besar. Aku butuh bantuanmu untuk membawanya ke mobil operasional di lobi gedung itu. Dan payungmu... Arlan, payungmu hanya cukup untuk satu orang!"
Aku tertegun. Inilah celah dalam logic yang selalu kupuja. Aku menyiapkan segalanya untuk diriku sendiri, sebuah survival instinct yang egois. Aku punya payung terbaik, tapi aku tidak menyiapkan ruang untuk orang lain di bawahnya.
"Cepat, Arlan! Jangan cuma berdiri di situ menghitung probabilitas!"
Kami menerjang keluar. Begitu kaki menyentuh trotoar, payung hitamku terbuka dengan bunyi thump yang solid. Aku berusaha melindungi Maya, tapi angin kencang membuat air hujan masuk dari samping—sebuah side-blown rain yang tidak terdeteksi aplikasi manapun.
"Pegang gagangnya, May! Aku akan ambil shortcut lewat gang samping!" teriakku.
"Jangan lewat situ! Gang itu sering banjir kalau hujan mendadak!" balas Maya.
"Data topografi menunjukkan itu area tinggi!" sanggahku keras kepala.
Kami berlari masuk ke gang. Namun, hanya sepuluh meter melangkah, langkahku terhenti. Sebuah papan reklame tua rubuh akibat angin kencang, menutup akses jalan sepenuhnya. Tidak ada dalam data log-ku yang memprediksi sebuah baliho usang akan menjadi force majeure siang ini. Di belakang kami, saluran air meluap dengan cepat, menciptakan genangan setinggi mata kaki yang kotor.
"Mana mitigasi risikomu sekarang, Arlan?!" Maya berteriak frustrasi, rambutnya mulai lepek terkena tempias. "Kita terjebak! Dan arsip itu... kalau kita terlambat lima menit lagi, semuanya selesai!"
Aku menatap payung hitam di tanganku, lalu menatap genangan air yang mulai merusak sepatu kulit mahalku. Untuk pertama kalinya, rencana cadanganku terasa sangat kerdil. Aku menyadari bahwa sedia payung sebelum hujan hanya berguna jika kamu tahu dari mana arah angin berhembus, dan dalam hidup, angin seringkali datang dari arah yang paling tidak terduga.
"Dengar," kataku, mencoba mendapatkan kembali kontrol diri. "Kita tidak bisa lewat sini. Kita harus memanjat pagar pembatas di kiri ini untuk masuk ke area parkir belakang gedung. Tapi payung ini... payung ini akan menghambat gerakan kita."
"Jadi?"
Aku menutup payung hitam kesayanganku dengan paksa. Click. Keamanan yang selama ini kupuja, kini kulepaskan.
"Lupakan soal tetap kering, May. Kita masuk ke mode damage control. Ayo lari!"
Dunia seakan sedang melakukan unboxing atas seluruh kemarahannya tepat di depan wajah kami. Tanpa perlindungan payung teflon yang kini hanya menjadi beban di genggamanku, hujan menghantam kulitku seperti ribuan jarum es yang menusuk pori-pori. Dinginnya luar biasa, sebuah hypothermic sensation yang belum pernah aku simulasikan dalam kepalaku.
"Arlan, pagarnya terlalu tinggi!" teriak Maya, suaranya nyaris tertelan suara petir yang menggelegar—sebuah thunderclap yang membuat bumi di bawah kaki kami bergetar.
Aku melihat pagar besi itu, ujungnya lancip dan licin oleh air. Di balik pagar, berjarak tiga puluh meter, pintu belakang gedung arsip terlihat. Aku bisa melihat air kecokelatan mulai merayap masuk ke ambang pintu. Ini bukan lagi soal risk management; ini adalah race against time.
"Injak bahuku, May! Cepat!" aku berteriak sembari merapatkan tubuh ke pagar besi yang dingin.
"Tapi sepatumu, Arlan! Itu hand-made leather shoes yang kamu banggakan!"
"Persetan dengan sepatu! Naik sekarang atau kita kehilangan semuanya!"
