Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Malam (005): Belajar Ikhlas dari Amal Kecil

Khazanah | 2026-01-17 21:26:55

Di malam hari, ketika tidak ada yang melihat dan menilai, manusia dihadapkan pada satu pertanyaan sederhana namun mendalam: untuk siapa sebenarnya ia beramal? Pertanyaan ini tidak selalu mudah dijawab. Justru di situlah keikhlasan mulai diuji—saat tidak ada sorotan, tidak ada pujian, dan tidak ada keuntungan yang bisa dipamerkan.

Sering kali kita menunda berbuat baik karena merasa apa yang kita miliki terlalu kecil. Kita menunggu waktu lapang, menunggu rezeki lebih, atau menunggu peran yang lebih besar. Padahal, dalam pandangan Allah, ukuran amal tidak diukur dari besar-kecilnya perbuatan, melainkan dari ketulusan niat yang menyertainya. Apa yang tampak remeh di mata manusia bisa bernilai agung di sisi-Nya.

Allah menamai diri-Nya Asy-Syakur—Dzat Yang Maha Mensyukuri kebaikan hamba-Nya. Nama ini mengajarkan bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia. Amal yang dilakukan dengan ikhlas, meski kecil dan tersembunyi, dicatat dan dilipatgandakan nilainya. Bahkan, balasan itu sering kali datang dalam bentuk yang tidak kita duga: ketenangan hati, kelapangan jiwa, atau kemudahan dalam urusan hidup.

Tahajud melatih kita mencintai amal yang tidak terlihat. Di waktu itu, tidak ada yang menyaksikan kecuali Allah. Tidak ada yang memberi penilaian, tidak ada yang mengangkat nama. Hanya ada hamba dan Rabb-nya. Dari ruang sunyi inilah ikhlas bertumbuh—perlahan, jujur, dan mendalam. Kita belajar bahwa beramal tidak selalu harus disaksikan, cukup diketahui oleh Yang Maha Mengetahui.

Dari keikhlasan itulah amal kecil berubah menjadi besar. Senyum yang tulus, bantuan sederhana, doa yang diam-diam dipanjatkan—semuanya bisa menjadi bekal yang berharga. Bisa jadi, amal itulah yang kelak menemani kita saat semua pencapaian dunia ditinggalkan, ketika yang tersisa hanyalah apa yang benar-benar dilakukan karena Allah.

Di saat tak ada yang melihat, amal kecil menemukan nilainya yang sejati. Dan mungkin, justru itulah yang paling layak kita bawa pulang ke hadapan Allah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image