Tadabbur Malam (004): Rezeki yang Tertahan dan Dosa yang tak Terasa
Khazanah | 2026-01-16 19:52:39
Malam sering kali menjadi waktu terbaik untuk merenung tentang apa yang terasa macet dalam hidup. Bukan hanya rezeki yang tertahan, tetapi juga ketenangan yang sulit didapat. Ada usaha yang terasa berat, doa yang seolah tak kunjung berjawab, dan hati yang mudah gelisah meski kebutuhan lahir tampak tercukupi. Di balik itu semua, mungkin ada sesuatu yang luput kita sadari—bukan di luar diri, melainkan di dalamnya.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa dosa dapat menghalangi rezeki. Rezeki di sini tidak selalu berarti harta atau materi. Ia mencakup ketenangan hati, kemudahan urusan, keberkahan waktu, dan lapangnya dada dalam menerima takdir. Tidak sedikit orang yang berkecukupan secara ekonomi, tetapi jiwanya sempit dan hidupnya terasa berat.
Sering kali kita mencari sebab tertahannya rezeki pada faktor eksternal: kondisi ekonomi, orang lain, atau keadaan yang tidak berpihak. Padahal, boleh jadi penghalangnya justru ada pada dosa yang kita anggap kecil, atau kelalaian yang sudah terlalu lama kita biasakan. Dosa yang tak terasa adalah yang paling berbahaya—karena tidak disesali, tidak dimintakan ampun, dan perlahan mengeras menjadi kebiasaan.
Malam, khususnya waktu tahajud, menjadi ruang muhasabah yang paling jujur. Saat itu kita berdiri sendiri, tanpa penonton, tanpa pembelaan. Tidak ada alasan untuk menyalahkan keadaan. Yang ada hanyalah seorang hamba yang berhadapan langsung dengan Rabb-nya, mengakui bahwa tidak semua langkahnya lurus, dan tidak semua niatnya bersih.
Pengakuan yang jujur itulah awal pembebasan. Ketika dosa disadari dan disesali, pintu rahmat kembali terbuka. Allah tidak menunggu hamba-Nya sempurna untuk memberi, tetapi menunggu hamba-Nya jujur untuk kembali. Dan sering kali, rezeki yang paling cepat mengalir setelah tahajud bukanlah materi, melainkan ketenangan hati—yang darinya kemudahan-kemudahan lain menyusul tanpa disangka.
Malam memberi kita kesempatan untuk menoleh ke dalam diri, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyadari. Sebab kesadaran sering kali menjadi awal dari kelapangan yang lama kita cari.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