Maya ragu sejenak, namun kepanikan mengalahkan rasa sungkannya. Begitu ia berhasil melompati pagar, aku menyusul dengan gerakan yang jauh dari kata elegan. Jas kantorku robek di bagian ketiak—sebuah wardrobe malfunction yang dalam kondisi normal akan membuatku stres seharian—namun saat ini, adrenalin telah menghapus semua daftar obsesi kerapianku.
Kami sampai di depan pintu arsip tepat saat air mulai menggenangi lantai setinggi mata kaki. Di dalam, suasana kacau balau. Air menetes deras dari plafon yang jebol, menciptakan indoor waterfall tepat di atas rak boks nomor tiga.
"Itu boksnya! Arlan, bantu aku!" Maya menunjuk tiga kotak plastik besar yang untungnya belum sempat terendam sepenuhnya, namun tutupnya sudah mulai rembes.
Aku menerjang air, mengabaikan fakta bahwa jam tangan pintarku terus memberikan notifikasi water resistance warning. Kami mengangkat boks-boks berat itu ke atas meja tinggi. Napas kami memburu, uap panas keluar dari mulut kami di tengah ruangan yang lembap.
Aku terdiam menatap tanganku yang gemetar dan berlumpur. Aku melihat Maya yang basah kuyup, rambutnya menempel di wajah, namun matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa. Aku menunduk, melihat payung hitamku yang tadi kulemparkan begitu saja ke sudut ruangan; barang mahal itu kini tergeletak layu, tak berguna, dan terabaikan.
"Logikamu tadi benar, Lan," ujar Maya pelan sembari menyeka wajahnya dengan lengan baju. "Hujannya memang datang pukul dua siang tepat seperti prediksimu. Kamu sudah sedia payung."
Aku tertawa pendek, sebuah tawa pahit yang terasa asing di tenggorokanku. "Iya, aku sedia payung. Tapi aku lupa menghitung bahwa payung hanya melindungiku dari atas, bukan dari banjir yang datang dari bawah, atau dari angin yang bertiup dari samping. Aku menyiapkan diri untuk skenario terbaik dari sebuah bencana, May. Itu sebuah contradiction in terms."
Aku berjalan mendekati jendela, melihat ke luar di mana badai masih mengamuk. Payung teflon itu memang hebat, tapi ia tidak bisa melindungiku dari realitas bahwa hidup tidak pernah bisa benar-benar dikontrol dalam sebuah spreadsheet.
"Arlan si perencana yang sempurna akhirnya basah kuyup juga," goda Maya dengan senyum tipis, mencoba mencairkan suasana.
"Bukan cuma basah," sahutku sembari melepaskan dasiku yang sudah seperti kain pel. "Aku hancur secara metodologis. Tapi anehnya... untuk pertama kalinya, aku merasa tidak perlu mengecek aplikasi cuaca lagi hanya untuk tahu bahwa aku masih bisa bertahan hidup setelah badai."
Hujan mulai mereda satu jam kemudian, menyisakan suara aftermath berupa tetesan air dari talang yang bocor dan aroma ozone yang tajam di udara. Kami duduk bersandar pada dinding ruang arsip yang lembap, dikelilingi oleh boks-boks penyelamat yang berhasil kami evakuasi. Aku menatap pantulan diriku di genangan air lantai; tidak ada lagi sosok analis risiko yang necis. Yang ada hanyalah seorang pria dengan kemeja translucent karena basah dan rambut yang berantakan seperti bird’s nest.
Maya memecah keheningan sembari memeras ujung bajunya. "Jadi, apa rencana contingency selanjutnya, Tuan Spekulasi? Menunggu sampai kering atau menerjang sisa gerimis?"
Aku tersenyum, kali ini bukan senyum sinis penuh data, melainkan senyum yang lebih genuine. Aku meraih payung hitamku yang teronggok di sudut, lalu melihat mekanismenya yang sedikit bengkok. "Rencananya? Tidak ada. Kita tunggu jemputan kantor, lalu aku akan pulang dan membuang semua spreadsheet prediksi cuacaku untuk minggu depan."
