Isra Miraj dan Kesalehan yang Terlupakan
Agama | 2026-01-15 14:01:48
Peristiwa Isra Miraj kerap diperingati dengan cara yang nyaris seragam. Menggelar ceramah, memasang spanduk, dan sebuah kutipan-kutipan yang beredar cepat di grup pesan singkat. Di era serba digital ini, kisah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus tujuh lapis langit, sering kali direduksi menjadi kalender tahunan yang datang, diperingati, lalu lewat begitu saja. Padahal, Isra Miraj bukan sekadar peristiwa spiritual, melainkan cermin peradaban yang seharusnya mengusik cara kita hidup hari ini.
Isra Miraj terjadi pada masa paling sunyi dalam hidup Nabi. Tahun itu dikenal sebagai ‘am al-huzn, tahun kesedihan. Tahun dimana dukungan terdekat runtuh, tekanan sosial menguat, dan kelelahan batin mencapai puncaknya. Dari situ, perjalanan ke langit justru dimulai. Ada pesan yang kerap terlewatkan, yaitu transformasi besar lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari krisis.
Pesan ini terasa kontras dengan fenomena generasi hari ini, terutama Gen Z, yang tumbuh dalam ekosistem serba cepat dan serba tersedia. Hidup di era on demand, banyak di antara mereka, meski tentu tidak semuanya dibentuk oleh hasrat akan kenyamanan instan, hasil cepat, proses singkat, dan keberhasilan tanpa luka. Sedikit tekanan dianggap kegagalan, sedikit kritik dirasa ancaman. Kesedihan mudah membuncah, baper menjadi bahasa sehari-hari, sementara ikhtiar sering tertunda oleh kebiasaan menyalahkan keadaan, sistem, atau masa lalu.
Isra Miraj berdiri sebagai antitesis dari mentalitas itu. Ia mengajarkan bahwa kelelahan bukan alasan untuk berhenti, dan penderitaan bukan legitimasi untuk menyerah. Nabi tidak menunggu dunia menjadi ramah sebelum melangkah. Justru dalam keadaan paling rapuh, beliau bergerak, diperjalankan oleh Allah SWT untuk menempuh perjalanan yang tak masuk akal secara logika, tapi masuk akal secara iman dan keteguhan batin. Sebuah pelajaran penting di tengah generasi yang kerap terjebak pada narasi “aku lelah, maka aku berhak berhenti,” tanpa sempat bertanya, sudah sejauh mana aku berikhtiar?
Di zaman sekarang, ketika kegelisahan sosial dan keletihan kolektif merebak, dari krisis iklim hingga kecemasan ekonomi, pesan ini semakin relevan, meski jarang benar-benar direnungkan. Kesedihan memang manusiawi, tetapi Isra Miraj mengingatkan bahwa kesedihan bukan titik akhir. Ia adalah pintu, bukan kubangan.
Di langit, Nabi menerima perintah shalat. Ia bukan sekadar ritual, melainkan disiplin waktu dan kesadaran. Ironisnya, perintah sepenting ini justru sering diabaikan. Hampir setiap tahun Isra Miraj datang mengingatkan soal shalat, tetapi setiap tahun pula alasan yang sama diulang, masih sibuk, belum sempat, nanti kalau sudah tenang. Waktu seolah selalu tersedia untuk pekerjaan, hiburan, dan layar gawai, namun terasa terlalu sempit untuk lima kali jeda yang diminta langit.
Di era notifikasi tanpa henti, shalat kerap kalah oleh urgensi palsu. Kita rajin menyusun jadwal produktivitas, tapi lalai menjaga waktu sujud. Kita mengaku kelelahan, padahal barangkali yang hilang bukan energi, melainkan arah. Isra Miraj menegaskan bahwa shalat bukan beban tambahan di tengah kesibukan, melainkan penopang agar manusia tidak tumbang oleh kesibukannya sendiri.
Perjalanan Nabi juga menautkan dua titik penting, Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa. Yang satu pusat spiritual, yang lain simbol kemanusiaan dan keadilan. Keduanya dihubungkan dalam satu malam. Pesannya jelas, kesalehan tak boleh terpisah dari kepedulian sosial.
Namun, di sinilah paradoks zaman bekerja. Banyak orang ingin tampak saleh, rajin ibadah, fasih berbicara agama, namun lupa pada yang paling dekat yaitu tetangganya sendiri. Lisan mudah terucap menyakiti, komentar ringan berubah jadi luka, sementara tangan baik secara fisik maupun simbolik melalui ketikan jari di pesan WA yang terlalu gampang melukai. Kesalehan dipamerkan ke ruang publik, tapi kebaikan sering absen di ruang hidup sehari-hari.
Isra Miraj menolak kesalehan semacam itu. Ia mengingatkan bahwa ibadah yang benar seharusnya melunakkan sikap, bukan mengeraskannya. Bahwa semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semestinya semakin berhati-hati ia kepada manusia. Agama bukan panggung untuk merasa lebih benar, melainkan jalan sunyi untuk menahan diri agar tak menyakiti. Kesalehan yang hanya ingin nampak, tetapi masih gemar melukai, pada dasarnya kehilangan ruhnya sendiri.
Ada pula sisi lain yang jarang disadari. Bisa jadi, jika kita hidup di masa itu, kita justru menjadi bagian dari mereka yang sulit menerima peristiwa Isra Miraj. Sebuah perjalanan lintas ruang dan langit yang melampaui nalar manusia bukan perkara mudah untuk diimani, bahkan oleh masyarakat yang hidup sezaman dengan Nabi. Penolakan, ejekan, dan keraguan kala itu adalah bukti bahwa iman memang menuntut keberanian, bukan sekadar logika.
Di titik ini, kita patut bersyukur. Kita tidak dibebani untuk menyaksikan langsung peristiwa yang berat diuji oleh akal. Kita diselamatkan dari pergulatan iman yang sedemikian dahsyat. Tugas kita hari ini jauh lebih ringan, sekaligus lebih menantang yaitu mengimani apa yang telah dikabarkan, lalu meneladani apa yang telah dicontohkan. Bukan membuktikan mukjizatnya, melainkan mempraktikkan nilai-nilainya.
Namun, peringatan Isra Miraj hari ini sering terjebak pada romantisme mukjizat, lupa pada tanggung jawab. Kita kagum pada keajaiban perjalanan, tapi enggan meniru ketekunan setelahnya. Padahal, sepulang dari langit, Nabi kembali ke bumi untuk menghadapi realitas yang sama, dengan misi yang lebih berat. Spirit Isra Miraj bukan mengajak manusia melarikan diri dari dunia, melainkan kembali ke dunia dengan kesadaran baru.
Di era yang memuja kecepatan, Isra Miraj mengajarkan kedalaman. Di tengah kebisingan opini, ia menawarkan keheningan. Dan di saat manusia sibuk membangun citra, ia mengingatkan pada esensi. Pertanyaannya kini sederhana sekaligus menggugat, apakah Isra Miraj hanya berhenti sebagai cerita langit, atau benar-benar menuntun langkah kita di bumi yang kian rapuh ini?
Mungkin, perenungan Isra Miraj yang paling jujur hari ini bukan tentang seberapa sering ia diperingati, melainkan seberapa jauh ia mengubah cara kita memaknai kesibukan, kesalehan, dan tanggung jawab sebagai manusia. Karena perjalanan paling sulit, seperti yang ditunjukkan peristiwa itu, bukanlah naik ke langit, melainkan pulang ke bumi dengan akhlak yang utuh.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