"Wah, sebuah character development yang drastis," goda Maya sembari menyenggol bahuku.
"Aku serius, May. Aku terlalu sibuk membangun fortress untuk diriku sendiri sampai aku lupa bahwa dalam sebuah tim, payung sekecil apa pun harus bisa menaungi lebih dari satu kepala," kataku tulus. "Aku menyadari bahwa total control adalah sebuah ilusi. Kita bisa menyiapkan backup plan hingga berlapis-lapis, tapi hidup selalu punya cara untuk melakukan bypass terhadap logika kita."
Kami berjalan keluar gedung saat matahari mulai mengintip malu-malu di balik awan stratocumulus. Aku tidak membuka payungku, meski rintik halus masih turun. Aku membiarkan sisa air hujan menyentuh kulitku, sebuah sensory experience yang selama bertahun-tahun aku hindari demi keamanan yang semu.
"Lan, lihat! Ada pelangi," tunjuk Maya ke arah cakrawala Jakarta yang kini tampak lebih bersih.
Aku mengangguk, memasukkan payung rusak itu ke dalam tas tanpa perlu melipatnya dengan rapi. "Indah, ya? Padahal tidak ada di dalam forecast siang ini."
Aku menyadari bahwa sedia payung sebelum hujan memang esensial, namun membiarkan diri sesekali basah kuyup adalah bagian dari menjadi manusia. Hidup bukan tentang seberapa hebat kita menghindari badai, melainkan tentang bagaimana kita tetap berdiri tegak saat unpredictable variables menghantam tanpa ampun. Hari itu, aku kehilangan sebuah payung mahal dan sebuah ego yang kaku, tapi aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah resilience yang nyata.
Seminggu setelah insiden "Air Bah" di ruang arsip, Jakarta kembali pada rutinitasnya yang gerah dan tak tertekan. Aku berdiri di depan cermin, merapikan kerah kemeja baru yang teksturnya jauh lebih fleksibel dibanding setelan lamaku yang kaku. Di atas meja rias, sebuah payung baru kini bertengger—bukan lagi tipe teflon coating hitam legam yang individualis, melainkan sebuah payung golf-sized dengan diameter luas yang mampu melindungi tiga orang sekaligus.
Aku berjalan menuju kafe tempat semuanya bermula. Maya sudah di sana, menyesap iced latte-nya dengan gaya carefree yang tetap sama. Namun, ada yang berbeda di mejaku; tidak ada lagi rentetan gadget yang disusun berdasarkan skala prioritas mitigasi.
"Wah, kulihat kamu membawa 'tenda' hari ini, bukan lagi payung," goda Maya saat melihat ukuran payung di samping tas kerjaku.
Aku tertawa pelan, sebuah suara yang kini terdengar lebih lepas tanpa beban analytical thinking yang berlebihan. "Aku belajar bahwa safety margin itu bukan tentang seberapa kuat materialnya, May, tapi seberapa luas cakupannya. Aku tidak ingin lagi menjadi satu-satunya orang yang kering di tengah badai sementara orang di sampingku tenggelam."
"Jadi, Tuan Arlan sudah pensiun dari jabatan risk analyst kehidupan?" tanya Maya sembari menopang dagu, matanya berbinar jenaka.
"Tidak sepenuhnya. Aku masih mengecek real-time weather app, tapi aku sudah menghapus folder rencana contingency nomor lima belas sampai tiga puluh. Aku menyadari bahwa over-preparedness terkadang hanyalah bentuk lain dari anxiety yang terbungkus rapi dalam label logika," jawabku tenang. Aku menyesap kopiku, kali ini benar-benar menikmati aromanya, bukan sekadar menjadikannya bahan bakar untuk memproses data.
"Ingat saat kamu bilang hidup harus dinikmati? Aku mulai paham. Total control itu hanyalah sebuah logical fallacy. Kita menghabiskan begitu banyak energi untuk membangun fortress melawan masa depan, sampai kita lupa bahwa pintu gerbangnya selalu terbuka bagi hal-hal yang bersifat force majeure."
Maya tersenyum, kali ini tanpa eye-rolling. "Lalu, apa filosofi barumu sekarang?"
Aku menatap ke luar jendela. Langit mulai meredup, awan nimbostratus mulai berarak rendah, memberikan sinyal akan turunnya hujan sore. Orang-orang di luar mulai panik, mencari tempat berteduh dengan gerakan impromptu yang dulu sangat aku benci.
"Filosofiku? Tetap sedia payung sebelum hujan," kataku sembari meraih gagang payung besarku dan berdiri. "Tapi kali ini, aku tidak keberatan jika angin membawa sedikit side-blown rain ke wajahku. Aku sudah tahu rasanya basah kuyup, dan ternyata, aku tidak hancur karenanya. Aku justru merasa lebih hidup saat menyadari bahwa aku tidak perlu menjadi Tuhan atas takdirku sendiri."
Kami berjalan keluar kafe bersamaan saat rintik pertama jatuh. Aku membuka payung besarku dengan satu gerakan mantap. Click. Suaranya tidak lagi terdengar seperti dentang tameng perang, melainkan seperti sebuah undangan.
"Ayo, May. Payung ini cukup untuk kita berdua, bahkan jika badai memutuskan untuk membawa teman-temannya hari ini."
Di bawah naungan kain lebar itu, kami melangkah menembus hujan. Aku tidak lagi peduli pada water resistance warning di jam tanganku atau bercak air di sepatu kulitku. Di tengah riuh rendah suara hujan yang menghantam aspal, aku akhirnya memahami bahwa kebahagiaan bukanlah tentang menghindari badai dengan persiapan yang sempurna, melainkan tentang memiliki keberanian untuk berjalan menembusnya bersama seseorang, sembari menerima setiap unpredictable variables dengan kepala tegak.
Sedia payung sebelum hujan tetaplah sebuah kebijakan, namun membiarkan diri merasa rentan adalah sebuah kebijaksanaan. Dan di antara keduanya, aku akhirnya menemukan keseimbangan.
Pada akhirnya, hidup bukanlah sebuah simulasi risk assessment yang bisa dipecahkan dengan deretan angka atau material teflon coating terbaik. Aku menyadari bahwa filosofi "sedia payung sebelum hujan" sering kali disalahartikan sebagai upaya manusia untuk meniadakan ketidakpastian secara total—sebuah logical fallacy yang mematikan. Kita sering terlalu sibuk menyiapkan contingency plan hingga lupa membangun resilience atau ketangguhan mental untuk menghadapi saat-saat ketika rencana tersebut gagal total.
Keamanan sejati tidak terletak pada seberapa kering pakaian kita saat badai menerjang, melainkan pada kesiapan kita untuk merangkul kekacauan yang bersifat force majeure. Terlalu terobsesi pada kontrol hanya akan melahirkan anxiety yang terbungkus rapi dalam label logika. Padahal, ada keindahan yang hanya bisa ditemukan saat kita melepaskan ego, membiarkan diri menjadi vulnerable, dan menyadari bahwa kita tidak dirancang untuk menjadi tunggal di bawah payung yang sempit.
Amanat yang kupelajari dari dinginnya air hujan dan hangatnya kerja sama adalah bahwa persiapan itu penting, namun fleksibilitas adalah kunci bertahan hidup yang sesungguhnya. Jangan hanya menyiapkan payung untuk dirimu sendiri; siapkanlah ruang yang cukup bagi orang lain. Sebab, pada saat variabel kehidupan bergerak secara unpredictable, bukan material payung yang akan menyelamatkanmu, melainkan tangan-tangan yang saling menggenggam di bawah derasnya hujan. Menjadi manusia berarti menerima bahwa kita akan sesekali basah kuyup, dan itu tidak apa-apa, karena pelangi tidak pernah muncul dalam weather forecast bagi mereka yang terlalu takut terkena rintik hujan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
